27.8 C
Jakarta

Ketika Pengasong Khilafah Ikut Berkomentar Soal Holywings

Artikel Trending

KhazanahTelaahKetika Pengasong Khilafah Ikut Berkomentar Soal Holywings
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Isu soal Holywings menjadi perbincangan yang cukup banyak di beranda media sosial. Hal ini karena adanya promosi yang dilakukan oleh pihak manajemen yang menggunakan nama “Muhammad” dan “Maria”.

Promosi itu memantik kemarahan masyarakat muslim, khususnya para ormas-ormas yang sudah panas melakukan sweeping dan aksi geruduk massa atas itu. Setelah mengalami tindakan itu, manajemen hollywings mengaku bahwa, saat ini Holywings ditutup.

“Kita berhenti beroperasi. Di Medan tutup, Surabaya tutup, kemudian Makassar tutup, Yogyakarta tutup, Bandung tutup. Yang beroperasi hanya dua, di Batam dan Manado,” ucap Yuli di bar Holywings Bekasi, Selasa (28/6/2022). 

Pernyataan tersebut dijelaskan dengan adanya pelaporan yang diterima oleh Polda Metro Jaya atas dugaan panistaan agama yang dilakukan oleh Hollywings dengan pelanggaran Pasal 28 Ayat 2 juncto Pasal 45 Ayat 2 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan atau Pasal 165a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Sebab kasus ini pula, pelbagai diskusi dan perdebatan digelar. Mulai dari tokoh agama, orang yang mabuk agama, hingga para elite politik yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan politik tahun 2024. Bagaimana sebenarnya memaknai kasus ini?

Penistaan agama dan carut marut isu politik

Pada forum diskusi yang digelar oleh Tvone pada 28/06 dengan membahasa kasus hollywings ini. Felix Shiauw, tokoh HTI yang masih keukeuh bahwa dirinya adalah penegak khilafah, turut berkomentar terkait isu Holywings.

Dalam pemaparannya, Felix tentu mengacu kepada kecintaan dirinya kepada Nabi Muhammad Saw, serta figur seorang muslim yang kaffah dengan semangat membara untuk membawa Islam ke semua aspek.

Bagi Felix, promosi yang dilakukan oleh Holywings, tidak lain strategi untuk memicu publik agar viral. Holywings sudah Menyusun strategi ciamik supaya terkenal dengan memanfaatkaan simbol agama. Sebab sudah pasti, apabila menggunakan nama “Muhammad” dan “Maria” akan memicu kemarahan terhadap umat agama. Sehingga dari sana, nama Holywings semakin banyak diperbincangkan.

“Apa yang kita lihat dari promosi ini yakni, narasi desakralisasi agama, monsterisasi terhadap agama. Di Barat sana, ketika kita melihat agama, mereka sudah jadi bully-bully-an. Di Barat, khususnya di Hollywood, mereka menganggap bahwa menistakan agama adalah tindakan keren dan intelektual. Mulai dari komik agama, nyobek Al-Quran. Kalau bicara toleransi, jika setiap orang toleransi pada semua hal, ketika nabi dikatakan jelek dan mengatakan ini bukan penistaan agama, padahal inipenistaan agama. Ketahui bahwa orang ini sedang dalam kebingungan,” Ucap Felix.

BACA JUGA  Pasca Pemilu: Potensi Ekstremisme Menguat

Lebih lanjut, Felix secara tegas mengatakan bahwa, dibandingkan dengan nyawa, nyawa kita terlalu murah untuk membandingkan dengan nyawa Nabi Muhammad. Artinya, kasus ini adalah penistaan agama yang wajib diperjuangkan oleh umat muslim jika ia mencintai Nabi Muhammad.

Lalu, jika kita tidak berkomentar tentang kasus ini, apakah kita akan menjadi orang yang tidak cinta Rasulullah? Tentu tidak. Narasi Felix adalah narasi penghakiman atas kemarahan karena penggunaan simbol agama. Jika sedikit-dikit marah, bukankah kita akan menjadi orang yang kepanasan dan selalu merasa agama kita dilecehkan?

Holywings ditutup, isu penistaan agama ditutup

Ketika semua sepakat bahwa Holywings tidak perlu ditutup, akan tetapi cukup memberantas miras yang dijual di Holywings, rasanya tidak mungkin. Sebab seperti yang kita ketahui bahwa, tempat seperti Holywings adalah tempat yang, sejak dulu sudah ada. Club malam, pesta, ataupun sejenisnya dari dulu sudah ada. Namun, karena saat ini mewabahnya media sosial, holywings menjadi trend baru kenikmatan dunia yang sangat recommended untuk dicoba oleh para kawula muda, khususnya generasi tiktok supaya bisa disebut sebagai generasi kekinian.

Sayangnya, setelah isu penistaan agama itu ramai, begitu banyak ormas-ormas yang ikut membanjiri dengan aksi-aksi liar, demo, konvoi agar Holywings itu ditutup, seolah-olah menjadi penyelamat dari kemaksiatan yang sudah dilakukan oleh Hollywings dan para konsumennya.

Meskipun Hotman Paris, salah satu pemilik Holywings sudah melakukan permohonan maaf atas apa yang sudah dilakukan oleh manajemennya, publik akan menilai bahwa, permohonan maaf tersebut dilakukan untuk penistaan agama yang sudah dilakukan, bukan untuk izin kembali membuka.

Tetap dibuka atau justru sebaliknya, pemilik Holywings adalah Hotman dan Nikita Mirzani, orang yang memiliki power secara kuasa dan komunikasi kepada pemerintah. Betapapun aksi masyarakat untuk menutup tempat ini, tidak menutup kemungkinan, Hollywings akan tetap berperasi dikemudian hari.

Jika Holywings itu tidak ditutup, maka kelompok ekstremisme, pengasong khilafah, semakin melebarkan sayap dengan narasi bahwa, NKRI ini kapitalis, anti agama, dan mendukung kemaksiatan. Salahnya dimana? Seandainya manajemen Hollywings tidak melakukan promosi busuk tersebut, maka tidak akan memantik kelompok ekstremis untuk turun ke jalan dengan sangar kemudian kembali memainkan isu politik dalam upaya menutup Holywings.

Muallifah
Muallifah
Aktivis perempuan. Bisa disapa melalui Instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru