31.4 C
Jakarta

Jelang Natal dan Akhir Tahun, Waspada Aksi Teror!

Artikel Trending

KhazanahTelaahJelang Natal dan Akhir Tahun, Waspada Aksi Teror!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Aksi bom bunuh diri kembali terjadi. Kali ini terjadi di Bandung. Aksi teror ini dilakukan pada saat apel pagi di Polsek Astanaanyar Bandung, pada Rabu (7/12) pagi. Diketahui bahwa, ada 11 orang yang menjadi korban. 1 pelaku tewas dan 10 orang yang merupakan anggota polisi serta 1 warga sipil di sekitar lokasi mengalami luka-luka. Diketahui bahwa, pelaku bom bunuh diri bernama Agus Sujatno alis Agus Muslim. Ia merupakan eks-narapidana kasus bom Cicendo, Jawa Barat, yang sudah mengalami masa hukuman selama 4 tahun di Nusakambangan.

Kejadian ini bisa jadi adalah sebuah sinyalir akan ada kejadian serupa, mengingat bahwa, bulan Desember adalah momentum natal dan tahun baru yang dicatat tebal oleh para teroris untuk menebar ketakutan dan menjadi momentum bersejarah dalam dogma yang diyakini mereka untuk berjihad, karena membunuh musuh Islam.

Pengamanan ketat pada gereja ataupun tempat publik!

Selain masalah penanganan serius yang perlu digaungkan lagi oleh pemerintah, salah satu bisa dilakukan pula adalah terkait keamanan yang diterapkan pada gereja-gereja. Sama seperti perayaan hari raya idul fitri, umat muslim yang ber-euforia merayakan kemanangan, hari suci, dan menjadikannya hari besar, adalah sebuah bentuk euforia yang sama bagi masyarakat Kristen.

Setidaknya, kita perlu mengingat kembali kejadian pada tahun 2000 silam. Malam natal yang seharusnya penuh kemenangan, canda tawa, berubah malam teror dan penuh tangisan. Ada banyak darah yang tumpah dalam kejadian tersebut. Teror terencana di 11 kota adalah bukti bahwa kelompok teroris sudah menyiapkan strategi ciamik dalam melakukan aksinya.  Ledakan tersebut setidaknya terjadi di Meda, pematang Siantar, Batam, Pekanbaru, Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Pangandaran, Kudurs, Mojokerto, dan Mataram. Laporan resmi menyebut bahwa, ada 20 orang tewas, 35 orang luka berat, dan 48 cedera ringan. Kejadian ini tercatat pada tanggal 24 Desember 2000 tepat malam natal. Pelaku bom bunuh diri adalah kelompok teroris Jamaah Islamiyah yang kemudian melakukan aksi Bom Bali tahun 2002.

Aksi bom tahun 2000 di atas, merupakan sebuah warning yang perlu disadari dalam perayaan natal dan tahun baru setiap tahunnya. Keamanan dan pengamanan yang dilakukan untuk gereja-gereja dalam rangka melaksanakan misa natal, sangat penting untuk diperhatikan mengingat bahwa, serangan bom bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan saja tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Jangan sampai, kejadian yang terjadi di gereja beberapa tahun silam itu, terulang kembali. Maka dari itu, upaya preventif untuk meminimalisir terjadinya bom bunuh diri yang mengintai di berbagai gereja, perlu diperketat dan di cek kembali.

Selain upaya deradikalisasi dan upaya lain kepada pelaku teror, kebijakan terkait keamanan yang ketat pada setiap gereja-gereja yang akan melaksanakan misa natal, harus segera di gaungkan. Tidak hanya itu, sangat penting kehadiran Kerjasama masyarakat sipil dalam upaya meningkatkan keamanan gereja. Biasanya, ini dilakukan oleh ormas-ormas seperti Banser (barisan ansor serbaguna), yang setiap kali perayaan natal, menjadi bagian dari elemen di dalamnya.

Masyarakat perlu waspada!

Satu hal yang perlu kita pahami dari momentum natal dan tahun baru adalah euforia dari perayaan karena libur panjang. Semua orang merayakan libur panjang dengan banyak, mulai dari berlibur ataupun mengunjungi tempat publik seperti mall, wisata, dll. Mengetahui bahwa suatu waktu akan ada serangan bom bunuh diri yang secara random yang sewaktu-waktu bisa terjadi kapan saja di mana saja, masyarakat perlu waspada dan mawas diri untuk mengantisipasi terjadinya bom.

Upaya lain yang perlu dilakukan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat adalah informasi berkenaan dengan terorisme yang perlu digaungkan melalui media siber. Konsumsi masyarakat berkenaan dengan terorisme sangat penting untuk terus disemarakkan di media siber di tengah semakin terbukanya arus teknologi. Pendidikan di era digital menjadi alternatif untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat. Arus pergerakan terorisme yang berubah dengan kecanggihan teknologi, memiliki modus baru dalam rekrutmen teroris baru. Kontra radikalisme-terorisme di media siber menjadi penting untuk terus disemarakkan. Semua kelompok memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dalam upaya melawan teroris yang tidak akan pernah hilang dari muka bumi. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru