31.7 C
Jakarta

Maulid Nabi: Menyelesaikan Konflik Agama dan Komentar Radikal

Artikel Trending

Milenial IslamMaulid Nabi: Menyelesaikan Konflik Agama dan Komentar Radikal
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Maulid Nabi dirayakan tepat pada 8 Oktober 2022. Kalahiran Nabi SAW (Senin, 12 Rabiul Awal) yang agung ini, selalu diperingati dengan gembira, senang dan penuh keromantisan di seluruh Dunia.

Tepat hari perayaan Maulid Nabi ini, cucu Nabi bernama Husein Ja’far Hadar, menulis di Twitter: “Saya membuat postingan ini sembari bersyalawat, dan mau mengajak kamu, iya kamu, yang melihat postingan ini untuk bersalawat pada Nabi Muhammad Saw. Lalu, tarik nafas, dan yakinlah bahwa hidupmu baik-baik saja karna bersama Nabi Muhmmad Saw. Shollu alan Nabi!”

Mendapat Syafaat Nabi

Perayaan ini ditasbihkan hanya ingin mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW. Sudah berapa ratus tahun orang-orang merayakan Naulid Nabi sebagai landasan kecintaan dari umatnya dan sebagai dasar kita hidup bersamanya.

Mulai dari sejak abad kedua Hijriah, di mana menurut keterangan, perayaan pertama diinisiasi oleh seseorang bernama Khaizuran (w. 170 H). hingga saat ini. Khaizuran ini adalah ibu dari Khalifah Musa Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid. Dia datang ke Madinah, lalu mengajak penduduk Madinah untuk merayakan kelahiran Rasulullah SAW di Masjid Nabawi.

Kemudian Khaizuran terus melakukan ritual perayaan Maulid Nabi di beberapa tempat, termasuk saat berkunjung ke Mekkah. Ia melakukan itu sebagai ungkapan rasa cinta dengan tujuan agar masyarakat terus masih mengingat keteladanan yang telah dicontohkan Nabi Muhammad. Legesi Nabi Muhammad terus ditumbuhkan dan dirawat.

Lalu setelah itu, perayaan-perayaan Maulid Nabi dilakukan di berbagai tempat di seluruh penjuru dunia. Pada saat itu perayaan Maulid terakbar pertama kali dilakukan oleh penguasa wilayah Irbil, bernama Raja Mudzafar.

Raja Mudzafar adalah seorang panglima pemberani, kaya raya, dan dermawan di masanya (Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Hawi lil Fatawa). Hingga akhirnya banyak masyarakat yang datang berbondong-bondong dan melakukan pembacaan salawat kepada Nabi. Sampai sekarang perayaan itu terus berlanjut dan menjadi tradisi baik bagi umat muslim.

Sarana Kohesi Sosial

Bisa dibilang tradisi baik, satu untuk melandaskan kecintaan kepada Nabi Agung Muhammad SAW. Kedua, sebagai sarana penyatuan kohesi sosial di dalam kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu, tradisi Maulid ini terus dilakukan, dirayakan, dipertahankan, dan dilestarikan oleh umat muslim hingga detik ini.

BACA JUGA  Tiga Langkah Menumpas Radikalisme di Kampus

Namun demikian, masih banyak orang yang menolak atas perayaan Maulid Nabi ini. Menurut mereka, perayaan dan pembacaan salawat terhadap Nabi adalah bid’ah bahkan dibilang haram. Alasannya, karena di zaman Nabi belum ada orang yang melakukan tradisi perayaan atas kelahiran Nabi.

Padahal seluruh aktivitas perayaan tradisi Maulid Nabi tidak ada unsur-unsur yang bertentangan dengan hukum syariat Islam dan lainnya. Bahkan Maulid Nabi seluruhnya terdapat dan memiliki nilai dan landasan syariat yang baik di dalamnya.

Pesan Positif Maulid Nabi

Dengan perayaan maulid Nabi bisa mengingat keagungan Nabi. Mengingat jasa besar Nabi. Mengingat sejarah dan perjuangan Nabi. Mengingat seluruh daya upaya Nabi di dalam memperjuangkan kehidupan umatnya, yakni kita-kita ini. Dan mengandaikan bagaimana caranya kita bisa bersikap dan melanjutkan apa yang telah dititipkan Nabi.

Sejak zaman pertama kali dirayakan pada kedua Hijriah, hingga kini, perayaan Maulid Nabi tidak ada sedikitpun unsur maksiatnya. Para ulama mashur sepakat bahwa perayaan Maulid tidaklah haram. Karena selain bernilai postif, tidak ada unsur maksiat dan madharatnya, ia juga tidak sedikitpun terdapat kemungkaran. Oleh sebab itu, ulama-ulama seperti Syekh Jalaluddin As-Suyuthi berpendapat bahwa orang yang memperingati maulid Nabi SAW malah diberi pahala oleh Allah SWT karena bernilai postif.

Di momen perayaan Maulid ini, komentar-komentar radikal memang terus selalu ada. Ia terus mengolok-olok dan membid’ahkan siapa pun orang yang merayakan Maulid Nabi. Cara itu dilakukan sebagai bentuk politik keagamaan mereka. Selain berkeinginan agar tidak sama, ia juga memiliki pesan khusus bahwa hal tersebut dijadikan sebagai politik agama.

Maka itu, di momen indah ini, kita saling berbaikan dan mendamaikan. Kita harus saling ingat dan mengingatkan bagaimana karakter, dan kepribadian Nabi Muhammad SAW. Selalu ingat bahwa tujuan Nabi untuk menyempurnakan akhlak. Oleh sebab itu, akhlak umatnya harus bagus dan sempurna. Ciri akhlak yang sempurna adalah bersikap ramah, lembut, santun, dan tahu berterima kasih terhadap sosok yang telah memperjuangkan dakwah Islam ini: Nabi Muhammad SAW.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru