31.5 C
Jakarta

Sustainability Kader HTI melalui Proses Dakwah di Lapas

Artikel Trending

KhazanahTelaahSustainability Kader HTI melalui Proses Dakwah di Lapas
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Sudah banyak informasi yang diberikan oleh penulis terkait kegiatan Yayasan Cinta Quran Foundation dan Indonesia Bisa Ngaji yang bertujuan untuk terus menggemakan ideologi khilafah. Dari sekian banyak narasi yang sudah disampaikan, beserta bukti kegiatan yang cukup real. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana setelah mengetahui seluruh kegiatan yang dilakukan oleh para aktivis HTI tersebut?

Sustainability kader HTI

Lapas adalah ruang strategi untuk berdakwah. Masyarakat lapas akan dengan mudah menerima konten dakwah yang diberikan oleh para mantan HTI tersebut. kalau kita amati seksama pergerakan yang mereka lakukan bertujuan untuk keberlanjutan kader HTI di masa yang akan datang. Atas dasar itu, bisakah HTI bangkit lagi dan membuktikan bahwa pemerintah tidak melaksanakan tugasnya dengan baik untuk Indonesia?

Pada kenyataannya, HTI secara organisasi tidak akan bangkit. Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat sipil untuk berupaya memusnahkah pergerakan yang mereka lakukan. Tapi tetap saja, kita semua kecolongan dengan strategi yang mereka lakukan, karena mereka memakai jubah yang berbeda dari organisasi HTI. Reinkarnasi yang mereka lakukan untuk terus menyebarkan ideologi khilafah dengan tidak membawa nama khilafah pada setiap organisasi, Lembaga yang mereka bentuk. Meskipun demikian, mereka tetap membawa nilai Islam untuk dijual kepada masyarakat agar menarik perhatian mereka.

Sebenarnya, kebangkitan HTI juga sudah dimulai sejak mereka dibubarkan secara organisasi. Dari jauh-jauh hari, Lembaga yang didirikan oleh para aktivis HTI sudah dipersiapkan sebagai batu loncatan untuk terus menggaungkan ideologi. Kalau kita lihat beberapa informasi seperti BWA (Badan Wakaf Al-Qur’an) didirikan pada tahun 2005 oleh Heru Binawan, Yayasan Cinta Quran Foundation didirikan tahun 2014 Fatih Karim.

Dua Yayasan tersebut contoh kecil dari Lembaga yang didirikan oleh seseorang yang, sejak zaman baheula sudah keukeuh mendirikan negara Islam di Indonesia. Sampai disini kita bisa memahami bahwa, gerakan, program, ataupun kegiatan yang mereka lakukan merupakan upaya agar HTI tetap sustainable menghadapi penolakan semacam apapun. Perlawanan yang kita lakukan untuk memberantas khilafah di Indonesia, berbanding lurus dengan upaya yang sudah dilakukan oleh pihak mereka.

BACA JUGA  Merayakan Maulid Nabi dari Kafe

Apa yang bisa kita lakukan?

Melihat betapa strategisnya dakwah HTI di lapas, kesadaran yang perlu ditanamkan oleh kita semua tentang kehidupan di lapas sangat penting. Jika kesejahteraan tidak bisa diberikan oleh pemerintah, maka masyarakat sipil perlu memiliki keprihatinan dan kepekaan sangat besar untuk menangkan ideologi radikalisme tersebar di lapas. Bagaimanapun, kondisi nara pidana yang sedang di lapas, seperti yang sudah saya tulisan sebelumnya, merasakan disorientasi dan dilematis untuk menghadapi kehidupan selanjutnya.

Masuk dan memberikan program nyata kepada para nara pidana yang sedang di lapas adalah tindakan sangat bermanfaat untuk memusnahkan pergerakan HTI. Hal ini perlu dilakukan oleh pemerintah yang bertugas untuk mengelola lapas. Karena pemerintah sudah kecolongan oleh program yang sudah mereka lakukan, maka tugas masyarakat sipil untuk ikut andil dalam melakukan upaya memusnahkan kegiatan yang mereka lakukan.

Meskipun demikian, narasi untuk menyebarkan aksi yang dilakukan oleh para aktivis HTI sangat penting untuk disebarkan. Kita butuh euforia yang sangat besar bahkan berlebihan untuk memberikan informasi kepada khalayak bahwa kegiatan HTI terus berjalan dan menjamin kesejahteraan masyarakat lapas.  Sebab tidak banyak orang yang tahu bahwa kegiatan para HTI terus tersebar dan menyasar kelompok yang tidak pernah kita duga seperti di lapas. Bahkan, beberapa Lembaga yang mensupport kegiatan mereka adalah Lembaga pemerintah sendiri seperti BUMN. Melihat kondisi ini, maka kita juga perlu untuk menjadikan lapas sebagai sasaran program bagi para masyarakat sipil, Lembaga non pemerintah seperti Yayasan ataupun organisasi yang sejalan dengan pemerintah Indonesia dan tidak menolak Pancasila.

Siapa yang bisa menjamin bahwa berapa banyak dakwah yang dilakukan oleh para aktivis khilafah untuk menyebarkan ideologinya? Tanpa jubah HTI, mereka menjelma sebagai pendakwah ataupun orang yang peka terhadap kehidupan masyarakat di lapas. Cara yang paling ampuh justru melakukan kegiatan serupa, memberikan program nyata kepada masyarakat di lapas untuk menjamin kesejahteraan kehidupan. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru