32.2 C
Jakarta

Azyumardi Azra: Akademisi yang Paripurna

Artikel Trending

KhazanahResonansiAzyumardi Azra: Akademisi yang Paripurna
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Saya mendapatkan kabar wafatnya Azyumardi Azra Ahad 18 September 2022, saat di perjalanan pulang bersama keluarga dari Cirebon menuju Jakarta sekitar pukul 11.45. Meski setengah tak percaya, kemungkinan beliau bisa wafat memang ada, karena mendapatkan serangan jantung di pesawat yang berangkat dari Jakarta menuju Kualumpur, Malaysia,  yang tentu tidak akan cepat teratasi secara medis.

Kabar itu tentu membuat saya dan banyak sekali para juniornya, juga para koleganya bersedih, mengingat itu adalah kehilangan besar. Bukan saja kehilangan besar bagi kelembagaan UIN Jakarta, melainkan juga umat, bangsa, dan negara, karena perannya yang tinggi selama ini, terutama lewat berbagai  karya akademiknya, baik buku maupun artikel.

Juga lewat berbagai kegiatan civil society dan juga manajerialnya. Wajar, jika karangan bunga ucapan duka cita pun amat banyak, yaitu terpampang dari sekitar rumah di komplek perumahannya sewaktu masih hidup hingga depan Fakultas Kedokteran/MP UIN Jakara. Jumah yang hadir di takziah virtual malam pertama melalui Zoom pun berjumlah lebih dari 1000 orang.

Tulisan ini untuk mengenang Almarhum. Hingga kini sudah banyak tulisan mengenai beliau, baik untuk mengenang beliau tak lama setelah wafatnya maupun yang tercantum dalam Buku 66 Tahun Azyumardi Azra, CBE: Karsa untuk Bangsa yang terbitkan Penerbit Kompas setahun yang lalu, 2021. Bagi saya, sisi Azyumardi Azra sebagai akademisi yang lengkap belum ada/banyak yang membahasanya, karena hemat saya sisi itulah yang paling tampak yang membedakannya dengan yang lain.

Akademisi Paripurna

Almarhum Kak Edi–demikian biasanya beliau dipanggil para juniornya–adalah salah satu dari sedikit akademisi yang karyanya punya banyak distingsi/orisinalitas, terutama argumennya yang jernih, punya kedalaman, kritisisme, kaya bahan bacaan, dan  tentu saja punya sisi signifikansi. Saat ditanya oleh akademisi lain di luar UIN Jakarta, apa yang membedakan Azyumardi dengan para pendahulunya seperi Harun Nasution atau Nurcholish Madjid, saya menjawab dengan mantap kajiannya atas Islam di Indonesia, lama dan baru.

Terutama  melalui karya disertasinya yang versi Indonesianya diterbitkan Mizan lalu Prenada berjudul: Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII. Karya ini merupakan karya rintisan yang komprehensif dan mendalam (akademik) di isu yang sebelumnya agak terlantar. Dengan merujuk pada teks Arab, tertama Arab pagon, Islam di Asia Tenggara terutama di Nusantara tidak lagi dianggap pinggiran, tetapi punya sisi orisinalitas ketimbang Islam di Timur Tengah, terutama moderasi Islamnya.

Karya intelektual Islam di Nusantara tidak hanya sebagai kepanjangan tangan Islam di Timur Tengah semata. Selain ditandai oleh penggunaan bahasa Melayu melalui huruf Arab Jawi/pagon, tipogi sufisme yang berkembang di Indonesia abad ke-17-18, tegas Azyumardi,  adalah neosufisme yang sesuai syariah dan kajian hadis. Para ulama penggusungnya pun seperti ar-Raniri, as-Sinkili, dan al-Makassari adalah para perintis pembaharuan Islam di Nusantara yang nanti terus berlanjut.

Bahkan, saat didalami, pandangan Azra itu benar, karena dalam soal keadilan jender misalnya, karya seperti Taj as-Salathin karya Bukhari al-Jauhari dan juga Bustan as-Salahthin karya ar-Raniri lebih sesuai, ketimbang para ulama Saudi Arabia kala itu, meski kedua buku itu dipengaruhi juga  Nashihat al-Muluk Imam al-Ghazali.

Karyanya yang lain di bidang yang sama  yang menekankan keragaman Islam dengan argumentasi yang kuat bisa dilihat dari tulisannya tentang Syiah di Indonesia lama di Jurnal Ulumul Qur’an. Ia menolak tesis bahwa hubungan kekerasan antara Syiah dan Sunni di Kerajaan Perlak dan Pasai Aceh.

Tesis ini, tegas Azra, tidak punya argumentsi yang kuat, kecuali karena  terlalu percaya pada cerita rakyat , tanpa diuji dulu kebenarannya. Hubungan Sunni dan Syiah di Timur Tengah saja, tegas Azyumardi, kalaupun konflik hanya konflik kultural dalam soal furu’iyah (bukan pokok) keagamaan di tingkat masyarakat. Baik saat di bawah penguasa Sunni maupun Syiah, kaum Sunni dan Syiah dilindungi.

Karya di bidang Islam Nusantara lama/terutama jaringan ulama di atas melicinkan jalan bagi para pengkaji Islam di Nusantara klasik, bahkan Asia Tenggara, bagi para juniornya di Indonesia, karena Azyumardi juga bicara ulama Islam di Patani, Thailand Selatan. Mereka seperti Jajat Burhanuddin dan Oman Fathurahman pun berhutang budi banyak pada Azyumardi.

Tentu saja kajian Azyumardi atas Islam hubungannya dengan kemodernan dan ke-Indonesia-an yang terbit di banyak buku dan artikel belakangan lebih diperhatikan lagi oleh publik, sebagaimana pendahulunya seperti Nurcholish Madjid dan Dawam Rahardjo. Wajar, jika itu membuatnya memperoleh penghargaan dari Barat dan Timur.

BACA JUGA  Relasi Sosial Hizbut Tahrir dan Militer di Indonesia (Bagian VI)

Di antaranya Commander of the Most Excellent Order of British Empire (CBE) dari Ratu Ingris (2010) dan Order of the Rising Sun dari Kaisar Akihito dan PM. Shinzo Abe, Jepang (2017). Di lanskap politik di Indonesia kontemporer, Azumardi terutama sejak menjadi Rektor UIN Jakarta 1998-2006)  dikenal sebagai pengamat sosial budaya dan politik yang handal.

Puluhan buku dan ratusan artikel pun telah lahir dari tangannya. Produktivitasnya tak diragukan lagi. Tulisanya pun sering sekali mewarnai harian dan media massa nasional seperti Kompas dan Republika dan itu membuat malu  para yuniornya, karena beliau mulai bekerja dari mulai jam tiga pagi.

Saya secara pribadi, meski punya hutang budi pada karya yang disebut di atas untuk proses pengajaran Sastra Islam Nusantara atau sastra banding Arab-Indonesia, juga terutama pada karyanya dalam bidang politik Islam modern di Indonesia ini. Ada dua buku saya yang diberi pengantar oleh Azyumardi Azra:  Islam dan Demokrasi: Telaah Konspetual dan Historis (2002) dan Buku  Islam dan Politik di Indonesia Terkini (2013).

Maka, salah satu yang disampakan Azyumardi pun: merumuskan atau mewacanakan Islam dan politik di Indonesia, harus diakui, merupakan sesuatu yang tidak mudah. Alasannya, karena harus menguasai tiga variabel tidak secara parsial: politik, Islam, dan Indonesia. Ketiganya harus dikuasai dengan memadai. Ketimpangan penguasaan atas ketiganya akan melahirkan sebuah rumusan/kesimpulan yang keliru sebagaimana yang tampak dari sebagian para pengamat Islam dari kalangan Barat atau kaum konservatif dan fundamentalisme dalam masyarakat Islam.

Azyumardi bukan hanya akademisi/intelektual murni, melainkan mampu memadukan kemampuan akademiknya dengan kemampuan manajerial yang baik. Sisi itu bisa dilihat dari banyaknya kelembagaan yang didirikan atau dibesarkannya. UIN Jakarta saat ini, baik gedung atau prodinya adalah mimpi Azyumardi yang menjadi kenyataan.

Seolah ia ingin mengatakan manajemen kampus harus berawal dari mimpi, tetapi harus diturunkan dalam tindakan nyata bersama staf untuk mewujudannya. Ia mewujudkan mimpi Harun Nasution yang ingin mengintegrasikan ilmu di IAIN kala itu secara sempurna dengan menjadi uiniversitas. Dengan begitu, mengkaji sains modern terutama IPA sebagai kajian atas sunnatullah (hukum alam sebagai ciptaan Allah), sebagai ayat-ayat kauniyah (bukti keberadaan Allah di alam), menjadi kenyataan, tidak hanya ayat-ayat qauliyah (firman Allah) semata yang dikaji.

Dengan begitu juga, sebagaimana ditekankan Azyumardi, peran umat Islam, terutama kaum santrinya  di dunia kerja dan peradaban Indonesia modern menjadi lebih luas dan nyata. Azyumardi  bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk merehab, menambah, dan membangun gedung baru di tempat baru dengan detail arsitekturnya, sehingga UIN Jakarta memiliki gedung-gedung megah yang kita kenal saat ini.

Selain UIN sebagai lembaga besar, Azyumardi juga berada di balik kehadiran banyak lembaga otonom milik UIN Jakarta, sebagiamana banyak LSM di luar kampus. Misalnya PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat), ICCE (Indonesian Center for Civic Education), daan CSRC (Center for Study of Religin and Culture).

Almarhum Azyumardi juga adalah sosok yang punya kepeduliaan pada juniornya yang menjadi kadernya. Ia pun bukan hanya rajin memberi informasi beasiswa di Eropa Barat dan Amerika Utara, melainkan ringan tangan untuk membantunya dengan memberi rekomendasi. Termasuk di dalamnya memberi pengantar buku-buku para juniornya. Bahkan, saat menjadi rektor, para dosen yang kepangkatan akademiknya sempat tersumbat oleh karena sikap suka atau tidak suka dari pejabat dekan di bawahnya, dibantu Azyumardi, hingga bisa naik pangkat.

Meski kiprahnya mendapat pengakuian nasional dan internasional, gaya hidupnya sederhana, bahkan cenderung asketik, meski sesuai hadis Nabi memagari keluarga dengan kemapanan ekonomi. Karena sikapnya yang sederhana, Azyumardi pun punya integritas yang tinggi dan punya independensi saat mengamati persoaan sosial politik di Indonesia.

Ia bahkan tidak suka dengan siap memecat pejabat di bawahanya yang tidak bisa menjaga nafsu dengan menikah lagi secara poligami, karena inti pernikahan dalam Islam menurutnya adalah monogami. Belakangan, Azyumardi bahkan rajin menjadi khatib juga di berbagai masjid strategis. Semoga Almarhum mendapat rahmat Allah sepenuhnya, mendapat balasan surga dari Allah.  Saya pun bersaksi beliau adalah orang baik. Wallah a’lam.

Prof. Dr. Sukron Kamil, M.Ag.
Prof. Dr. Sukron Kamil, M.Ag.
Guru Besar FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru