32 C
Jakarta

Mensterilkan Generasi Muda dari Jeratan Paham Radikal

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMensterilkan Generasi Muda dari Jeratan Paham Radikal
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Generasi muda selalu menjadi kelompok yang rentan dan mudah dipengaruhi oleh berbagai macam ideologi, termasuk kelompok yang berpaham radikal. Dalam diskursus psikologi, sifat transisi dari masa anak-anak ke remaja berdampak pada krisis identitas dan pencarian jati diri. Itu yang menjadi peluang bagi masuknya ideologi tertentu.

Berdasarkan data Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP), terdapat sekitar 52% siswa dan mahasiswa telah mengakses dan terkontaminasi virus radikal dan intoleran. Hal itu tentu tidak boleh dianggap remeh, karena terorisme dimulai dari adanya pengaruh paham radikal yang pada akhirnya terinternalisasi menjadi mindset generasi muda itu sendiri.

Tingginya pendidikan yang ditempuh pemuda, tidak lantas menjamin terimplementasinya sikap moderat dan toleran dalam menyikapi suatu perbedaan. Dalam berbagai pemberitaan, kita sering dipertontonkan realitas sosial yang menunjukkan kasus kekerasan, intoleran sampai pertikaian antarpelajar dengan aktor utamanya adalah para generasi muda.

Sederet permasalahan dalam dunia pendidikan seperti kurikulum pendidikan, manajemen sekolah/perguruan tinggi, dan kualitas tenaga pengajar yang tidak memahami indikasi-indikasi penyebaran paham radikal dan anti-demokrasi turut memberikan andil terhadap masuknya paham radikal dengan menebar virus kebencian terhadap anak muda.

Mirisnya lagi, dunia pendidikan justru menjadi lahan subur bagi penyusupan kelompok radikalisme yang dikemas melalui kegiatan-kegiatan literasi, diskusi, sampai komunitas pengajian yang tidak dikenali oleh para sivitas akademika.

Hal demikianlah yang perlu kita waspadai dan antisipasi sejak dini, karena anak muda adalah aset emas bangsa yang menjadi harapan besar bagi kemajuan dan makmurnya bangsa Indonesia ini, tidak untuk sebaliknya.

Kemajuan teknologi digital dengan kemudahan dalam mengakses informasi dari berbagi sumber baik yang berpaham moderat, liberal, sampai radikal menjadi ruang kontestasi baru bagi penyebaran ideologi tertentu yang menyasar generasi muda.

Namun, setidaknya dengan adanya lembaga pendidikan yang mengedepankan sikap moderat dan toleran mampu menjadi kontrol terhadap siswa atau mahasiswa agar dapat memilah dan memilih konten yang mereka baca dan ikuti.

Perlunya Literasi Moderat

Institusi pendidikan yang berisi orang-orang terdidik, selayaknya membebaskan kaum muda bangsa dari jeratan kelompok berpaham eksklusif dan radikal.

Guru, dosen, siswa/mahasiswa sebagai elemen dalam lembaga pendidikan dapat berperan tidak hanya menjadi garda terdepan dalam membentengi kaum muda dari terpaparnya paham radikal, namun ikut andil dalam memproduksi konten dan mengarusutamakan sikap moderasi bergama ke publik, terlebih pada masyarakat yang kurang terdidik.

BACA JUGA  Mewaspadai Ancaman Radikalisme di Tengah Krisis Identitas Pemuda

Untuk mensterilkan dan membebaskan kaum muda dari jeratan paham radikal, lembaga pendidikan harus menggalakkan budaya literasi moderat di mana para pemuda menempuh pendidikan.

Berdasarkan peta jalan Gerakan Literasi Nasional (GLN) kaum muda memiliki enam macam literasi, antara lain literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan.

Literasi baca tulis dengan keahlian dan kecakapan dalam membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi tentang berita dan informasi yang beredar dengan cara moderat menjadi poin penting dalam membentengi kaum muda dari terpaparnya paham eksklusif dan radikal melalui karya tulis baik buku, koran, dan majalah.

Literasi numerasi menekankan penguasaan dan kecakapan dalam memperoleh, menginterpretasikan, menggunakan, dan mengkomunikasikan simbol dan angka matematik untuk menganalisis informasi dan permasalahan sosial-masyarakat, sehingga tidak mudah dipengaruhi dan terpapar informasi hoaks yang berujung pada ujaran kebencian samapai tindakan kekerasan.

Sementara itu, literasi sains merupakan pengetahuan dan kecakapan ilmiah dalam mengidentifikasi, memperoleh pengetahuan dan menjelaskan fenomena ilmiah atas fenomena dan fakta ilmiah dengan interpretasi yang moderat.

Literasi digital yaitu kecakapan dan pengetahuan untuk menggunakan media digital yang ditandai dengan pemanfaatan secara cerdas, bijak, cermat, dan tepat. Sehingga digitalisasi akan bermanfaat dalam mempererat kerukunan bangsa dan menghilangkan eksistensi penyebaran paham radikal karena penggunaan media digital dengan cerdas akan menenggelamkan eksistensi paham radikal.

Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan dalam finansial, agar dapat membuat keputusan yang efektif dan berdampak pada kesejahteraan finansial. Kurangnya literasi finansial ini sering kali dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk membujuk dan ikut dalam kelompoknya.

Adapun literasi budaya dan kewargaan yaitu kecakapan atau pengetahuan dalam memahami dan bersikap dengan bijak dan saling menghargai terhadap perbedaan dan keragaman suku, budaya, dan bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Penguasaan dan kecakapan generasi muda tentang keenam literasi di atas akan membawa dampak posistif dan hilangnya kelompok yang berpaham radikal di negeri ini. Sebab, berbagai sarana yang digunakan telah kita tutup dengan cara mengarusutamakan literasi moderat.

Dengan kecakapan literasi yang dimiliki, generasi muda akan membumihanguskan berbagai upaya kelompok radikalis melalui kecakapan dan keahlihan mereka dalam memilih dan menyimpulkan informasi dengan cara pandang moderat. Dan jelas, Islam moderat itulah yang akan mensterilkan generasi muda dari jeratan paham radikal.

Wallahu a’lam.

Imam Syafi'i
Imam Syafi'i
Mahasiswa Magister Prodi Interdisiplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru