25.6 C
Jakarta

Pengembaraan Ideologi Munarman Menuju Taubatun Nasuha

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanPengembaraan Ideologi Munarman Menuju Taubatun Nasuha
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Di tengah pergulatan banyak isu yang lagi trending di jagat media sosial, membahas isu Munarman sepertinya jauh lebih menarik. Dalam tulisan ini saya bahas politik Munarman yang dibungkus dengan instrumen agama.

Pertanyaannya, mengapa agama sangat menarik dijadikan bungkus (bila enggan berkata “topeng”) dalam perpolikan? Bukankah membungkus politik dengan sikap empati dan “bagi-bagi” jauh lebih menarik seperti yang dilakukan beberapa politisi?

Agama erat kaitannya dengan keyakinan (iman). Sedangkan, keyakinan sendiri merupakan “anutan” yang sulit dihilangkan dalam diri seseorang. Banyak orang berkorban, meski nyawa taruhannya, jika keyakinannya diusik, apalagi diserang oleh orang lain.

Keyakinan tentu berbeda dengan “pengetahuan” (ilmu). Pengetahuan erat kaitannya dengan “paham” (isme). Paham ini merupakan kinerja otak, bukan hati. Seseuatu yang menyangkut paham akan lebih mudah diubah dibanding keyakinan.

Karena keyakinan jauh lebih dipertaruhkan oleh banyak orang, adalah suatu kesempatan yang “apik” Munarman menggunakan keyakinan (agama) untuk membentengi permainan politiknya. Politik Munarman mulai tercium di tengah-tengah public semenjak berbaiat dengan organisasi teroris internasional Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Baiat Munarman terhadap ISIS dilakukan ketika ia memegang kendali sebagai pengacara Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pada tahun 2002. Bahkan, saat itu Munarman sudah berjejaring dengan banyak organisasi garis keras (radikal). Salah satu organisasi radikal yang dimaksud adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan beberapa tahun silam oleh pemerintah Indonesia.

Munarman menjadi pengacara MMI tidak lain dan tidak bukan bertujuan membela Ustaz Abu Bakar Baasyir yang pernah dipenjara karena kasus terorisme. Abu Bakar Baasyir ini dipenjara semenjak di kepemerintahan SBY dan dibebaskan pada kepemerintahan Jokowi. Karena pembebasan inilah, pro-kontra menjadi isu yang hangat diperbincangkan.

Munarman melakukan baiat kembali pada tahun 2014 di UIN Syarif Hidayatullah Jakartadi acara Faksi. Baiat ini dihadiri oleh beberapa anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD). JAD didirikan oleh Aman Abdurrahman yang divonis hukuman mati karena kasus terorisme. Bahkan, JAD pernah dilaporkan memiliki kaitan dengan pengeboman Surabaya tahun 2018 dan pengeboman Makassar tahun 2021.

Kemudian, Munarman pernah menjadi sekretaris Front Pembela Islam (FPI) yang telah dibubarkan pada masa kepemerintahan Jokowi karena terlibat dalam kasus Islam garis keras. Ideologi FPI, bagi pemerintah, dipandang berlawanan dengan spirit moderasi Islam yang terbuka terhadap perbedaan dan bersikap lemah lembut dalam berdakwah.

Berdasarkan beberapa kasus yang disebutkan di atas, Munarman terlibat dalam kasus berlapis. Kasus ini jelas membuktikan bahwa Munarman membungkus politik dengan doktrin agama. Sehingga, politik ini dapat diterima dengan mudah oleh banyak orang, terlebih orang awam.

BACA JUGA  Ketika Perguruan Tinggi Mulai Mengalami Kemunduran

Orang yang terdoktrin dengan permainan politik Munarman akan sangat mungkin membenci pemerintah yang dipilih secara sah. Pemerintah diklaim dengan thaghut atau orang yang melakukan makar terhadap agama. Biasanya orang yang thaghut dituduh dengan sebutan kafir.

Bukan hanya itu, orang yang terpapar doktrin paham yang disebarkan Munarman akan sangat mudah mengkafirkan negaranya sendiri karena tidak menggukan sistem Khilafah yang dikampanyekan oleh ISIS dan HT. Kedua organisasi garis keras ini berdalih bahwa manusia tanpa Khilafah bagai anak ayam kehilangan induknya. Sungguh sangat lucu analogi mereka!

Keterlibatan Munarman dengan organisasi teroris ISIS dan HT menunjukkan bahwa ia bukan orang yang patut dibela. Pihak kepolisian telah melakukan tindakan yang tepat dalam memasukkan Munarman ke dalam penjara. Harapan pihak kepolisian, mungkin kita juga, Munarman dapat merenungkan kembali perbuatan yang sudah ia lakukan.

Melalui perenungan itulah, Munarman bagaikan mantan narapidana teroris yang telah bertobat. Mereka mendapatkan hidayah ketika berada di dalam penjara. Tidak ada kata terlambat bagi Munarman untuk kembali ke pangkuan NKRI. NKRI masih tetap terbuka dan memaafkan Munarman jikalau ia bertobat dengan sebenar-benarnya tobat atau, jika meminjam bahasa pesantren disebut dengan, “taubatun nashuha”.

Munarman dapat meneladai sahabat Umar Ibn al-Khattab yang mulanya sangat dan sangat membeci agama Islam atau ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Bahkan, Umar sempat berenca membunuh Nabi saking bencinya terhadap beliau. Tapi, rencana itu berakhir dengan pertobatan yang suci sehingga kemudian ia menjadi pembela Islam yang memiliki pengaruh yang cukup kuat.

Saya pikir, Munarman bukanlah orang yang bodoh. Munarman memiliki cara pandang yang luas dan strategi yang cerdik dalam melakukan sesuatu. Bayangkan saja, seandainya kecerdasan dan kecerdikan Munarman digunakan untuk mengabdi kepada tanah kelahirannya sendiri Indonesia, pasti itu menjadi suatu hal yang membanggakan alias jariyah terhadap banyak umat.

Maka dari itu, tulisan ini diharapkan dapat mengantarkan Munarman menemukan hidayah atau, jika meminjam istilah Imam al-Ghazali, kebenaran hakiki. Sudahi perbuatan yang sudah berlalu. Jadikan itu kesalahan untuk menuju kebenaran. Karena, disebutkan dalam surah al-Isra’ ayat 81: Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru