30.3 C
Jakarta

Upaya Memadamkan Konflik Kekerasan dengan Perdamaian

Artikel Trending

KhazanahTelaahUpaya Memadamkan Konflik Kekerasan dengan Perdamaian
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Konflik dalam sebuah wilayah selalu menyisakan ruang kebencian dan ruang prasangka yang terus menerus serta truma berkepanjangan bagi orang-orang yang terdampak konflik.  Salah satu upaya untuk mendamaikan ruang kebencian tersebut dengan memberikan ruang perjumpaan antar golongan agar tidak tercipta prasangka, dll. Salah satu konflik yang sampai saat ini masih menyisakan ruang ingatan yang cukup dalam bagi masyarakat daerah adalah konflik Poso.

Konflik Poso terjadi pada 25 Desember 1998 hingga 20 Desember 2001. Peristiwa ini dimulai dari sebuah bentrokan kecil antarkelompok pemuda sebelum akhirnya menjalar menjadi kerusuhan bernuansa agama. Pada konflik ini, setidaknya ada 577 orang tewas, 384 luka-luka dan 7.932 rumah hancur serta 510 fasilitas umum terbakar. Konflik yang kemudian berakhir dengan penyebutan atas nama kekerasan agama ini, cukup pelik untuk menyembuhkan masyarakat karena menciptakan rasa trauma cukup berat bagi mereka. Sebab dalam kehidupan sosial, rasa benci dan prasangka buruk dan ingin membalas dendam atas kematian keluarga, kerabat, dan temannnya selalu muncul ketika bertemu dengan kelompok agama tertentu.

Melihat kondisi yang cukup pelik di Poso, Institute Mosintuwu, merupakan salah satu Lembaga yang didirikan oleh Lian Gogali, perempuan asal Poso, melakukan upaya perdamaian. Institute Mosintuwu ini berdiri karena kondisi yang cukup prihatin atas peritiwa di Poso yang pada saat itu ada banyak kepentingan ekonomi dan politik, sehingga berakhir pada pengelolaan sumber daya alam yang tidak berpihak kepada masyarakat miskin dan marginal serta tidak berpihak kepada perempuan akar rumput.

Mosintuwu sendiri, diambil dari bahasa Pamona atau bahasa ibu di Poso yang berarti bersatupadu atau kebersamaan. Atas dasar nama itu, sangat jelas misi yang dibawa oleh Mosintuwu, tidak lain adalah sebagai ruang masyarakat sebagai upaya untuk menciptakan perdamaian dalam kondisi konflik yang terjadi. Proses pemulihan pasca konflik, sangat berat bagi masyarakat Poso, apalagi kepada para perempuan yang ditinggal oleh suami, yang selama ini berperan mencari nafkah dan menjadi sumber kehidupan di keluarga.

Lian Gogali sendiri, berhasil menggerakkan perempuan untuk bersatu, menangkal hal-hal negatif dan aktif mengembangkan pemikiran para ibu-ibu untuk berkontribusi pada daerah yang penuh dengan hiruk pikuk konflik akibat hubungan Islam-Kristen yang kacau pada saat itu. Atas peran yang sangat besar dalam kerja-kerja kemanusiaan, Lian Gogali dan Institute Mosintuwu memperoleh GUSDURian awards pada acara Temu Nasional (Tunas) Jaringan GUSDURian tahun 2022 yang dilaksanakan di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya. Penghargaan tersebut diberikan pada saat Tunas tahun 2020, akan tetapi bisa diberikan secara langsung pada tahun 2022. Peran besar yang dilakukan oleh Lian Gogali dan Institute Mosintuwu yang berdiri di tengah konflik sosial, menjadi salah satu kontribusi besar terhadap upaya perdamaian di Poso.

BACA JUGA  Dakwah di Lapas oleh Mantan HTI: Proyek Masterpiece Aktivis Khilafah

Acara Tunas yang dilaksanakan oleh Jaringan GUSDURian tersebut, dilaksanakan pada tanggal 14-16 Oktober 2022 sebagai ruang perjumpaan jaringan GUSDURian, baik dari penggerak individu, komunitas ataupun Lembaga yang berjerjaring dengan GUSDURian.  Penghargaan tersebut diberikan dengan harapan bisa menjadi support kepada Insitute Mosintuwu dan Lian Gogali untuk menebarkan kebermanfaatan lebih luas.

Perdamaian adalah senjata manusia

Rumus bahwa perdamaian adalah senjata manusia. Untuk hidup nyaman, pastinya semua sudah diketahui oleh setiap orang. namun, ketika menjalani kehidupan yang cukup kompleks dan tidak bisa mengelola konflik sehingga tidak terkendali, maka diperlukan kerendahan hati disertai dengan strategi ciamik agar konflik tersebut tidak menciptakan pertumpahan darah. Bisakah kita mampu untuk menciptakan tersebut?

Nyatanya, tidak semua orang bisa menerapkan hal itu. buktinya, masih banyak konflik sosial yang terjadi di sekitar kita, baik dalam level daerah, regional hingga nasional. Namun, jika kita cukup jauh melihat konflik tersebut, sebenarnya kita harus mampu untuk melihat diri kita sendiri dan bertanya, “Bisakah kita menciptakan perdamaian bagi diri sendiri? Kita yang terlibat dalam kehidupan sosial, pelu melakukan refleksi diri untuk berdamaia dengan melihat perbedaan, baik dari perbedaan pendapat, cara pandang dan hal kecil apapun. Dari perilaku kecil itupula, kita akan mampu bijak dalam menyikapi masalah sosial yang berkenaan dengan perbedaan agama, dan permasalahan yang erat kaitannya dengan isu SARA. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru