Khilafah Tanpa Kata “Khilafah”: Rebranding Propaganda HTI di Momentum Muharam

Ahmad Khairi

10/07/2026

5
Min Read
Propaganda Khilafah Muharam

Harakatuna.com – Ada satu perubahan yang sering sekali luput dari perhatian orang-orang saat membaca propaganda hari ini: kata-kata yang paling berpengaruh justru yang paling halus. Propaganda sekarang bekerja melalui pilihan diksi yang cukup akrab, menyentuh sisi emosional target, dan nyaris tak mengundang kecurigaan. Ketika suatu istilah menjadi sensitif di ruang publik, bahasa akan mencari jalannya sendiri: berganti rupa, berganti bunyi, tetapi arahnya sama, yakni meracuni anak-anak muda.

Fenomena menarik di momen Muharam hari ini. Alih-alih diramaikan slogan-slogan yang mengusung gagasan khilafah sebagaimana satu dekade silam, medsos justru dipenuhi istilah-istilah familiar seperti Reset Your Life, Reconnect with Rasulullah, Disconnect, Ittiba’, dan One Ummah. Tidak ada kata “khilafah”. Tidak ada pula seruan merombak sistem negara. Namun, istilah-istilah itu dipromosikan oleh pihak yang rekam jejaknya jelas: ideolog dan simpatisan HTI.

Penelusuran terhadap event-event komunitas dakwah dua tahun terakhir menunjukkan kesinambungan yang menarik. Acara Reconnect with Qur’an, Ittiba’ Roadshow, Majelis Cinta Quran, hingga Ittiba’ Disconnect yang berlangsung di Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Tangerang Selatan adalah bukti-bukti yang tak terbantahkan. Jika dipetakan secara kronologis, event-event tadi menyerupai ekosistem ideologisasi yang digawangi oleh para ideolog HTI.

Artinya, saat ini, kontestasi gagasan telah memasuki babak baru. Propagandanya berlangsung melalui mekanisme yang super halus. Bahasa pengembangan diri bertemu dengan bahasa dakwah, psikologi dipadukan dengan spiritualitas, sementara algoritma medsos memperluas jangkauan pesan kepada audiens yang notabene generasi muda. Yang dijual bukan lagi gagasan soal pendirian negara Islam, melainkan pengalaman, identitas, dan rasa putus diri atas predikat ‘Islam ideal’.

Itulah kenapa kata “khilafah” sudah semakin ditinggalkan, kendati khilafahisasi tetap berlanjut. Propaganda khilafah telah diproduksi secara konsisten sebagai ekosistem komunikasi. Hari-hari ini, momen Muharam dimanfaatkan sebagai ruang rebranding narasi, bagaimana jejaring komunitas dan influencer membentuk kesinambungan pesan, serta bagaimana suatu propaganda tetap beredar tanpa harus lagi mengucapkan kata yang sudah berkonotasi negatif di tanah air.

Event-event Propaganda Muharam

Kegiatan-kegiatan menjelang dan selama Muharam ini tampak seperti agenda dakwah yang berdiri sendiri, tidak terafiliasi secara ideologis dengan HTI. Masing-masing punya nama, tema, pembicara, dan penyelenggara yang berbeda. Ada yang mengangkat semangat hijrah, ada yang menawarkan pengembangan diri, ada pula yang membahas sejarah peradaban Islam. Namun, di balik keragaman tajuk dan kemasannya, ada kesinambungan narasi dan aktor yang saling beririsan.

Komunitas YukNgaji, YN Event, dan Cinta Quran Foundation secara konsisten membangun rangkaian kegiatan yang tidak insidental, melainkan berkelanjutan. Goes to Ramadhan Fun Walk di Sentul, Reconnect With Qur’an, Ittiba’ Reconnect, Way To Faith (WTF), dan Amazing Quran, semuanya merupakan event propaganda yang memanfaatkan Muharam sebagai momentum. Proses diseminasi tidak bertumpu pada struktur tertentu, namun berlangsung melalui jaringan yang adaptif.

Hampir seluruh event menggunakan pendekatan yang identik dengan industri creative event. Desain visual dibuat modern, video promosi diproduksi secara sinematik, penjualan tiket pakai mekanisme war ticket, dan penyelenggaraannya di ballroom hotel atau tempat-tempat eksklusif. Yang ditawarkan juga bukan sekadar materi kajian, melainkan pengalaman menghadiri sebuah event yang ‘berkelas’ sekaligus membangun identitas sebagai bagian dari ‘generasi muda pecinta Islam’.

Itulah mengapa seluruh event tersebut menyasar generasi muda Muslim perkotaan, mahasiswa, atau anak-anak muda yang akrab dengan medsos. Tema-tema yang diangkat pun sengaja dikaitkan dengan persoalan seputar pencarian makna hidup, fenomena Korean Wave, hingga refleksi spiritual Muharam. Dakwah diposisikan sebagai ruang membangun identitas, jejaring sosial, dan pengalaman kolektif yang berkelanjutan, dan sama sekali bukan pemaksaan ala propaganda ‘jadul’.

BACA JUGA  Peluru di Dekat Gedung Putih dan Matinya Pola Lama Kontra-Terorisme

Jika seluruh potongan event tersebut disusun jadi satu peta, maka jelas bahwa yang para propagandis sedang bangun adalah ekosistem komunikasi. Ekosistem yang dimaksud memungkinkan suatu narasi terus direproduksi tanpa harus bergantung pada satu forum atau satu momen saja. Bahasa yang dipilih dalam setiap event juga, seperti disinggung pada tulisan sebelumnya, tak lagi secara eksplisit menyebut ‘khilafah’. Propagandanya baru karena term ‘khilafah’ dianggap tercemar.

Kata “Khilafah” Sudah Usang?

Ketika suatu term memunculkan resistansi publik, strategi komunikasi akan bergeser ke penggunaan bahasa yang universal dan mudah diterima. Jelas tidak berarti ada perubahan tujuan, sekadar perubahan cara mem-framing pesan. Rangkaian kegiatan bertema Muharam, misalnya, tidak ada satu pun poster yang secara eksplisit mengusung kata khilafah, namun hampir seluruhnya menampilkan pilihan istilah yang saling berkaitan dan membentuk pola propaganda.

Kata reset, misalnya. Propagandanya tidak bekerja dengan langsung menawarkan sistem pengganti NKRI, melainkan terlebih dahulu membentuk kesadaran bahwa ada kondisi yang bermasalah dari republik ini. Terjadi proses membangun problem framing, yaitu mengajak audiens menerima premis bahwa perubahan sistem merupakan sebuah kebutuhan. Lanjutan dari reset adalah disconnect, untuk membangun persepsi bahwa sistem negara ini terputus dari ajaran Rasulullah.

Setelah itu, lanjut lagi ke term ittiba’, yang berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan untuk berubah (reset), kesadaran akan adanya keterputusan (disconnect), hingga ajakan mengikuti model sistem politik yang dipersepsikan sebagai representasi autentik dari Islam. Apa itu? Jelas, “khilafah”. Apakah istilah itu kemudian dipakai? Ternyata tidak. Mereka pakai istilah ‘one ummah’, ‘Islam kaffah’, dan term-term lainnya yang bisa diterima anak-anak muda.

Dalam perspektif siyasah Islam, konsep one ummah di bawah satu kepemimpinan relatif sering dibahas. Karena itu, ketika istilah tersebut muncul bersama reset, reconnect, disconnect, dan ittiba’, ia menjadi konstruksi narasi yang HTI-oriented, kendati orang-orang tidak menyadarinya. Term “khilafah” dianggap usang bukan karena tak lagi diperjuangkan. Esensinya tetap eksis dan diperjuangkan, namun strateginya diperbarui—dibuat lebih membius dan memukau.

Jika seluruh istilah tersebut dibaca secara parsial, tidak ada satu pun yang dapat langsung diidentifikasi sebagai propaganda khilafah. Padahal istilah-istilah tersebut tidak muncul secara acak, dan hadir berulang di berbagai roadshow, seminar, kelas intensif, hingga kegiatan Muharam, dipromosikan oleh jejaring komunitas yang pro-khilafah, serta diperkuat oleh sosok-sosok yang juga muncul secara berulang dalam berbagai kegiatan ke-HTI-an.

Inilah yang disebut rebranding propaganda HTI. Kata “khilafah” tidak lagi hadir di permukaan, cukup dengan membangun ekosistem bahasa yang mengarahkan audiens pada kerangka berpikir tertentu, pesan dapat disampaikan dengan cara yang sangat halus dan mudah diterima. Muharam, bulan yang identik dengan hijrah dan refleksi diri menyediakan konteks yang ideal bagi reproduksi narasi tersebut. Di situlah evolusi propaganda mencapai bentuknya yang paling adaptif melalui bahasa yang sederhana dan nyaris tak menimbulkan kecurigaan bahwa ia sedang mempropagandakan khilafah.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post