Harakatuna.com. Sanaa – Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan akan menyampaikan sebuah “pernyataan penting” pada Senin (20/7/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta berlanjutnya tekanan militer terhadap Yaman.
Pengumuman tersebut disampaikan Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree, melalui pernyataan singkat pada Ahad (19/7/2026). Meski tidak menjelaskan isi pernyataan yang akan disampaikan, Saree menegaskan bahwa langkah tersebut mencerminkan sikap yang sejalan dengan aspirasi rakyat Yaman.
Belum adanya rincian resmi memunculkan berbagai spekulasi mengenai kemungkinan kebijakan strategis maupun langkah militer yang akan diumumkan oleh otoritas di Sanaa. Sebelumnya, anggota Biro Politik Ansarallah, Abdullah al-Nuaimi, telah memperingatkan bahwa kawasan Timur Tengah berada di ambang eskalasi yang lebih besar.
Dalam wawancara dengan Al Mayadeen, ia menilai agresi Amerika Serikat terhadap Iran serta blokade yang terus diberlakukan terhadap Yaman berpotensi memicu konflik yang lebih luas. “Jika konflik meluas, Amerika Serikat akan menjadi pihak yang paling dirugikan,” kata al-Nuaimi.
Terkait Bandara Internasional Sanaa, al-Nuaimi menyatakan bahwa bandara tersebut kini terbuka bagi penerbangan dari berbagai negara. Namun, ia memperingatkan bahwa setiap upaya Arab Saudi untuk mencegat penerbangan menuju atau keluar dari Sanaa akan memicu respons menyeluruh yang berpotensi meningkatkan eskalasi di kawasan.
Ia juga mengklaim bahwa Arab Saudi memiliki banyak target strategis yang kini berada dalam jangkauan rudal dan drone Yaman. Di tengah meningkatnya ketegangan, ribuan warga menggelar demonstrasi di Sanaa dan sejumlah provinsi lain di Yaman dalam aksi bertajuk Jumat Peringatan dan Mobilisasi.
Massa menyatakan dukungan penuh kepada pemimpin Ansarallah, Abdul Malik al-Houthi, yang sebelumnya menegaskan bahwa blokade terhadap Yaman merupakan bentuk perang yang akan dibalas secara setimpal. Al-Houthi juga memperingatkan bahwa apabila Arab Saudi meningkatkan operasi militernya, Yaman akan merespons dengan strategi yang disebut sebagai “blokade dibalas blokade”, termasuk dengan menargetkan fasilitas minyak dan infrastruktur strategis Arab Saudi.
Sementara itu, al-Nuaimi mengungkapkan bahwa Ansarallah telah menolak sejumlah tawaran dari Arab Saudi yang disebut mencakup insentif finansial maupun perluasan pengaruh wilayah. Menurutnya, sikap politik dan militer Ansarallah tetap sejalan dengan apa yang mereka sebut sebagai Poros Perlawanan, yang dipandang sebagai satu kesatuan dalam menghadapi dinamika konflik di kawasan.

















Leave a Comment