32.2 C
Jakarta

Menolak Paham Ekstremis dengan Menggelorakan Islam Humanis

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMenolak Paham Ekstremis dengan Menggelorakan Islam Humanis
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Kerap kali kita saksikan orang-orang memiliki semangat beragama yang menggelora tetapi abai terhadap isu-isu kemanusiaan. Parahnya lagi, ia sering menjadi benalu bagi kehidupan sosial dan masyarakat, berbuat keonaran, sering menimbulkan keresahan dan bertindak anarkis. Terkadang, orang-orang semacam ini juga meyakini bahwa kebenaran ada dipihaknya sehingga orang lain yang tidak sepaham dengannya dianggap salah dan sesat.

Fenomena seperti ini, tidak bisa dianggap enteng. Pasalnya, ketika ada usaha untuk memonopoli kebenaran sehingga orang lain dianggap salah, maka sangat rentan sekali menuduh sesat dan bahkan kafir kepada orang lain yang tidak sefaham dengannya. Tidak hanya sampai disitu, pelebelan kafir tersebut pada akhirnya akan berujung kepada penistaan hak-hak kemanusian. Logikanya, kalo orang sudah dianggap kafir maka ia akan dianggap lebih rendah dan bahkan diyakini halal dibunuh.

Mirisnya, tindakan-tindakan tersebut biasanya muncul dari orang-orang yang mengaku telah nyunnah dan masuk Islam secara kafah. Mereka menganggap tindakan yang mereka lakukan adalah murni karena perintah agama dan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran mutlak. Dengan mengatasnamakan agama, mereka berani mencederai nilai-nilai kemanusian yang telah dianugrahkan Allah swt. kepada setiap manusia.

Kelompok-kelompok seperti inilah yang justru merusak citra Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Tindakan yang mereka lakukan sangat kontras dengan misi Islam untuk menebar kemaslahatan bagi manusia dan alam semesta. Islam terlihat sebagai agama yang garang dan melegalkan kekerasan berkat aksi-aksi yang dilakukan oleh orang-orang extremis macam ini.

Hal ini karena mereka hanya melihat Islam dari aspek hitam putih saja. Mereka belum mampu melihat sisi cinta kasih yang ditebarkan oleh Islam dan hanya terjebak kepada pemahaman literal yang dangkal dan cenderung konservatif.

Kemanusian Sebagai Fondasi Keberagamaan

Dahulu, ketika awal mula dakwah nabi dimulai, pernah ada seorang arab badui yang datang ke Mekkah setelah mengetahui kabar tentang Nabi Muhammad saw. Pada waktu itu, ia belum berstatus muslim dan bertujuan untuk menanyakan prihal ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Lantas beliau menjawab, “Menyambung ikatan persudaraan, mencegah pertumpahaan darah, mengamankan jalan lalu lalang orang, menghancurkan berhala dan menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan yang lain.”

Dari penggalan hadis ini, Rasulullah saw. memberikan kita pelajaran agar tidak memandang sebelah mata terhadap isu-isu sosial dan kemanusiaan. “Menyambung ikatan persaudaraan” mencerminkan misi Islam untuk menciptakan suasana masyarakat sekitar yang rukun dan damai. “Mencegah pertumpahan darah” berarti menjaga hak hidup dan “Mengamankan jalan” menjadi manifestasi dari tujuan Islam untuk mewujudkan rasa aman bagi semuanya.

Bahkan, ajaran mengenai kemanusiaan lebih awal dijelaskan oleh nabi sebelum menyebutkan misi tauhid yang beliau emban. Ini menunjukkan bahwa, dalam Islam, menjamin hak-hak kemanusiaan tidak kalah penting dengan menjaga spiritualitas. Pasalnya,  ajaran Islam memang diproyeksikan untuk mencetak pribadi yang tidak hanya saleh secara spiritual tetapi juga saleh secara sosial.

BACA JUGA  Melawan Propaganda Negara Thaghut: NKRI Selaras Dakwah Nabi!

Dalam hadis diatas, wajar kiranya jika Nabi Muhammad Saw. lebih memprioritaskan jaminan kemanusiaan dan keselamatan daripada ekspresi beragama. Bagaimana mungkin kita dapat melaksanakan ajaran agama dengan tenang jika kondisi lingkungan sekitar genting dan tidak aman?

Tak terhingga jumlahnya ayat-ayat dan hadis-hadis bahkan kisah nabi dan para sahabat yang mencerminkan Islam yang ramah dan penuh cinta. Keindahan Islam tidak hanya dirasakan oleh sesama manusia, bahkan makhluk lain seperti binatang pepohonan dan benda-benda mati juga turut merasakan keindahan Islam.

Agama dengan ekspresi beragama adalah dua hal yang berbeda. Agama merupakan perkara yang suci dan sakral. Sedangkan ekspresi beragama merupakan tindakan pemeluk agama serta interpretasi mereka terhadap agama itu sendiri. Karena berkaitan dengan interpretasi maka ia berpotensi untuk salah, sebagaimana juga berpotensi benar.

Meminjam istilah Haidar Bagir, Islam yang kita ekspresikan dan terapkan diistilahkan dengan Islam manusia. Adalah sebuah keniscayaan ketika kita melihat islam diekspresikan dengan oleh setiap orang lantaran ia sudah ditafsiri dan diinterpretasi sedemikian rupa. Karena ia bersinggungan dengan proes interpretasi (ijtihad) maka kebenaranya bersifat relatif. Hal ini senada dengan pernytaan Imam Syafi’i ra. yang mengatakan, “Pendapat selainku salah, tetapi masih mengandung kebenaran. Sedangkan pendapatku benar, namun mengandung kesalahan.”

Selain islam manusia, Haidar Bagir menyebut istilah Islam tuhan. Ia merupakan Islam hakiki berlandaskan cinta yang diproyeksikan untuk menebar kemaslahatan bagi umat manusia dan seluruh alam. Tidak seperti Islam manusia yang multi tafsir sehingga kebenarannya relatif, Islam tuhan berifat mutlak dan absolut. Pasalnya, sudah menjadi konsensus bahwa Islam dengan segala ajaran yang terkandung didalamnya bertujuan menjamin kemaslahatan manusia, di dunia maupun di akhirat.

Dengan memahami bahwa tujuan utama syariat Islam adalah untuk kemaslahatan manusia, maka tidak salah kita berasumsi bahwa kemanusiaan merupakan asas beragama. Bahkan Habib ali al-Jufri mengatakan bahwa kemanusiaan harus didahulukan sebelum keberagamaan. Ini berarti ekspresi beragama harus diletakkan dibawah dasar-dasar kemanusiaan.

Tidak dibenarkan melakukan tindakan anarkis dengan dalih membela atau menerapkan ajaran agama. mereka yang melakukan tindakan seperti ini telah melakukan dua kesalahan sekaligus; berbuat anarkis dan mengkambinghitamkan agama untuk melegalkan tindakan yang mereka lakukan.

Akhir kata, kebenaran agama sifatnya absolut, tetapi ekspresi dan interpretasi kita terhadap agama tersebut kebenarannya relatif. Oleh karenanya, jangan sampai perbedaan kita dalam memahami agama mengantarkan kita terhadap tindakan anarkis yang mengorbankan hak-hak kemanusiaan.

Muhammad Zainul Mujahid
Muhammad Zainul Mujahid
Peminat Kajian Fikih Ushul Fikih, Mahasantri Ma’had Aly Situbondo.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru