27.8 C
Jakarta

Melihat Potensi Perpecahan Pasca Pemilu

Artikel Trending

KhazanahTelaahMelihat Potensi Perpecahan Pasca Pemilu
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com Pasca penayangan film Dirty Vote pada Minggu (11/02) kemarin, seluruh elemen masyarakat ramai. Di media sosial, banyak sekali organisasi atau masyarakat sipil meramaikan cuitan dengan menyoroti mundurnya demokrasi di Indonesia. Film yang ditayangkan pada masa tenang itu, membuat masyarakat geger dengan berbagai argumen dan data yang sudah disampaikan dalam film tersebut.

Menurut hemat penulis, film ini cukup menjadi sarana pendidikan politik yang sangat ciamik untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Meski begitu, data yang disajikan dalam film tersebut menyorot satu paslon tertentu, di mana berpotensi besar menciptakan kegaduhan bagi para pendukungnya. Kenyataan ini membuat masyarakat terpolarisasi dengan begitu lebar dan cukup menegangkan.

Hal ini bisa dilihat dari tanggapan dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran yang merasa tersinggung dengan kehadiran film dokumenter ‘Dirty Vote’ yang berisi dugaan kecurangan di Pemilu 2024. TKN menyebut sebagian besar isi film itu adalah fitnah.

“Perlu kami sampaikan bahwa sebagian besar yang disampaikan film tersebut adalah sesuatu yang bernada fitnah,” kata Wakil Ketua TKN Prabowo-Gibran, Habiburokhman, dikutip dari detikNews, Senin (12/2/2024).

Respons ini sebenarnya sangat disayangkan mengacu kepada tiga aktor yang terdapat dalam film tersebut adalah orang yang bergerak dalam bidang hukum. Film yang menyajikan data dan fakta tersebut, cukup jelas terlihat bagaimana skenario yang akan terjadi pada Pemilu yang akan datang.

Meski begitu, TKN Prabowo-Gibran akan merasa sangat dirugikan karena film ini tayang menjelang Pemilu kurang dari 3 hari. Artinya, adanya film ini bisa jadi akan memperkuat perspektif kita tentang politik dinasti yang selama ini dipermasalahkan dengan majunya Prabowo-Gibran ke arena Pilpres. Bahkan bisa membuat persepsi masyarakat akan berubah ketika mengetahui fakta yang ada.

Analisis pra Pemilu ini, menuntut masyarakat untuk bersikap bijak dalam menghadapi kontestasi demokrasi. Artinya, kehadiran film ini tidak untuk membuat gaduh masyarakat dengan pilihannya. Namun, justru membuat kita lebih melek lagi terhadap kondisi politik yang sedang terjadi di Indonesia.

BACA JUGA  Keluarga Mubadalah: Pendekatan dalam Pencegahan Ekstremisme pada Anak

Jaga Persatuan dan Kesatuan pada Pemilu

Seperti yang kita ketahui bahwa, konflik kepentingan yang dimiliki oleh setiap orang terkait keterlibatannya dalam ranah politik pasti ada. Artinya, pada pemilihan presiden, ketiga paslon yang saat ini sedang mencalonkan diri sebagai presiden dan wakil presiden, adalah orang yang sedang berebut kekuasaan.

Dengan melihat fakta ini, sebagai masyarakat kita tidak perlu mati-matian bahkan saling bermusuhan untuk mendukung salah satu calon. Apalagi, jika kita bukan juru kampanye, atau bukan seorang politisi, menjaga persatuan dan perdamaian adalah tonggak utama dalam Pemilu.

Di samping itu, setiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk memilih. Artinya, ketika seseorang memutuskan untuk memilih salah satu paslon, salah satu alasan yang menyertainya adalah karena tergerak hati nuraninya dengan mengimajinasikan Indonesia di masa yang akan datang. Lagi-lagi pilihan setiap orang akan berbeda. Tidak perlu saling mencaci hanya karena beda pilihan. Sikap saling menghormati atas perbedaan pilihan ini sangat penting untuk kita miliki sebagai masyarakat.

Pasca Pemilu, kebencian, permusuhan, tidak boleh ada yang tersisa. Maka dari itu, penting bagi setiap kelompok masyarakat untuk memperbanyak ruang dialog dan berdiskusi, serta membuka ruang pertemuan agar masyarakat bisa memahami setiap perbedaan yang ada untuk terus merangkul dan bergandengan tangan.

Pemilu memang puncak dari sistem demokrasi, namun yang lebih penting dari Pemilu adalah tetap menjaga kerukunan antarmasyarakat. Sebab bagaimana pun, siapa pun presidennya, kita semua akan menjadi rakyat dari pilihan presiden yang kita pilih atau yang bukan kita pilih. Wallahu A’lam.

Muallifah
Muallifah
Aktivis perempuan. Bisa disapa melalui Instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru