Masjid Agung Paris Soroti Ancaman Polarisasi dan Radikalisme Jelang Pemilu Prancis

Ahmad Fairozi, M.Hum.

19/07/2026

3
Min Read
Masjid Agung Paris Soroti Ancaman Polarisasi dan Radikalisme Jelang Pemilu Prancis

Harakatuna.com. Paris – Masjid Agung Paris memperingati 100 tahun berdirinya dengan menyerukan pentingnya memperkuat dialog antaragama dan menjaga persatuan nasional di tengah meningkatnya polarisasi politik serta sentimen anti-Muslim di Prancis. Peringatan tersebut juga menjadi momentum untuk mengingatkan bahaya radikalisme dan ekstremisme yang dapat mengancam kohesi sosial.

Rektor Masjid Agung Paris, Chems-eddine Hafiz, menegaskan bahwa umat Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Prancis. Menurutnya, menjaga persatuan nasional merupakan tanggung jawab bersama, terutama ketika isu agama kerap dimanfaatkan dalam dinamika politik menjelang pemilihan presiden tahun depan. “Merupakan tanggung jawab kita semua untuk melihat umat Islam sebagai bagian dari komunitas nasional,” ujar Hafiz kepada The Associated Press (AP).

Masjid Agung Paris dibangun pada 1926 sebagai bentuk penghormatan kepada ribuan tentara Muslim dari wilayah koloni Prancis yang gugur dalam Perang Dunia I saat membela negara tersebut. Kini, bangunan bersejarah itu tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol keberagaman dan dialog lintas agama di Prancis.

Dalam peringatan seabad masjid tersebut, ratusan jamaah dari berbagai latar belakang menghadiri salat dan doa bersama. Mereka berasal dari berbagai wilayah di sekitar Paris, termasuk warga keturunan Aljazair, Senegal, dan negara-negara Afrika lainnya yang memiliki ikatan sejarah dengan Prancis.

Hafiz mengingatkan bahwa sejarah Masjid Agung Paris juga mencerminkan nilai kemanusiaan yang melampaui perbedaan agama. Pada masa pendudukan Nazi dalam Perang Dunia II, imam masjid saat itu, Abdelkader Mesli, membantu menyelamatkan warga Yahudi dengan menyediakan tempat perlindungan dan dokumen identitas palsu. Atas tindakannya tersebut, Mesli ditangkap dan dideportasi ke kamp konsentrasi sebelum akhirnya selamat dan kembali ke Prancis dalam kondisi kesehatan yang memburuk.

BACA JUGA  Trump Optimistis Negosiasi Iran Dibuka Lagi dalam Dua Hari

Menurut Hafiz, ketika masjid itu diresmikan, Presiden Prancis saat itu, Gaston Doumergue, menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang memperkokoh persatuan bangsa. “Saya meyakini bahwa kemauan politik dan pesan politik itu tidak berubah sejak 1926. Masalahnya terletak pada sikap sebagian masyarakat. Hingga hari ini, tindakan anti-Muslim masih terjadi. Islam sering disalahpahami, dan pembicaraan tentang Islam atau umat Islam kerap memicu permusuhan,” kata Hafiz.

Dalam beberapa tahun terakhir, Prancis menghadapi tantangan kompleks terkait hubungan antarumat beragama. Di satu sisi, negara tersebut berupaya mencegah penyebaran ekstremisme menyusul serangkaian serangan teror yang dilakukan kelompok ekstremis atas nama Islam dalam satu dekade terakhir. Namun di sisi lain, meningkatnya stigma terhadap komunitas Muslim juga dinilai berpotensi memperdalam polarisasi sosial apabila tidak diimbangi dengan pendekatan yang inklusif.

Situasi tersebut semakin mengemuka menjelang pemilihan presiden Prancis, di mana isu Islam, imigrasi, dan identitas nasional kembali menjadi salah satu tema utama dalam perdebatan politik.

Relawan Masjid Agung Paris, Fatma Chouchane, berharap masyarakat Prancis dapat memberikan ruang bagi setiap warga untuk menjalankan keyakinannya tanpa diskriminasi. “Saya meminta Prancis membiarkan mereka hidup dengan tenang dan memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk menjalankan pilihan agamanya,” ujarnya.

Peringatan seabad Masjid Agung Paris menjadi pengingat bahwa upaya mencegah radikalisme tidak hanya dilakukan melalui pendekatan keamanan, tetapi juga dengan memperkuat dialog antaragama, mengurangi diskriminasi, serta membangun rasa saling percaya di tengah masyarakat yang majemuk.

Leave a Comment

Related Post