31.5 C
Jakarta

Dakwah di Lapas oleh Mantan HTI: Proyek Masterpiece Aktivis Khilafah

Artikel Trending

KhazanahTelaahDakwah di Lapas oleh Mantan HTI: Proyek Masterpiece Aktivis Khilafah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Sudah banyak kegiatan para eks HTI di lapas yang perlu kita pahami bahwa, gerakan aktivis khilafah menyasar kepada semua spektrum kegiatan. Kegiatan yang dilakukan melalui Yayasan Cinta Quran Foundation dan Indonesia Bisa Ngaji adalah bukti bahwa, eks HTI sudah lama memiliki ruang untuk terus berdakwah dan menyebarkan ideologinya. Militansi mereka terhadap pendirian negara Islam, terus mengalir dari masa ke masa, dan berupaya memperbanyak aktor agar ideologi tersebut tetap hidup.

Untuk memahami gerakan yang dilakukan oleh mereka, ada beberapa aktor penting yang berperan sebagai pendoktrin untuk agar bisa mengajak orang lain untuk memperjuangkan khilafah. Sejauh ini ada beberapa nama yang bisa kita kenal, di antaranya: Fatih Karim sebagai Dewan Pembina, ketua Yayasan Hadi Azis Pratama, sekretaris Ivan Sopian, Bendahara Ayu Lestari, Editorial Jajajng Hartono dan Ulfa Mu’adhotin Qori’ah, content management Fikar Harakan dan Aulia Nur hasan, Fotografer Fatih Solahuddin, Distributor Syafaat Nuryadi, Helmy Oky Purnama dan Boby Kurniawan, Kontributor Ulfa Mu’adhtoin Qori’ah, Dita Nevianti, Muhammad Zainuddin, Ali Rahmat, Amanda Dwi Praharani, Faqih Zulfikar, Fatih Solahuddin, Dinah Asraf Anaqah Syam, Lola Siti Hadriani, Siti Kharismayanti, dan Siti Sholihat. Sementara di Yayasan Indonesia Bisa Ngaji, ada Rezaldi Harisman, Nurdin Soga, Indra Lesmana, Hasan Syarif Nugaraha dan Khoiril Amin.

Mengetahui nama-nama tersebut, kita bisa memahami bahwa gerakan Yayasan Cinta Quran Foundation, memiliki visi besar dalam dakwah yang dilakukan yakni membumikan khilafah dalam segala ruang, termasuk di lapas. Sebab dakwah di lapas, luput untuk kita pikirkan oleh para pendakwah yang memiliki nasionalisme. Ruang dakwah di lapas terkadang sama sekali tidak disentuh oleh kita dengan alasan beberapa hal, termasuk akses untuk berdakwah di forum tersebut.

Dari sekian banyak program yang dilakukan oleh Yayasan Cinta Quran Foundation dan Indonesia Bisa Ngaji, perempuan menjadi sasaran utama oleh para eks HTI untuk berdakwah di lapas. Hal ini bisa dilihat pada kegiatan yang dilakukan 1 Agustus 2022 silam di LPP kelas IIA Bandung. Mereka melaksanakan kajian dan pelatihan membaca al-Quran dengan metode tahrir kepada 30 narapidana perempuan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 2022, dengan penanggung jawab Firdaus, pengurus Yayasan Cinta Quran Foundation.

BACA JUGA  Pekerja Migran Indonesia Rentan Terpapar Terorisme, Mengapa Demikian?

Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sangat ciamik untuk menyasar perempuan yang sedang mengalami disorientasi hidup, utamanya masalah keagamaan. Dilema kehidupan atas kesalahan yang dilakukan di masa silam, secara psikologi, perempuan penghuni lapas memiliki tekanan yang cukup berat, baik selama dalam tahanan, ataupun ketika menghadapi masa bebas dari tahanan. Kondisi ini bukan berarti diartikan bahwa, narapidana laki-laki tidak memiliki tekanan piskologis. Laki-laki ataupun perempuan sama-sama memiliki tekanan psikologis.

Fase kehidupan di lapas, menyebabkan seseorang berada dalam tekanan di mana ia terisolasi dari lingkungan biasa di mana ia melakukan aktivitas dan berinteraksi dengan banyak orang. Masa transisi, antara hidup yang normal, kemudian menjalani kehidupan di lapas, ditambah dengan stigma sosial yang diterimanya di kemudian hari, membuat mereka mengalami keresahan dan kehilangan jati diri. Tidak hanya itu, kehidupan nyaman sebelumnya tidak bisa dirasakan lagi. Mereka jauh dari keluarga, tidak ada lagi aktivitas yang dilakukan sebelumnya. Hidup mereka hanya berada di balik jeruji besi dan memandang atap lapas selama kurun waktu yang cukup lama.

Ketika kondisi ini dimanfaatkan oleh para aktivis khilafah yang berdakwah di lapas, seperti yang dilakukan oleh Yayasan Cinta Quran Foundation, posisi mereka sangat strategis, seperti seorang dokter yang membawa obat dan memberikan harapan bagi mereka untuk hidup di hari esok. Segala bentuk kegiatan agama, seperti halnya belajar mengaji, pasti mereka ikuti. Hal ini karena kondisi kekosongan yang dialami oleh para perempuan di lapas, membuat mereka semakin memiliki militansi yang cukup tinggi untuk belajar agama.

Dengan demkian, kegiatan dakwah yang menyasar perempuan di Lapas sangat bisa dikatakan sebagai proyek masterpiece eks HTI. Kehadiran mereka seperti oase di gurun pasir yang panas. Para masyarakat lapas merasa bahwa kehadiran program dakwah itu adalah ajang untuk memperbaiki diri, menemukan kembali jati diri yang sudah lama hilang. Maka tidak salah, ketika proyek dakwah di lapas tersebut terus dilakukan, ekspansi penyebaran ideologi khilafah tetap menyala. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru