30.5 C
Jakarta

Menelisik Motto Hidup Aktivis Muslim; “Hidup Mulia atau Mati Syahid”

Artikel Trending

KhazanahTelaahMenelisik Motto Hidup Aktivis Muslim; “Hidup Mulia atau Mati Syahid”
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Agama Islam telah mengajarkan kita semua untuk selalu hidup sesuai dengan ajaran Islam, mulai dari kebutuhan pangan, papan hingga berperilaku hidup di dunia. Berawal dari kalimat di atas, kita memiliki paradigma tersendiri untuk melegitimasi kelompok masyarakat muslim yang terbentuk. Dalam konteks ini, ada beberapa istilah yang sekiranya kita memahami dari kalimat tersebut untuk mengelompokkan masyarakat muslim. Istilah-istilah yang biasa kita dengar dalam kalangan umat muslim seperti jihad, hijrah, dan sejenisnya, menjadi cerminan dari sebuah kelompok untuk memetakan golongan muslim tersebut.

Dari kalangan Islam sendiri, Tariq Ramadan menerbitkan “Western Muslims and the Future of Islam” (2004). Guru besar studi Islam dari Universitas Oxford ini menjelaskan bahwa, “jihad” sebenarnya tidak seperti yang dipikirkan oleh para pihak yang memiliki prasangka negatif, sejak di dalam alam bawah sadarnya. Doktrin kesungguhan dalam Islam tersebut, bersifat mulia dan mengandung nilai universal yang sangat menghargai harkat dan martabat umat manusia. Artinya, pemaknaan jihad yang biasa kita lihat dari berbagai fenomena terjadi di sekitar kita, mengacu kepada gerakan-gerakan ekstremisme yang mengarah kepada hal stigma negatif kepada suatu kelompok.

Istilah di atas, hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh yang kita temui. Salah satu slogan yang pernah kita dengar adalah “Hidup Mulia atau Mati Syahid.” Slogan ini kalau kita pahami  lebih jauh muncul dari kalangan muslim yang hijrah dan berupaya untuk melakukan jihad secara penuh untuk memperjuangan Islam. kalimat ini memiliki arti bahwa, jika mereka tidak hidup di dunia dalam pemerintahan Islam atau syariat baik mati daripada terus hidup di dunia yang dalam keadaan bermaksiat dan dosa.

Upaya yang sangat kuat untuk mendirikan negara Islam, mendarah daging pada tiap-tiap individu di dalamnya. Hal ini akan memperkuat gerakan suatu organisasi untuk mewujudkan visi besar yang dibawa olehnya. Anggota di dalam organisasi ini, akan senantiasa bersusah payah untuk keluar dari kehidupan dunia karena tidak sejalan dengan Islam. Inilah yang menyebabkan ketidakberdayaan umat Islam dalam hidup.

BACA JUGA  Refleksi Sumpah Pemuda 2022: Berikut Karakter yang Harus Dimiliki oleh Anak Muda!

Utopia yang dimiliki oleh komunitas Islam yang sedang tidak berdaya, di tengah pelbagai tekanan, menyebabkan ia mengembalikan segala sesuatunya pada agama. Agama diyakini sebagai substansi abadi yang tidak lekang oleh zaman. Segala kesukaran yang berhubungan dengan ruang dan waktu, secara ideal tidak berlaku bagi agama. Mereka berpikir bahwa, dengan agama akan mengalahkan segala yang dianggap sebagai musuh. Proses inilah di mana ideologi terbentuk. Iman terhadap Tuhan yang Maha Absolut, hari akhirat, surga dan neraka, atau pendek kata, tentang sejarah keselamatan (the salvation history), tidak dapat dipungkiri bila berpotensi menjadikan ideologi sebagai masalah abadi (Arifin;2013).

Ideologi “agama”, adalah masalah yang akan selalu ada di setiap zaman. Secara lebih jauh, pada akhirnya kondisi dan situasi yang berat, di kemudian hari memberikan motivasi khusus sehingga tema-tema seperti “jihad” dan “peperangan” muncul sebagai diskursus ideologis. Makna slogan di atas, ketika menjadi sebuah kesimpulan kehidupan bahwa, cita-cita untuk mendirikan negara Islam, terpatri sangat kuat pada setiap individu yang berada di kelompok muslim ekstremisme.

Ideologi keagamaan yang berpotensi menjadi masalah abadi dalam kaitannya dengan radikalisme keagamaan, sesungguhnya lahir karena krisis kemanusiaan. Krisis kemanusiaan yang diartikan dalam koteks ini adalah ketidakpekaan individu dalam melihat keberagaman yang terjadi di sekitar. Belum lagi ketika dibenturkan dengan masalah-masalah global yang dilakukan oleh negara barat kepada umat muslim. Hal ini yang menyebabkan lahirlah kelompok agama yang eksklusif dan tidak ramah terhadap yang lain.

Padahal, secara kebutuhan, term kemanusiaan adalah sesuatu yang mutlak untuk diperjuangkan oleh umat muslim untuk menciptakan kemashlahatan. Sehingga dari sini, agama lahir sebagai jalan kehidupan yang memberikan cahaya, bukan sebaliknya.  Maka dari itu, sikap untuk menolak dan terus mengupayakan melawan para perampok Islam yang senantiasa mendirikan negara Islam adalah ikhtiar panjang yang terus dilakukan oleh kita semua. Fenomena Islam transnasional, radikal, terorisme dan sejenisnya, merupakan kelompok akan senantiasa menjadi musuh utama bangsa Indonesia. Sebab mereka akan menjadi peretak keutuhan NKRI. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru