New Terrorism Ke Algorithmic Terrorism, Kontra-Terorisme Harus Gimana?

Ahmad Khairi

30/06/2026

8
Min Read
new terrorism

Harakatuna.com – Selama bertahun-tahun, terorisme identik dengan bom, senjata, kamp pelatihan, dan gerilya organisasi bawah tanah. Tolok ukur keberhasilan kontra-terorisme pun nyaris selalu sama: berapa banyak pelaku yang ditangkap, jaringan yang dibongkar, dan berapa lama suatu negara mampu mempertahankan situasi zero attack. Itu cara pandang konvensional. Di tengah revolusi digital hari ini, ancaman terorisme telah mengalami metamorfosis yang melampaui bayangan banyak orang.

Hari ini, radikalisasi tidak lagi dimulai dari pertemuan tertutup atau baiat kepada seorang amir. Orang bisa jadi radikal, bahkan bisa jadi teroris, hanya karena satu video pendek yang terus direkomendasikan algoritma, forum diskusi anonim, atau chat room gim daring yang membangun rasa memiliki terhadap suatu ideologi. Terorisme bergantung pada kemampuan memanfaatkan arsitektur digital untuk tebar propaganda, membentuk echo chamber, dan mengarahkan seseorang pada kekerasan tanpa pernah bersentuhan langsung dengan teroris itu sendiri.

Inilah tantangan terbesar kontra-terorisme sekarang. Ketika kelompok teror berhasil mengadaptasi teknologi dan memanfaatkan algoritma, negara tidak bisa lagi bertahan dengan strategi yang dirancang untuk menghadapi ancaman dekade yang lalu. Kontra-terorisme perlu memahami munculnya teroris. Sebab, di era algorithmic terrorism, medan tempur sesungguhnya adalah layar smartphone yang setiap hari berada di genggaman miliaran anak-anak muda.

Maka, ketika terorisme telah berganti jurus, sudahkah kontra-terorisme ikut berganti kungfu? Ataukah masihkah berusaha memenangkan perang masa depan dengan strategi masa lalu? Apakah era baru terorisme tidak perlu dihiraukan sama sekali?

Era Baru Terorisme

Terorisme, sebagai ideologi, terus bertransformasi mengikuti perubahan politik global, perkembangan teknologi, dan dinamika sosial-masyarakat. Karena itu, pemahaman atas terorisme juga perlu diperbarui setiap waktu. Jika kelompok ekstrem beradaptasi dan mengubah strategi mereka seiring berubahnya lingkungan strategis, maka kontra-ekstremisme juga demikian. Apa yang dahulu efektif sebagai metode rekrutmen dan propaganda, boleh jadi hari ini tidak lagi. Maka begitu juga kontra-terorisme; yang dulu manjur, boleh jadi hari ini kehilangan tajinya.

Secara teoretis, terorisme yang berkembang hingga akhir Perang Dingin disebut sebagai Old Terrorism. Karakteristik utamanya adalah organisasi yang hierarkis, memiliki struktur komando yang jelas, berorientasi pada tujuan politik tertentu, serta menggunakan ‘aksi teror’ sebagai Kungfu untuk mencapai tujuan mereka. Irish Republican Army (IRA) dan Euskadi Ta Askatasuna (ETA), sebagai contoh, adalah wujud terorisme sebagai strategi politik. Aksi teror menjadi alat tawar (bargaining tool).

Memasuki dekade 1990-an hingga awal 2000-an, akademisi seperti Walter Laqueur dan Bruce Hoffman mengemukakan bahwa pola tersebut mengalami perubahan yang fundamental. Melalui konsep New Terrorism, Laqueur dan Hoffman menjelaskan munculnya generasi baru terorisme yang selain didorong kepentingan politik pragmatis, mereka juga diilhami motivasi ideologis, religius, dan bahkan apokaliptik. Al-Qaeda kemudian menjadi simbol dari transformasi tersebut.

Berbeda dengan organisasi teror sebelumnya yang beroperasi di batas wilayah tertentu, kelompok baru tadi mengembangkan jaringan lintas negara, memanfaatkan globalisasi, dan menjadikan korban massal sebagai bagian dari strategi untuk menciptakan efek psikologis. Dalam New Terrorism, terorisme bertujuan untuk menekan pemerintah, membangun narasi global tentang konflik identitas, agama, dan ujung-ujungnya ialah mendirikan Daulah.

Meski demikian, perkembangan terorisme tidak berhenti pada konsep New Terrorism. Evolusi berikutnya justru ditandai oleh melemahnya struktur organisasi itu sendiri. Gagasan tentang leaderless resistance dari Louis Beam menjelaskan, suatu gerakan ekstrem itu akan tetap hidup sekalipun tanpa komando terpusat. Individu atau kelompok kecil bergerak mandiri berdasarkan inspirasi ideologis, tanpa harus memiliki keterhubungan kolektif. Proses deteksinya relatif sulit karena tak lagi bergantung pada rantai komando maupun struktur keanggotaan.

Fenomena aktual ini kemudian melahirkan apa yang kini dikenal sebagai lone actor terrorism. Seseorang bisa melakukan aksi teror atas nama ideologi tanpa pernah bergabung secara resmi dengan sebuah organisasi teroris. Mereka belajar, berinteraksi, dan memperoleh legitimasi melalui internet. Paparan terhadap propaganda digital hingga konten medsos jadi ruang kaderisasi baru. Proses radikalisasi bergeser dari ruang-ruang rahasia ke ruang digital yang bisa diakses siapa saja.

Perubahan itulah yang mendorong berkembangnya kajian mengenai online radicalization. Internet berubah jadi infrastruktur utama diseminasi ideologi. Medsos memungkinkan propaganda menjangkau jutaan pengguna dalam waktu singkat, sementara forum daring dan room chat semacam Discord menyediakan ruang aman untuk menyebarkan doktrin ataupun merekrut simpatisan baru. Radikalisasi terjadi bertahap lewat konsumsi konten digital yang propagandis.

Perkembangan berikutnya bahkan menunjukkan bahwa ideologi teror semakin sulit dipetakan menggunakan kategori lama. Penelitian Jacob Davey dan Moustafa Ayad dari Institute for Strategic Dialogue (ISD) memperkenalkan konsep Hybridized Extremism untuk menjelaskan bagaimana batas antara ekstremisme berbasis agama, supremasi ras, ultra-nasionalisme, teori konspirasi, hingga budaya internet semakin kabur. Seseorang tak lagi mengadopsi satu ideologi secara utuh, namun mencampurkan berbagai narasi di ruang digital. Proses identifikasi dini pun semakin susah.

Perhatian para peneliti kemudian bergeser pada peran algoritma medsos. Muncullah konsep algorithmic radicalization, yakni kondisi ketika sistem rekomendasi digital secara tidak langsung memperparah paparan seseorang terhadap konten-konten terorisme. Algoritma menciptakan echo chamber yang mempersempit perspektif pengguna dan memperbesar peluang terpapar narasi ekstrem seiring waktu. Tentu, algoritma bukanlah faktor utama radikalisasi, sekadar jadi akselerator melalui pola rekomendasi yang berulang hingga seseorang menjadi pro-terorisme.

BACA JUGA  Memutus Ekologi Terorisme: Antara Masyarakat, Ruang Digital, dan Radikalisasi

Dengan demikian, hari ini adalah fase Algorithmic Terrorism. Term ini dimaksudkan sebagai kerangka analitis untuk menjelaskan bagaimana algoritma digital telah menjadi bagian penting dari ekosistem terorisme kontemporer. Jika pada era New Terrorism internet jadi alat komunikasi dan propaganda, maka pada fase ini algoritma telah mengambil peran yang lebih strategis untuk menghubungkan orang-orang dengan kecenderungan serupa, dan mempercepat radikalisasi tanpa perlu struktur organisasi. Lewat algoritma, ideologi teror menyebar dan beregenerasi.

Terorisme hari ini menjadi persoalan ekosistem. Jika dulu negara berhadapan dengan kelompok yang punya pemimpin, markas, dan jaringan, maka kini negara juga menghadapi ruang digital yang bekerja tanpa batas geografis, tanpa komando, dan tanpa jeda waktu. Inilah era baru terorisme, ketika algoritma, platform digital, dan arsitektur informasi jadi bagian dari lingkungan strategis yang tidak lagi dapat dipisahkan dari pembahasan mengenai ancaman keamanan nasional itu sendiri.

Kungfu Baru Kontra-Terorisme

Perubahan lanskap ancaman menuntut perubahan cara berpikir dalam membangun sistem kontra-terorisme. Ini sudah disinggung di awal. Dua dekade terakhir, strategi kontra-terorisme di berbagai negara, termasuk Indonesia, berhasil menekan kemampuan operasional kelompok teroris melalui pendekatan hard approach, yaitu penegakan hukum hingga pemutusan aliran pendanaan. Namun, keberhasilan tersebut tidak serta-merta menghilangkan ancaman. Yang berubah hanyalah cara ideologi itu menyebar dan beregenerasi, bukan terorismenya yang mati.

Ketika terorisme memasuki ruang digital, strategi kontra-terorisme tidak lagi cukup berorientasi pada pembongkaran organisasi. Negara berhadapan dengan ekosistem yang kompleks, ketika propaganda, radikalisasi, dan rekrutmen berlangsung melalui algoritma medsos dan platform digital lintas yurisdiksi. Keberhasilan kontra-terorisme diukur dari kemampuan negara mencegah lahirnya teroris baru. Artinya, jika terorisme telah berganti ‘jurus’, maka kontra-terorisme pun membutuhkan ‘kungfu’ baru yang adaptif, proaktif, dan juga berbasis teknologi. Ada beberapa cara untuk itu.

Pertama, bertarung di arena yang sama (counter algorithm). Selama ini kontra-narasi dipahami sebagai upaya memproduksi konten yang anti-ekstremisme. Pendekatan tersebut tetap penting, tapi tak lagi memadai apabila mengabaikan cara kerja algoritma medsos. Sebagus apa pun pesan moderasi yang diproduksi akan sulit menjangkau kelompok sasaran jika tidak mampu menembus sistem rekomendasi platform digital.

Karena itu, strategi kontra-terorisme perlu bergerak ke arah counter algorithm. Fokusnya memastikan narasi tersebut memiliki peluang yang sama untuk muncul dalam ekosistem digital. Pemanfaatan search engine optimization (SEO), analisis tren pencarian, optimalisasi keyword, hingga kerja sama dengan platform teknologi untuk memperkuat distribusi konten yang kredibel menjadi niscaya. Untuk mengonter terorisme, negara perlu berupaya memengaruhi mekanisme penyebaran informasi yang membentuk perilaku pengguna di ruang digital.

Kedua, dari aparat ke Masyarakat (community-based early warning). Karakter terorisme yang semakin terdesentralisasi membuat deteksi dini tidak bisa sepenuhnya bergantung pada aparat. Banyak radikalisasi berlangsung di ruang privat, melalui gadget, forum gim daring, maupun medsos yang sulit dijangkau pendekatan konvensional. Karena itu, masyarakat mesti diposisikan sebagai bagian integral dari sistem peringatan dini (early warning system).

Guru, dosen, orang tua, tokoh agama, pekerja sosial, dan komunitas kreator konten memiliki peluang besar untuk mengenali perubahan perilaku seseorang melebihi aparat. Tujuannya membangun kapasitas masyarakat untuk mengenali indikator awal radikalisasi secara proporsional. Ketika masyarakat memiliki literasi memadai ihwal pola propaganda digital dan mekanisme kaderisasi, maka proses mitigasi bisa dilakukan jauh sebelum seseorang terlanjur jadi teroris.

Ketiga, AI vs AI. Kehadiran AI membuka peluang besar untuk meningkatkan efektivitas pelayanan public. Namun, pada saat yang sama, AI dimanfaatkan kaum radikal-teror untuk menghasilkan propaganda yang sangat masif, personal, dan sulit dibedakan dari konten biasa. Konten deepfake, otomatisasi distribusi pesan, hingga chatbot digunakan untuk memperluas jangkauan propaganda dengan biaya yang rendah bahkan cuma-cuma.

Karena itu, strategi kontra-terorisme hari ini juga perlu memandang AI sebagai instrumen pertahanan. Pemanfaatan AI untuk mendeteksi pola penyebaran propaganda, menganalisis perubahan narasi secara real-time, hingga membantu moderasi konten merupakan pilar penting dalam sistem keamanan nasional. Ketika para ekstremis memanfaatkan AI sebagai senjata baru, negara pun perlu mengembangkan kemampuan AI sebagai kungfu actual kontra-terorisme.

Keempat, dan ini paling sering disebut, yaitu ketahanan masyarakat digital (digital resilience). Tidak ada sistem teknologi yang mampu menggantikan ketahanan masyarakat. Algoritma efektif memengaruhi seseorang hanya apabila ada kerentanan yang bisa dieksploitasi, seperti rendahnya literasi digital, krisis identitas, atau minimnya kemampuan berpikir kritis. Karena itu, kungfu kontra-terorisme ke depan harus bertumpu pada pembangunan digital resilience.

Ketahanan digital di sini perlu dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi dan memahami cara kerja algoritma. Masyarakat yang memiliki daya tahan terhadap cara main algoritma akan sulit terpapar propaganda di ruang digital.

Transformasi dari New Terrorism ke Algorithmic Terrorism menuntut perubahan paradigma kontra-terorisme. Fokusnya ialah memutus rantai yang melahirkan ‘keterpaparan’ itu sendiri. Keberhasilannya diukur dari kemampuan negara membangun ekosistem digital, memperkuat resiliensi masyarakat, dan memastikan bahwa ruang siber tidak jadi lahan subur regenerasi terorisme. Kungfubaru kontra-terorisme tidak lagi menindak seperti dulu, tetapi ke arah pencegahan yang efisien dan mujarab. Sebab, algoritma harus dilawan dengan algoritma.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post