27.3 C
Jakarta

Pro-aksi Melawan Provokasi di Masa Pandemi

Artikel Trending

KhazanahPerspektifPro-aksi Melawan Provokasi di Masa Pandemi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Beberapa waktu lalu, Tempo menemukan dua video palsu yang diklaim sebagai video demo turunkan Jokowi. Video provokasi yang meniscayakan pro-aksi kita tersebut pertama berjudul “Demo Turunkan Jokowi! Ribuan Personel Berhasil Pukul Mundur Para Perusuh”. Durasi video 8 menit dan memperlihatkan kolase beberapa video pendek dalam aksi demonstrasi. Ternyata setelah dilakukan penelusuran Tim Tempo, video tersebut palsu.

Terlihat pada menit 1:35, ada gerbang yang bertuliskan Pemerintah Kota Bandung. Kemudian ada pula beberapa masa aksi demo yang membawa poster protes terkait pemberlakuan PPKM. Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata video tersebut pernah diunggah oleh Kompas TV dengan judul “Demo Tolak Perpanjangan PPKM Darurat Berakhir Ricuh, 173 Orang Ditangkap Polisi” yang diunggah pada tanggal 22 Juli 2021.

Selanjutnya, video kedua dengan judul “Gabungan Ormas HIT-FPI Mainkan Demo di Depan Gedung Istana Turunkan Jokowi” juga hanya rekayasa. Penelusuran Tim Tempo menemukan sejumlah bukti, seperti lokasi tempat yang didapatkan dari salah satu nama toko. Setelah dilakukan pengecekan melalui Google Maps, bangunan tersebut berada di Braga, Bandung. Melakukan penelusuran lebih lanjut, Tempo menemukan kemiripan di menit 1:24 dengan video yang diunggah oleh Viva dengan judul “Mahasiswa, Ojol dan Pedagang Demo di Kantor Balai Kota Bandung Tolak PPKM Diperpanjang”.

Penemuan Tim Tempo tersebut, seolah menggambarkan jika peta permainan politik sedang diselenggarakan di media. Ada beberapa oknum yang mengambil keuntungan dari serentetan kejadian yang ada di negeri ini sebagai bahan propaganda. Mereka memainkan media untuk memupuk amarah rakyat untuk semakin membenci dan tidak bisa bekerja sama dengan pemerintah.

Setidaknya ada tiga pola yang terus menerus diulang oleh para pelaku provokasi. Pertama, menyebarkan keburukan pemerintah melalui media. Hal ini dilakukan secara struktural, dari mulai pencarian berita, dilanjutkan dengan penguatan penelitian terkait, dan diakhiri dengan penyebaran hoaks untuk menaikkan tensi amarah rakyat. Cara demikian terus menerus diulang di media. Sehingga setiap hari rakyat terus menerus disuguhi oleh pemberitaan yang mencitrakan keburukan pemerintah.

Kedua, mengabarkan ketakutan-ketakutan kalau pemerintahan sekarang terus menerus berkuasa tanpa memperhatikan rakyatnya. Mereka membagi struktur negara menjadi dua, kelas atas dan kelas bawah. Kelas atas dihuni oleh mereka yang berkuasa, sedangkan kelas bawah dihuni oleh masyarakat. Di sini mereka menceritakan jika kelas atas terus menerus bersenang-senang dengan memakai berbagai macam kebijakan. Kelas atas terus menerus melakukan penindasan terhadap kelas bawah. Sedangkan kelas bawah terus menerus menerima ketertindasan.

BACA JUGA  Moderasi Perguruan Tinggi dalam Rangka Kontra-Radikalisme

Perspektif-perspektif seperti itulah yang terus menerus dilakukan. Dan di akhir pemaparannya selalu dibumbui oleh nada menakut-nakuti, seperti kalau pemerintahan ini terus dilanjutkan, kelas bawah akan terus menerus ditindas. Mereka melakukannya secara terstruktur dan terencana dalam mengobrak-abrik nalar masyarakat.

Ketiga, menceritakan kecemerlangan masa depan dengan kepemimpinan baru. Dalam langkah ini, biasanya mereka mendapat bantuan dari pihak yang mempunyai kepentingan. Mereka memanfaatkan rakyat untuk bergerak bersama-sama, dan apabila pelengseran telah terjadi, pihak yang mempunyai kepentingan bisa berkuasa. Cara semacam ini bisa digunakan apabila kebencian rakyat sudah mencapai puncaknya.

Oleh karena itu, cara kotor semacam ini tidak bisa dibiarkan untuk mengobrak abrik nalar rakyat. Masyarakat harus dibina dan disehatkan dengan perspektif yang positif. Provokasi hanya akan menambah amarah yang berimbas pada ambruknya sistem yang telah dibangun sedemikian rupa. Apabila sistem tersebut telah ambruk, maka untuk membangun sistem yang baru membutuhkan waktu yang tidak singkat. Tentu, kerugian besar akan melanda bangsa Indonesia.

Maka Langkah cerdas yang harus dilakukan untuk memecah gelombang provokasi dari para oknum adalah dengan Pro-aksi dalam pemberitaan media. Melakukan penyelidikan lebih mendalam, bertanya kepada para ahli, dan tidak terburu-buru terpancing emosi. Tanggapan Pro-aksi dari pemerintah, akan menyehatkan nalar bangsa dari banyaknya kegaduhan yang ada.

Masyarakat juga bisa melakukan Pro-aksi untuk bersama-sama menegakkan protokol kesehatan untuk memutus mata rantai Covid-19. Dengan menggalakkan pemakaian masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, masyarakat bisa saling menjaga antara satu dengan yang lainnya. Kemudian yang tidak kalah pentingnya, adalah Pro-aksi terhadap penguatan persaudaraan, yang diwujudkan dalam tindakan gotong-royong dan tolong menolong.

Tindakan-tindakan Pro-aksi tersebut merupakan salah satu ikhtiar untuk mendinginkan kecemasan di masa pandemi. Dalam keadaan seperti ini, poin yang diperlukan adalah tindakan saling menguatkan. Baik menguatkan dari segi literasi media maupun penguatan dari segi ekonomi dan kesehatan. Provokasi yang dilakukan oleh sejumlah oknum hanya bisa dilawan dengan Pro-aksi yang diwujudkan dalam kekompakan dan semangat gotong royong. Dengan semangat itu, masyarakat tidak akan terpecah belah dan kompak menyatukan suara untuk melawan Covid-19.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru