Harakatuna.com – Tiga minggu lalu, jika berbicara soal ‘NKRI’, rasanya kiamat nasional ada di depan mata. Rupiah melemah hingga 18.000/USD. IHSG ambruk lebih dari 30% secara YTD. Mahasiswa mulai ancam rezim yang korup dengan reformasi jidil dua. Masyarakat bawah sudah khawatir karena semua harga kebutuhan hidup melonjak, mulai dari BBM hingga sembako. Rakyat menjerit, sementara Presiden Prabowo seperti tidak dapat kabar karena difilter si Teddy. Rasa kebangsaan diuji.
Hari ini adalah 1 Muharam. Tahun Baru Islam 1448 H datang saat NKRI sedang menghadapi ujian bertubi yang tak ringan. Gejolak pasar keuangan, keluarnya modal asing, dan pesimisme terhadap prospek ekonomi nasional bukan masalah sepele. Ujiannya adalah ketahanan sosial bangsa. Ketika tekanan ekonomi mulai dirasakan masyarakat, dan ketidakpastian masa depan membesar, maka kepercayaan publik merupakan hal terakhir yang wajib dijaga. Atau, chaos akan segera terjadi.
Kepercayaan kepada rezim, kepada pemimpin, dan kepercayaan bahwa keadaan akan semakin baik itu niscaya. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan akan jadi persoalan sosial yang luas apabila tak diimbangi kebijakan yang responsif dan kemampuan masyarakat menjaga solidaritasnya. Tanpa resiliensi, masyarakat akan terjebak dua kutub berbahaya: pesimisme dan saling menyalahkan. Indikasinya jelas: medsos riuh oleh pro-kontra, dan gejolak mahasiswa terjadi di mana-mana.
Di sinilah Muharam menemukan relevansinya. Ini bukan hanya penanda pergantian waktu, melainkan reminder bahwa setiap peradaban besar lahir dari kemampuan menghadapi ujian. Hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah terjadi di tengah tekanan dan ancaman. Contoh lainnya, tragedi Karbala berlangsung di tengah pergulatan politik dan krisis moral yang mengguncang umat. Keduanya mewariskan keberanian menghadapi tantangan dan kemampuan mengubah krisis jadi titik balik perubahan.
Karena itu, Muharam 1448 H tidak cukup berhenti pada seremoni pawai obor atau ucapan selamat tahun baru di stori WhatsApp. Muharam perlu dimaknai sebagai momentum muhasabah kebangsaan. Sebagaimana hijrah mengubah arah sejarah Islam, Indonesia pun memerlukan keberanian memperbaiki berbagai kelemahan dan meneguhkan kembali modal sosial yang selama ini jadi kekuatan utama bangsa. Masa depan NKRI ditentukan kemampuan rakyat menjaga persatuan dan harapan di tengah berbagai tantangan.
Muharram: Titik Balik Perubahan Sosial
Secara historis, Muharam merupakan simbol lahirnya babak baru peradaban. Penetapan kalender Hijriah oleh Khalifah Umar bin Khattab tidak didasarkan pada kelahiran Rasulullah SAW atau momentum kemenangan perang, tetapi pada peristiwa hijrah. Artinya, perubahan besar dalam sejarah umat manusia lahir dari keberanian meninggalkan kondisi lama menuju tatanan yang lebih baik. Hijrah adalah simbol transformasi sosial-politik menuju peradaban yang tamadun.
Ketika Rasulullah tiba di Madinah, yang dibangun pertama kali bukanlah benteng atau pusat kekuasaan. Nabi justru membangun fondasi sosial: persaudaraan dan keadilan. Masjid jadi pusat pembinaan spiritual sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat. Kaum Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan untuk menghapus sekat sosial-ekonomi. Melalui Piagam Madinah, Rasulullah memperkenalkan prinsip egalitarianisme, persis konsep nation-state di zaman ini.
Dari kota yang sebelumnya dihuni oleh berbagai kelompok yang saling bersaing, Madinah berubah jadi model masyarakat yang berlandaskan kemanusiaan, persaudaraan, dan hukum. Hijrah menemukan makna sosialnya sebagai titik lahirnya peradaban. Dari hijrah Nabi dan segala perjuangan di dalamnya melahirkan peradaban Islam yang adidaya. Melalui hijrah, masyarakat bangkit menuju visi, solidaritas, dan keteguhan moral peradaban.
Muharam juga menyimpan pelajaran besar lainnya melalui peristiwa Karbala pada 10 Muharam 61 H. Tragedi yang menimpa Imam Husain bin Ali dan para merupakan simbol perjuangan moral melawan ketidakadilan. Karbala menunjukkan bahwa kekuatan sejati diukur dari kemampuan mempertahankan prinsip kebenaran di tengah berbagai tekanan. Karbala menginspirasi Muslim, khususnya Syiah, khususnya lagi Iran hari ini, soal nilai keberanian, pengorbanan, dan keteguhan memperjuangkan keadilan.
Semangat perjuangan, pengorbanan, dan resistansi terhadap penindasan yang diwariskan oleh Karbala hidup dalam tradisi keagamaan, identitas sosial, dan budaya Masyarakat Iran. Terlepas dari berbagai perbedaan interpretasi historis, Karbala menunjukkan bahwa sebuah tragedi bisa melahirkan energi sosial yang bertahan lintas generasi. Dari luka sejarah yang mendalam, lahir kesadaran kolektif ihwal arah perjalanan suatu bangsa dan peradaban.
Jadi, kata kuncinya adalah ‘titik balik perubahan sosial’. Ini bisa diterapkan untuk NKRI. Sesuram apa pun masa depan, tidak ada cara selain mengupayakan yang terbaik hari ini. Resiliensi adalah harga mati, karena tekanan dan provokasi akan selalu ada. Bahkan jika pemerintah berperilaku seburuk rezim Firaun, karena korupsi dan brutalitas kebijakan, masyarakat perlu tetap resilien sebagai bangsa. Dan 1 Muharam hari ini dapat diaktualisasi sebagai titik perubahan dan kebangkitan.
Hijrah melahirkan Madinah sebagai model negara yang tamadun, sementara Karbala melahirkan warisan moral tentang keberanian mempertahankan kebenaran. Sejarah selalu bergerak maju melalui ujian, pengorbanan, dan perjuangan. Tidak ada peradaban besar yang lahir tanpa menghadapi tantangan. Tidak ada bangsa yang menjadi kuat tanpa melewati masa-masa sulit. Segala gejolak di NKRI justru harus menjadi titik tolak revitalisasi kebangsaan.
NKRI di Tengah Gejolak
Wajib diakui, Indonesia hari ini menghadapi situasi yang tak ringan. Di bidang ekonomi, masyarakat merasakan tekanan akibat naiknya biaya hidup, melemahnya daya beli, dan ketidakpastian ekonomi global yang berdampak hingga ke tingkat rumah tangga. Fluktuasi nilai tukar rupiah, gejolak pasar modal, serta kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi jadi ‘obrolan’ publik yang terdengar begitu menakutkan. Kuartal III nanti bahkan ada yang memprediksi akan terjadi resesi.
Saat ini, ruang publik dipenuhi oleh kegaduhan yang memperbesar rasa cemas dan ketidakpastian. Di tengah situasi tersebut, tantangan yang tidak kalah serius adalah munculnya jarak psikologis antara masyarakat dan institusi publik. Berbagai kebijakan rezim yang dinilai tidak berpihak, kasus-kasus korupsi yang terus bermunculan, serta buruknya komunikasi pemerintah mengenai arah kebijakan telah memunculkan skeptisisme akut di kalangan masyarakat dan investor.
Padahal, kepercayaan publik merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi sebuah bangsa. Ketika kepercayaan mengalami erosi, maka setiap kebijakan, sebaik apa pun tujuannya, akan dicurigai alih-alih diterima. Maka, hari ini, yang dipertaruhkan bukan efektivitas pemerintahan semata, namun juga kualitas ‘trust relation’ antara negara dan warga negara. Sebab, gejolak yang dihadapi Indonesia kompleks, bersifat ekonomi, politik, juga sosial-kultural.
Karena itu, Tahun Baru Islam mengajak umat melakukan muhasabah diri, sekaligus mendorong adanya muhasabah kebangsaan. Muharam mengingatkan bahwa setiap masyarakat, juga negara, bisa mengalami masa-masa sulit yang menguji keteguhan dan ketahanan sosialnya. Namun sejarah mengajarkan bahwa ujian merupakan amunisi. Dari berbagai krisis, lahirlah kesempatan untuk memperbaiki kelemahan, memperkuat persatuan, dan membangun kembali kepercayaan publik.
Pelajaran tersebut sangat jelas dalam sejarah Islam. Hijrah melahirkan Madinah sebagai model masyarakat yang mampu mengubah tekanan jadi kekuatan dan perbedaan jadi persaudaraan. Karbala mengajarkan bahwa keteguhan mempertahankan prinsip akan melampaui kekalahan secara fisik. Kedua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa peradaban besar selalu lahir dari kemampuan menghadapi krisis dengan visi yang jelas dan fondasi moral kebangsaan yang kokoh.
Indonesia pun menghadapi pilihan yang sama. Gejolak yang terjadi hari ini dapat menjadi sumber perpecahan apabila direspons dengan saling menyalahkan. Tapi, bisa juga menjadi titik tolak kebangkitan apabila dijadikan momentum untuk memperkuat integritas, keadilan, dan solidaritas sosial. Pilih mana? Masyarakat dan pemerintah sama-sama memiliki peran. Sekali lagi, resiliensi adalah harga mati. Jika tidak, maka NKRI akan mudah digonjang-ganjing.
Resiliensi sosial NKRI ditentukan oleh kemampuan masyarakat menjaga harapan dan persatuan di tengah berbagai tekanan. Bangsa yang tangguh bukanlah bangsa yang tak pernah mengalami krisis, melainkan bangsa yang mampu belajar dari setiap krisis dan bangkit dengan kualitas yang lebih baik. Semangat Muharam mengajarkan bahwa perubahan selalu dimulai dari kesadaran untuk berbenah dan keberanian untuk melangkah.
Berbagai tantangan kebangsaan bukan masalah, jika resiliensi sosial telah merata di semua pihak. Kalau bukan masyarakat dan pemerintah sendiri, siapa yang hendak menjaga NKRI? Berharap kepada pihak luar, baik dalam ekonomi maupun politik, akan selalu memiliki efek samping, yaitu pertaruhan sebagai bangsa yang berdaulat. []
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

















Leave a Comment