Penembakan Massal di Sekolah

Ayik Heriansyah

20/07/2026

3
Min Read
penembakan

Harakatuna.com – Serupa tapi tak sama, jika di Indonesia terjadi pemboman di sekolah, di Amerika penembakan massal. Dalam tiga tahun terakhir, Amerika Serikat kembali mengalami serangkaian penembakan massal di institusi pendidikan yang sebagian besar dilakukan oleh pelaku tunggal. Pada 4 Januari 2024, seorang siswa berusia 17 tahun melakukan penembakan di Perry High School, Lowa.

Dua orang meninggal dunia, yakni seorang siswa dan kepala sekolah yang kemudian meninggal akibat luka-lukanya, sementara enam orang lainnya mengalami luka-luka. Pelaku kemudian bunuh diri.

Pada 4 September 2024, penembakan terjadi di Apalachee High School, Georgia. Pelaku yang masih berusia 14 tahun menewaskan dua siswa dan dua guru serta melukai sembilan orang lainnya. Penyelidikan juga menyoroti riwayat persoalan perilaku dan kesehatan mental pelaku, sedangkan ayahnya diproses hukum karena memberikan akses terhadap senjata api.

Peristiwa berikutnya terjadi pada 16 Desember 2024 di Abundant Life Christian School, Madison, Wisconsin. Seorang siswi berusia 15 tahun menembak seorang guru dan seorang siswa hingga tewas serta melukai enam orang lainnya sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Aparat tidak menemukan bukti bahwa aksi tersebut dilakukan untuk kepentingan politik, ideologi, ataupun agama.

Memasuki tahun 2025, penembakan kembali terjadi di Antioch High School, Nashville, Tennessee. Pada 22 Januari, seorang siswa berusia 17 tahun menembak seorang siswi hingga tewas dan melukai seorang siswa lainnya di kantin sekolah sebelum bunuh diri. Penyelidikan lebih banyak menyoroti latar belakang pribadi dan aktivitas pelaku daripada dugaan keterlibatan jaringan terorisme.

Pada 17 April 2025, penembakan massal terjadi di kampus Florida State University, Tallahassee. Dua pegawai universitas tewas dan tujuh orang lainnya terluka ketika seorang mahasiswa melepaskan tembakan di sekitar Student Union. Hingga proses penyidikan berlangsung, aparat tidak mengklasifikasikan peristiwa tersebut sebagai aksi terorisme bermotif politik atau ideologi.

Rangkaian kasus tersebut memperlihatkan pola yang relatif sama. Sebagian besar dilakukan oleh lone actor, tidak memiliki afiliasi dengan organisasi teroris, tidak membawa tuntutan politik, dan tidak bertujuan memaksakan perubahan kebijakan negara. Motif yang lebih sering muncul adalah persoalan psikologis, konflik personal, keterasingan sosial, pengalaman hidup yang negatif, atau krisis identitas.

BACA JUGA  Khilafah di Amerika: Peluang dan Tantangan

Karena itu, penembakan massal semacam ini tidak selalu tepat dipahami melalui paradigma terorisme. Dibutuhkan perspektif yang mampu membedakan kekerasan massal bermotif personal dengan kekerasan yang bertujuan politik atau ideologis. Dalam konteks tersebut, konsep Non-Terrorism Mass Violence (NTMV) menawarkan kerangka analisis yang lebih presisi.

Non-Terrorism Mass Violence merupakan kekerasan massal yang tidak bertujuan mencapai tujuan politik, ideologi, maupun agama. Kekerasan dilakukan sebagai pelampiasan atas konflik personal, tekanan psikososial, atau pengalaman hidup yang negatif. Dengan demikian, senjata api hanyalah instrumen, sedangkan karakter suatu tindakan ditentukan oleh motif dan tujuan pelakunya.

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui General Strain Theory yang dikembangkan Robert Agnew. Agnew menjelaskan bahwa individu dapat mengalami strain akibat perundungan, penghinaan, penolakan sosial, kehilangan hubungan yang bermakna, perlakuan tidak adil, atau kegagalan mencapai harapan tertentu. Pengalaman-pengalaman tersebut melahirkan emosi negatif berupa marah, frustrasi, malu, dan dendam.

Menurut Agnew, sebagian besar orang mampu mengelola tekanan tersebut secara konstruktif. Namun, pada individu yang memiliki kontrol diri rendah, dukungan sosial yang lemah, atau akses yang mudah terhadap senjata api, akumulasi strain dapat berkembang menjadi kekerasan ekstrem. Dalam konteks Amerika Serikat, kemudahan memperoleh senjata api menjadi salah satu faktor yang dapat memperbesar dampak ketika strain berubah menjadi tindakan kekerasan.

Perspektif Non-Terrorism Mass Violence membantu menghindari kesalahan klasifikasi terhadap penembakan massal. Tidak setiap penembakan massal merupakan terorisme, sehingga respons negara tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan kontra-terorisme. Pencegahan juga harus menyentuh akar persoalan berupa kesehatan mental, perundungan, keterasingan sosial, penguatan keluarga, lingkungan sekolah, serta sistem dukungan komunitas.

Dengan demikian, memahami penembakan massal melalui perspektif Non-Terrorism Mass Violence akan menghasilkan diagnosis yang lebih akurat sekaligus kebijakan yang lebih efektif. Memisahkan terorisme dari kekerasan massal bermotif personal bukan berarti mengurangi keseriusan tindak pidananya, melainkan memastikan bahwa penyebab beda dan penanganannya jangan disamakan.

Leave a Comment

Related Post