32.2 C
Jakarta

Mengapa Radikalisme di Kampus Terus Ada? Berikut Alasannya!

Artikel Trending

KhazanahTelaahMengapa Radikalisme di Kampus Terus Ada? Berikut Alasannya!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Pada perjumpaan wacana keilmuan minggu lalu, saya mengikuti diskusi yang dinamakan Institut Akhir Pekan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Pondok Pesantren Budaya Kaliopak yang terletak di daerah Bantul, Yogyakarta. Nama pesantren yang tidak biasa ini, menjadi salah satu keunikan dan memiliki keistimewaan tersendiri dalam setiap kegiatan yang diusung, termasuk Institut Akhir Pekan. Pendiri pondok pesantren ini adalah Kiai Jadul Maula, yang selama ini saya mengenal melalui tulisan-tulisannya. Sebenarnya, bukan ini yang ingin saya utarakan. Akan tetapi, jalannya pertemuan pertama yang cukup berkesan pada diri pribadi.

Dalam pembahasan Fikih Siyasah yang disampaikan oleh Kiai Mun’im DZ, ulama NU yang cukup konsen menulis tentang Pancasila, NU, dan hubungannya dengan negara. Ia memaparkan hubungan Pancasila dan agama dengan komperehensif yang membuat peserta meyakini bahwa, pembahasan kedua term tersebut sudah sejak lama digaungkan bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia.  Salah satu bukunya yang cukup fenomenal adalah “Bentuan NU & PKI.” Materi dibawakan dengan cukup serius dan memantik peserta berpikir. Seperti biasa, setelah forum materi sudah selesai, panitia mempersilahkan masing-masing peserta untuk me-review, yang disampaikan oleh pemateri dengan kalimat yang lugas dan jelas.

Saya yang cukup menikmati forum tersebut, tertarik dengan sebuah kalimat yang disampaikan oleh salah satu peserta tentang analogi sholat berjemaah.

“Dalam aturan Islam, ma’mum boleh menegur Imam dengan beberapa isyarat ataupun gerakan. Apabila ada kesalahan, bukan berarti mendirikan Jemaah baru. Begitupula sebuah negara. Apabila pemerintahnya tidak benar, maka kritik, masukan, perlu kita sampaikan. Bukan berarti harus mendirikan pemerintahan baru. Seperti yang dikampanyekan oleh para aktivis khilafah,” ucapnya dengan suara yang menggelitik.

Analogi di atas memang cukup sederhana untuk kita dengar sebagai umat muslim yang biasa mendirikan sholat berjemaah. Mendengarkan kalimat tersebut, kiranya kita memahami bahwa, ada banyak alasan, strategi yang ciamik tentang argumen pendirian negara Islam yang dilontarkan oleh para aktivis khilafah. Gaungan ide, narasi, gerakan, dan strategi yang diberikan, selalu memantik kita untuk mencari strategi dalam melawan gerakan yang mereka lakukan. Memahami gerakan para aktivis khilafah, kita diingatkan pula dengan pendirian negara Islam yang semakin santer dibicarakan oleh mahasiswa. Bagaimana gerakannya?

BACA JUGA  HTI dan Pemboikotan Masjid: Gerakan Ideologisasi Khilafah Melalui Buletin Kaffah

Pola penyebaran radikalisme di kampus

Di kampus, pola penyebaran ide khilafah selalu ada. Gema Pembebasan yang menjadi sayap organisasi HTI, menjadi ruang bibit yang tidak terbantahkan dalam doktrinasi paham khilafah. Mengapa paham radikalisme ini selalu ciamik bagi mahasiswa? Jika kita melihat pola penyebaran yang dilakukan, ada beberapa upaya yang dilakukan di kampus, di antaranya:

Pertama Group medsos dan situs dunia maya menuju pada halaqoh rahasia (mahasiswa termasuk netizen terbesar). Kedua, Dakwah fardiyah melalui obrolan, eksklusivitas (mahasiswa adalah pencari jati diri) janji ghuroba, sejarah, dll. Ketiga, Buku-buku, pemutaran video propaganda, janji hidup enak dan kemuliaan, kemenangan-kemenangan. Keempat, tentang wanita; godaan, budak wanita.

Tidak salah, apabila kajian-kajian keislaman yang memperlihatkan kesengsaraan dan kesedihan para muslim di Timur selalu menjadi kajian menarik dan banyak diminati oleh mahasiswa. Teruntuk mahasiswa yang sedang hijrah, melakukan upaya untuk menjadi lebih baik, kajian yang membahas tentang hati, dan kemurnian jiwa dalam perspektif Islam, yang diusung oleh para aktivis khilafah, sangat cocok untuk mereka. Tentu, pembahasan soal marxisme, gerakan perlawanan kepada pemerintah, kritik terhadap ideologi barat dan filsafat, sangat tidak cocok kepada mahasiswa jenis ini. Sebab ruang yang disediakan oleh para aktivis gerakan dan himpunan (PMII, GMNI, HMI) tidak cocok kepada pilihan kehidupan yang diminati oleh mereka.

Tantangan yang dimiliki oleh organisasi mahasiswa, berlandaskan Pancasila, adalah bagaimana Menyusun strategi agar menjadi organisasi yang diminati oleh kelompok mereka. Jika perlu, sangat penting untuk melakukan kolaborasi dalam mempersatukan ide, gagasan agar bisa masuk dalam circle yang sudah mereka susun rapi. Kajian-kajian kerohanian, bisa digagas oleh organisasi, supaya bisa memantik mahasiswa untuk ikut.

Bisakah ide ini akan dilakukan? jika para aktivis mahasiswa melihat tantangan penyebaran paham radikalisme di kampus, ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam upaya memerangi paham tersebut. Akan tetapi, tidak semua aktivis menyadari tantangan ini. Sehingga biasa-biasa saja, meskipun melihat para aktivis khilafah, mengkampanyekan pendirian negara Islam kepada para mahasiswa. Wallahu a’lam.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru