26.4 C
Jakarta

Sebuah Perjalanan (Bagian I)

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Mengintip Senja Berdua. Pagi itu rasanya begitu cepat bersua. Bayang-bayang halaman sekolah tempat belajar dan rumah Ma’ Onang tempat biasa bermain tak kunjung sirna. Bayang-bayang itu begitu kuat menyusup ke alam bawah sadar seakan sulit dilupakan.

“Div, siap-siap!” suara Ummi samar-samar terdengar dari dalam dapur, “Orang-orang udah pada datang.”

“Diva sudah siap, Mi.” Diva berkata dengan nada kesal.

Mengapa pagi ini begitu menyebalkan. Tak ada rasa kebahagiaan yang datang menghiburku. Tuhan, aku lagi bingung antara menuruti kemauanku: memilih kabur. Atau membahagiakan orangtua: memenuhi segala bentuk keinginan mereka. Tapi, aku tidak mau disebut anak durhaka karena menyakiti hati mereka.

Diva, putri sulung seorang Kyai kampung dan tokoh masyarakat. Pesantren dan lembaga formal di rumahnya adalah warisan turun-temurun dari kakek dan buyutnya. Sebagai warisan, tidak diperkenankan selain keluarga Kyai mengasuh pesantren ini. Karena pesantren yang dipimpin oleh selain keturunan Kyai akan kehilangan karisma di mata masyarakat, paling tidak berkurangnya kepercayaan masyarakat. Amanah ini terus dipegang oleh Abah.

Anak sulung memang selalu menjadi tumpuan harapan masyarakat memimpin pesantren, apalagi anak Kyai asli, bukan anak asuhan. Masyarakat memercayai peribahasa: “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Kyai yang karismatik dan amanah akan selalu menurun sifat terpujinya kepada anak-anaknya sendiri. Termasuk Diva yang diharapkan menjadi penerus Abah di tengah-tengah masyarakat.

Berpuluh-puluh masyarakat berduyun-duyun mengantarkan Diva berangkat ke Pesantren Annuqayah, sebuah pesantren besar di Madura. Annuqayah didirikan oleh Kyai Moh. Syarqawi, seorang pendatang dari kota Kudus, Jawa Tengah, pada 1887. Kyai Syarqawi muda sebelum mendirikan pesantren pernah menuntut ilmu di berbagai pesantren di Madura, Pontianak, merantau ke Malaysia, Patani (Thailand Selatan), dan bermukim di Mekah. Perantauannya dalam menuntut ilmu ini dilalui kurang lebih selama tiga belas tahun.

Tahun 2009 Diva mulai menginjakkan kaki di pesantren. Banyak santri berlalu lalang, mobil berderet rapi diparkir di halaman masjid, sementara motor berjajar di area parkir yang berbeda. Tak terhitung banyaknya. Diam sejenak, Diva melihat dua menara masjid pesantren menjulang tinggi mencakar langit.

“Menaranya tinggi banget,” Ucap Diva takjub.

Masjid pesantrennya besar, dibangun dengan gaya arsitektur modern. Sementara Diva belum cukup banyak mengenalnya. Tembok masjid berhiaskan kaligrafi Arab yang indah dan memukau seakan-akan membius matanya untuk tidak mau berhenti menatap.

Bilik-bilik santri berjajar panjang, baju-baju bergantungan di tempat penjemuran. Dapur makan terlihat kumuh. Biasanya beberapa santri rata-rata makannya berbarengan pakai talam besar yang memuat lima atau enam orang.

Beragam budaya terbingkai di pesantren, mulai dari budaya pedesaan hingga perkotaan. Karena tidak dapat dipungkiri, santri yang belajar di sana datang dari daerah yang berbeda-beda. Perbedaan ini bertemu, bersatu, dan menguat. Perbedaan budaya di pesantren jarang menimbulkan konflik, melainkan saling menyatu untuk menggapai tujuan yang sama, yakni membumikan Islam yang moderat dan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).

Adanya saling menghargai satu sama lain  di kehidupan pesantren menggambarkan layaknya serambi Indonesia yang menganut semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.” Maka dengan demikian, pesantren terus berkembang dan membumi di negara pluralistik ini. Bahkan, pesantren mendapat apresiasi di Nusantara dengan momentum Hari Santri Nasional.

“Mari kita sowan ke dalem Kyai!” Abah mengajak masyarakat yang mengantarkan Diva ke pesantren. Diva mengikuti Ummi.

Beberapa menit melangkahkan kaki, tampak bangunan rumah sederhana, halamannya tidak begitu luas tapi bersih. Sementara di sekitar rumah ada kebun salak dengan daun yang melambai-lambai. Terlihat mobil yang diparkir di garasi. “Ini rumah Kyai yang mengasuh pesantren ini, Div.” Ummi berdesis.

Diva terdiam.

“Diva nanti akan ketemu temen baru di sini. Bisa belajar bersama. Bisa main bersama.” Ummi menyemangati Diva yang kelihatan murung.

Pikiran Diva meraba kampung halaman, bahkan Nur, Hakim, dan Aina, teman-teman belajar dan bermain. Diva seolah ingin menumpahkan rasa sesal dengan cucuran air mata di hadapan Ummi, namun ia tidak mau Ummi sedih melihat buah hatinya yang juga sedih, sekalipun sejak berangkat Ummi sudah merasakan gejolak hati Diva.

Tak lama berdiri di halaman rumah Kyai, terlihat dari jauh lalu makin dekat seorang berpeci putih sambil mempersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Dialah Kyai Warits. Masyarakat mendekat dan menarik tangan Kyai sembari menciumnya, termasuk Abah. Diva hanya menatap sekejap, karena Diva, Ummi, dan rombongan putri akan duduk berlainan dengan rombongan putra.

Memandang Kyai Warits menggugah hati Diva. Rona wajahnya menyenangkan. Tampak bekas sujud di sepertiga malam guna mendoakan santrinya, bahkan terpancar pengetahuan yang luas di petala hatinya.

Aura sang Kyai sedikit mengobati dan menghibur rasa kesal. Diva mulai merasakannya. “Diva berapa lama di sini, Mi?” tanya Diva saat memasuki lingkungan pesantren putri.

“Satu minggu, Div.” Ummi terpaksa berbohong untuk menghibur Diva agar kerasan dan senang belajar di pesantren.

“Kenapa dia nangis, Mi?” tanya Diva kembali sambil menunjuk seorang santri yang bercucuran air mata sedih di pangkuan orangtuanya.

Ummi mengalihkan pembicaraan. “Ini uang sakunya. Budayakan menghemat, Div. Hemat pangkal kaya.”

Diva diam dan membatin.

Tuhan, aku tidak mengerti, apa maksud semua ini? Aku tiada henti menunggu jawaban-Mu. Kenapa hati ini begitu sulit bersahabat dan menginjakkan kaki di tempat ini. Ini pesantren, tempat para insan menimba ilmu? Ataukah ini penjara yang membatasi kreativitas dan kebebasan? Aku tidak ingin hidupku pilu tanpa secercah cinta.

Akhirnya masyarakat meninggalkan Diva di antara teman-teman baru yang belum saling kenal. Sedih.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru

Hayya ‘Alal Jihad, Mari Berjihad Berantas FPI!

Boleh jadi, setelah membaca tulisan ini, atau sekadar membaca judulnya saja, Hayya ‘Alal Jihad, sementara orang akan berkomentar: “Bocah kemarin sore kok mau bubarkan...

Israel Musnahkan Tangga Bersejarah Masjid Al-Aqsa

Harakatuna.com. Yerusalem - Pemerintah Kota Yerusalem Israel menghancurkan tangga bersejarah yang mengarah ke Bab Al-Asbat, Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem. Penghancuran tangga bersejarah ini...

Benarkah Ulama Itu Harus Jadi Oposan Pemerintah?

Saya pikir, hari ini kita sedang berada dalam kegamangan berbagai masalah kenegaraan yang tidak kunjung usai. Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru sudah terpilih,...

Video Hayya Ala Al-Jihad Bagian dari Penyalahgunaan Agama

Harakatuna.com. Jakarta – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi menyebut seruan jihad yang dilantunkan seorang muazin saat melantukan azan Hayya Alal Jihad dalam video...

Hukum Menambah Kalimat Adzan “Hayya Ala Al-Jihad“, Bolehkah?

Dunia media media sosial kembali dihebohkan dengan penambahan lafal adzan “Hayya ala Al-Jihad” oleh simpatisan ormas Islam di Petamburan, Jakarta. Tentu penambahan adzan ini...

GP Ansor DIY Tolak Radikalisme dan Intoleransi

Harakatuna.com. Sleman - Barisan Ansor Serba Guna (Banser) dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor DIY berkomitmen untuk menjaga ketentraman dan kondusivitas keamanan dan ketertiban masyarakat...

Mengapa Teroris MIT Berulah Kembali?

Kini, masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi Tengah sedang berduka. Pasalnya, kehidupan seseorang (hak asasi) di sana dengan mudahnya direnggut oleh sekelompok teroris. Kelompok teroris...