Harakatuna.com – Muharram, seperti biasa, kembali semarak propaganda khilafah oleh HTI. Namun, sekarang, tak ada lagi spanduk bertuliskan “Tegakkan Khilafah”. Tak terdengar lagi orasi lantang yang menyerukan penggantian sistem negara. Bahkan, hampir tidak ditemukan lagi poster-poster bernuansa agitasi politik seperti dekade lalu. Sebagai gantinya, ruang digital kini dipenuhi istilah-istilah yang terdengar personal dan menenangkan: Reset Your Life, Reconnect with Rasulullah, One Ummah, Journey, Healing, atau Soul. Semua dikemas elegan, video sinematik, dan dipromosikan para influencer.
Momentum Muharram 1448 H memperlihatkan transformasi tersebut secara nyata. Berbagai kegiatan bertema hijrah dan pembaruan diri bermunculan di medsos dengan kemasan yang sangat profesional. Amazing Muharram, misalnya, acara yang digelar di Hotel Ritz-Carlton Jakarta pekan depan, 12 Juli, dengan mengusung slogan Reset Your Life: Mind, Heart, and Action. Di saat yang hampir bersamaan, komunitas YukNgaji melalui jaringan YN Event mempromosikan rangkaian kegiatan bertajuk Reconnect with Rasulullah, Disconnect, hingga Ittiba’ yang dikemas layaknya festival anak muda, lengkap dengan sistem war ticket dan kampanye sold out di Instagram.
Sepintas, seluruh tema tersebut tampak sebagai tren dakwah urban yang menggabungkan spiritualitas, pengembangan diri, dan pembangunan komunitas. Tak ada slogan politik yang eksplisit, tak ada seruan terbuka untuk menegakkan khilafah, bahkan bahasa yang digunakan menghindari diksi-diksi yang identik dengan gerakan Islam politik. Justru di sinilah letak perubahan yang menarik untuk dicermati. Di era medsos, persuasi tidak bekerja melalui slogan yang keras, tetapi melalui simbol, pengalaman emosional, dan identitas kolektif yang dibangun perlahan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kontestasi gagasan telah memasuki fase yang berbeda. Jika sebelumnya mobilisasi ideologi banyak bertumpu pada ceramah massal, demonstrasi, atau distribusi buku-buku pemikiran, kini ruang perebutan pengaruh bergeser ke dalam ekosistem digital para influencer, lewat podcast, dan bertiket sebagai medium baru yang mampu menjangkau audiens lebih luas, khususnya generasi muda Muslim yang akrab dengan budaya medsos dan ekonomi kreatif.
Perubahan strategi propaganda HTI tersebut memperlihatkan adaptasi yang menarik. Perubahan medium diikuti oleh perubahan cara membingkai pesan. Narasi yang sebelumnya disampaikan secara langsung bergeser jadi implisit, menggunakan istilah-istilah universal dan mudah diterima publik. Bagi orang yang telah mengenal seluk-beluk propaganda HTI, simbol-simbol tersebut jelas diproyeksikan untuk lahirkan generasi pro-khilafah. Sementara bagi masyarakat awam, ia hadir sebagai tren dakwah kontemporer yang kalcer dan tidak mengancam.
Karena itu, pembahasan mengenai propaganda khilafah dewasa ini tidak lagi cukup dilakukan dengan mencari slogan-slogan eksplisit atau simbol-simbol lama. Tantangan utamanya terletak pada kemampuan membaca perubahan strategi komunikasi, penggunaan momentum seperti Muharram, serta menelaah bagaimana influencer dan industri event jadi medium penyebaran gagasan. Jargon reconnect, disconnect, atau one ummah adalah evolusi komunikasi politik propaganda khilafah.
Propaganda HTI Tak Lagi Agitatif
Kesalahan yang kerap terjadi dalam membaca propaganda adalah menganggap bahwa sebuah gerakan akan selalu menggunakan bahasa yang sama dari waktu ke waktu. Padahal, mereka selalu beradaptasi dengan perubahan konteks sosial, perkembangan teknologi, dan karakter audiens. Ketika diksi “tegakkan khilafah” tak lagi efektif atau bahkan memicu resistansi, strategi yang lazim ditempuh bukanlah menghentikan propaganda, melainkan mengubah caranya. Di situlah evolusi propaganda khilafah di Indonesia menarik untuk dicermati.
Lebih dari dua dekade terakhir, strategi komunikasi kelompok-kelompok pengusung khilafah menunjukkan perubahan yang signifikan. Pada fase awal, penyebaran gagasan ke-HTI-an dilakukan melalui halakah, liqa’, dan distribusi buletin atau majalah ideologis yang mengulas konsep khiafah dan Islam kafah. Sasaran utamanya ialah pembentukan kader melalui ruang-ruang pembelajaran yang tertutup, terutama di lingkungan kampus dan komunitas dakwah. Pada tahap tersebut, penguatan ideologi diprioritaskan, sementara perluasan audiens ditaruh setelahnya.
Memasuki fase berikutnya, komunikasi bergeser ke ruang publik melalui demonstrasi, konferensi khilafah, tablig akbar, hingga aksi-aksi massa yang secara terbuka mengusung slogan penegakan khilafah. Pada periode ini, identitas gerakan ditampilkan secara eksplisit sebagai strategi mobilisasi politik. Simbol-simbol organisasi, atribut, hingga narasi HTI tentang persatuan umat di bawah satu kepemimpinan kerap ditampilkan secara publik oleh anak-anak muda atau bahkan mahasiswa.
Perkembangan medsos kemudian kembali mengubah lanskap. Ketika ruang fisik semakin terbatas dan medsos menjadi arena utama, strategi propaganda HTI ikut bertransformasi. YouTube, Instagram, Facebook, podcast, hingga berbagai platform berbasis video pendek mulai dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pesan. Ceramah panjang bergeser jadi potongan video singkat, diskusi formal berubah jadi podcast, sementara infografik dan konten visual menggantikan pamflet maupun buku sebagai medium penyampaian gagasan.
Belakangan ini, seperti itulah cara HTI menebarkan propaganda. Penyampaiannya melalui bahasa yang personal dan emosional. Istilah seperti reset, reconnect, healing, journey, purpose, one ummah, hingga ittiba’ selalu muncul sebagai ganti narasi penegakan khilafah. Fokus komunikasi bergeser dari ajakan untuk mengubah sistem menuju ajakan memperbaiki diri dan membangun identitas sebagai bagian dari umat Muslim global. Pergeseran tersebut membuat pesan terasa begitu akrab, inklusif, dan mudah diterima oleh audiens yang luas.
Pada momentum Muharram hari ini, kecenderungannya sangat kentara. Sejumlah kegiatan yang dipromosikan melalui medsos mengangkat tema Reset Your Life, Reconnect with Rasulullah, Disconnect, One Ummah, hingga Ittiba’. Semua dikemas dengan visual modern, video sinematik, sistem penjualan tiket yang menyerupai konser, serta melibatkan figur-figur yang memiliki pengaruh besar di medsos. Ada pergeseran dari bahasa agitasi ke bahasa afirmasi, dari slogan konfrontatif ke narasi yang mengajak, menginspirasi, dan seolah menawarkan manifesto cinta Rasulullah.
Jika dahulu publik mudah mengenali sebuah gerakan melalui slogan dan simbol yang eksplisit, kini identifikasi memerlukan pembacaan yang cermat terhadap pola framing, pilihan istilah, serta ekosistem komunikasi yang mengitarinya. Di situ influencer menjadi aktor yang semakin strategis karena membentuk kepercayaan, kedekatan emosional, dan legitimasi terhadap para pengikutnya. Evolusi propaganda benar-benar memasuki babak baru: influencer menjelma sebagai propagandis.
Influencer jadi Propagandis
Jika dicermati saksama, rangkaian kegiatan bertema Muharram yang bermunculan sepanjang Juli ini memperlihatkan pola komunikasi yang relatif seragam. Sekilas, masing-masing acara tampak berdiri sendiri dengan penyelenggara, pembicara, maupun sasaran audiens. Namun pada level narasi, ditemukan benang merah berupa pemilihan diksi, desain komunikasi, dan cara membangun identitas yang saling beririsan. Alih-alih menggunakan istilah yang eksplisit seperti ‘khilafah’, syariah’, atau ‘negara Islam’, narasi justru dibangun melalui kata-kata yang universal dan emosional.
Istilah seperti reset, reconnect, disconnect, one ummah, dan ittiba’ muncul berulang dalam berbagai materi promosi. Secara bahasa, term reset, reconnect, disconnect, one ummah, dan ittiba’ itu memiliki makna yang lazim dalam diskursus keislaman. Namun ketika ditempatkan dalam satu ekosistem komunikasi yang sama, kemunculannya secara berulang membentuk sebuah framing yang menarik, untuk tidak mengatakan ‘meresahkan’.
Reset mengisyaratkan perlunya meninggalkan kondisi yang dianggap keliru. Reconnect mengandaikan adanya relasi yang telah terputus dan perlu disambungkan kembali. Sebaliknya, Disconnect membangun persepsi bahwa terdapat sistem, cara hidup, atau tatanan yang telah menjauh dari ajaran Rasulullah. Sementara one ummah menonjolkan gagasan mengenai persatuan umat sebagai identitas politik sekaligus sosial yang melampaui batas-batas negara bangsa.
Yang menarik, semua istilah tersebut tidak disampaikan dalam bentuk ceramah ideologis, tetap dikemas sebagai self-improvement. Tema besar yang diangkat bukan lagi ‘menegakkan khilafah’, tetapi ‘memperbaiki hidup’, ‘menjernihkan hati’, ‘membangun koneksi dengan Rasulullah’, bahkan ‘menemukan kembali tujuan hidup’. Hal itu membuat narasi ideologis hadir sebagai lapisan makna yang dibangun secara bertahap melalui proses identifikasi emosional, bukan propaganda frontal.
Strategi pemasarannya pun demikian. Acara ke-HTI-an tak lagi dipromosikan sebagai pengajian atau tablig akbar, melainkan sebagai premium event. Penggunaan sistem war ticket, penyelenggaraan di hotel berbintang, desain visual yang menyerupai konferensi profesional, serta video promosi bergaya sinematik menunjukkan adanya upaya membangun persepsi eksklusivitas. Strategi marketing semacam itu mampu meningkatkan FOMO yang kalau tidak hadir maka dianggap terasa kurang kalcer.
Pemilihan influencer sebagai wajah utama promosi semakin memperkuat strategi tersebut. Menariknya, figur yang ditampilkan bukan berasal dari kalangan aktivis yang identik dengan gerakan politik Islam, melainkan tokoh-tokoh yang dulnya dikenal melalui dakwah populer, pengembangan diri, atau aktivitas profesional lainnya. Dengan demikian, titik berat komunikasi bergeser dari otoritas organisasi menuju kredibilitas personal. Audiens tidak terlebih dahulu berinteraksi dengan sebuah ‘ideologi’, tetapi dengan ‘figur’. Dan ini mujarab sekali sebagai evolusi propaganda.
Jika pola-pola tersebut dibaca secara keseluruhan, ruang kontestasi gagasan benar-benar telah mengalami pergeseran. Yang diperebutkan bukan lagi sekadar persetujuan terhadap sebuah konsep politik, melainkan pembentukan identitas, rasa memiliki terhadap komunitas, dan pengalaman spiritual yang dikemas sesuai selera kelas menengah Muslim urban. Sekarang influencer tidak sekadar berfungsi sebagai media promosi, namun menjadi simpul utama dalam proses normalisasi dan distribusi propaganda kepada generasi muda bahkan tanpa mereka menyadarinya.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

















Leave a Comment