31.9 C
Jakarta

Urgensi Pendidikan Karakter sebagai Tameng Kontra-Radikalisme Daring

Artikel Trending

KhazanahOpiniUrgensi Pendidikan Karakter sebagai Tameng Kontra-Radikalisme Daring
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Pendidikan karakter adalah sebuah upaya penanaman nilai-nilai moral kepada anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran, atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan. Yang berdampak kepada diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaan agar menjadi manusia yang berakhlak.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Kevin Ryan dan Karen E. Bohlin. Karakter baik dimanifestasikan dalam kebiasaan sehari-hari: sebuah pikiran jernih, hati baik, dan tingkah laku santun. Berkarakter baik berarti mengetahui yang baik, mencintai kebaikan, dan melakukan yang baik. 

Pemahaman di atas seharusnya sudah mewakili, bagaimana pendidikan memang sangat dibutuhkan untuk setiap orang. Bahkan, bisa diartikan sebagai media utama untuk mengukur kualitas orang dalam membangun moral dan kepribadiannya. Itulah mengapa sangan relevan apabila pendidikan karakter dioptimalkan sebagai penangkal radikalisme di Indonesia. 

Seperti yang sudah kita ketahui radikalisme kerap kali menjadi salah satu problem serius yang menghantui masyarakat awam dan kurangnya literasi dalam hidup bersosial. Kebanyakan dari mereka yang sangat mudah tersengat virus radikal, karena kurangnya bersosial, berinteraksi sampai dengan komunikasi yang mengakibatkan dirinya gagap dalam memahami pola radikalisme berjalan di Indonesia. 

Untuk menghadapi pola manusia yang demikian, kita yang sadar akan bahaya radikalisme online harusnya berperan aktif dalam memeranginya. Salah satu peran yang bisa dilakukan ialah memanfaatkan dunia maya sebagai alternatif dalam membangun mental anak ataupun seseorang menjadi pribadi yang nasionalis.

Seperti halnya memberikan edukasi secara online tentang bahaya radikalisme dan corak radikalisme yang ada di Indonesia sampai dengan dunia.   

Inilah salah satu alasan mengapa kita diharuskan menjadi orang yang tidak gaptek. Sederhananya dirinya diharuskan menjadi manusia yang pandai dalam memanfaatkan ruang maya sebagai meditasi dirinya sendiri. Karena untuk mengatasi manusia yang sulit untuk bersosial, sampai dengan kurangnya informasi secara offline, yang bisa dilakukan ialah mencari pembenaran dari dunia maya. 

Edukasi yang disampaikan dengan baik dan menyenangkan tentu akan sangat mudah diterima berbagai kalangan masyarakat. Seperti halnya mengajarkan anak untuk mencintai Indonesia dengan berbagai keragaman yang ada. Mengajarkan seorang anak bahwa di negeri ini tidak hanya ada satu agama, suku, ataupun bahasa.

BACA JUGA  Mendidik Anak, Membangun Bangsa: Belajar dari Ibunda Imam Syafi’i

Menanamkan nilai-nilai semacam ini sejak dini, akan membuat seorang anak mengerti bahwa perbedaan bukan untuk dimusuhi, tetapi harus dicintai. Sebab, kita berdiri di negara yang majemuk, bangsa yang selalu menghargai perbedaan dan menjunjung nilai-nilai kerukunan untuk sebuah kesejahteraan dan perdamaian untuk semua manusia. 

Sudah seharusnya pendidikan karakter ditekankan sejak usia dini. Selain kemajuan teknologi yang seakan mengikis kebersamaan, kemajuan teknologi perlahan juga mengikis karakter seseorang. Seorang anak sebelumnya diajarkan untuk membaca, sekarang sudah banyak yang asyik dengan gadget. Yang kemudian lupa akan keindahan masa kecil.

Itulah yang harus dipahami bersama, tanamkan nilai kerukunan melalui pendidikan karakter sejak dini. Meskipun cuma sekedar menyapa ketika dengan orang, ini adalah salah satu pendidikan yang sangat membantu dalam membentuk karakter seorang anak. Karena dari situ akan terbangun interaksi yang baik, yang kemudian akan mengakar pada kebersamaan. 

Sejatinya adanya pendidikan karakter adalah sebagai upaya untuk menghargai kebudayaan dan persatuan yang ada di Indonesia. Penerapan pendidikan karakter secara online dan sejak dini diharapkan mampu mendorong tumbuh kembang anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab, serta memegang kaidah-kaidah kebaikan yang ditujukan untuk sebuah kesatuan dan persatuan dalam hidup bersosial. 

Dengan mempelajari pendidikan karakter seseorang akan bisa menghargai antara satu dengan yang lainnya. Selain itu pendidikan karakter yang disebarkan secara online juga akan mampu meminimalisir pergerakan radikalisme dalam ruang maya.

Adanya teknologi tidak seharusnya menghapus karakter bangsa Indonesia yang memiliki budaya gotong-royong. Hal ini dijadikan sebagai pembelajaran, bahwa adanya pendidikan karakter di era teknologi menjadi jalan untuk menguatkan solidaritas dan kebersamaan yang mendamaikan. 

Suroso, S.Ag
Suroso, S.Ag
Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru