30.3 C
Jakarta

Menilik Gerakan Khilafah Aktivis Mahasiswa: Sampai Kapan HTI di Kampus Dibiarkan?

Artikel Trending

KhazanahTelaahMenilik Gerakan Khilafah Aktivis Mahasiswa: Sampai Kapan HTI di Kampus Dibiarkan?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Pada sebuah cuitan di twitter salah satu akun, terlihat sebuah foto yang berisi tentang informasi activist training dengan tema “Membentuk Karakter Aktivis Mahasiswa Muslim Ideologis”. Acara tersebut dilaksanakan oleh Gema Pembebasan Ciputat Raya pada tanggal 30 September- 2 Oktober 2022. Dalam foto tersebut, terlihat bahwa kegiatan akan dilaksanakan di Bogor dengan beberapa materi di antaranya: Manganalisa Problematika Masyarakat, Pengembangan Diri, Kiat Menjadi Aktivis, Islam Politik dan Spiritual, Kewajiban dan Urgensi Dakwah, Konsepsi Islam tentang Leadership, dan Mengenal Gema Pembebasan.

Sekilas, tidak ada yang salah dari informasi tersebut. seperti kegiatan organisasi kampus pada umunya. Yang menarik justru, keberadaan Gema Pembebasan yang masih aktif di tatanan kampus, padahal induk organisasi sudah dibubarkan oleh pemerintah. Kalau kita lihat secara detail, keberadaan Gema Pembebasan karena adanya HTI. Ia merupakan sebuah organisasi sayap kampus HTI.Diibaratkan dengan NU atau pun Muhammadiyah, posisi Gema Pembebasan seperti PMII ataupun IMM.

Anehnya, di tengah banyaknya upaya untuk meluluh lantahkan setiap organisasi yang memiliki visi menegakkan khilafah di Indonesia, organisasi Gema Pembebasan pada setiap kampus memiliki kebebasan yang cukup luas untuk melakukan proses regenerasi. Melalui materi yang sama sekali tidak ada frasa khilafah di dalamnya, akankah kita menganggap bahwa organisasi tersebut terbebas dari visi HTI?

Lagi pula, ketika HTI sudah dibubarkan beberapa tahun silam, mengapa organisasi yang memiliki visi untuk menyebarkan ideologi Islam di tatanan kampus masih terus bergerilya?

Kampus dan bibit doktrinasi khilafah

Kampus merupakan miniature of country. Istilah tersebut banyak disebutkan oleh para aktivis mahasiswa yang kerap kali selalu terlibat dalam gerakan-gerakan untuk mewujudkan demokrasi lebih baik, bergerak untuk kemanusiaan, dll. Melalui istilah itu pula, kampus cerminan bagaimana suatu negara berjalan. Di kampus, kita akan mengenal pemilihan ketua BEM. Praktik tersebut juga kita lakukan di tatanan pemerintahan. Kita juga belajar bagaimana strategi manajemen organisasi, mengembangkan kapasitas diri, hingga melakukan perlawanan terhadap kebijakan yang tidak memberikan kemashlahatan kepada umat kampus, yakni para mahasiswa.

Fakta ini menjadi salah satu pemahaman kita bahwa, kampus adalah tempat paling ciamik bagi seseorang untuk menempa diri, dewasa dalam mengambil tindakan, menjadi proses hijrahnya seseorang, dll. Maka dari itu, keberadaan organisasi kampus, menjadi salah satu faktor eksistensi seseorang dalam mengambil tindakan. Lihat saja para Menteri, DPR, gubernur, bahkan kepala daerah, bisa dilihat dari track record organisasi yang diikuti di kampus pada masa silam. Atas dasar itu, pemikiran yang dimiliki oleh seseorang, juga bisa dilihat dari latar belakang organisasi yang diikuti.

BACA JUGA  Mengkritik Kenaikan BBM: Upaya Melawan Narasi Radikal Ekstremis

Lalu, ketika aktivis mahasiswa ikut organisasi kampus yang sejak jaman baheula didirikan untuk berdakwah mendirikan negara Islam, bisa dipastika ketika menjadi DPR, Menteri, ataupun kepala daerah, ideologi tersebut tetap dibawa untuk meneruskan perjuangannya menegakkan khilafah di Indonesia.

Sampai kapan dibiarkan?

Keberadaan Gema Pembebasan adalah salah satu bukti bahwa, eksistensi HTI masih tetap menyala. Organisasi ini terus memiliki penggemar karena, banyaknya mahasiswa muslim di kampus, justru membutuhkan tempat dan ruang berproses untuk mencari jati diri melalui Islam. Value keislaman yang dibawa oleh organisasi Gema Pembebasan, menjadi privilege mereka untuk menarik simpati para mahasiswa baru. Apalagi mereka yang sedang mengalami dilemma kehidupan, kegelisahan mencari jati diri dan mengalami kehidupan overthinking. Salah satu jalannya adalah kembali kepada Islam, bentuknya bisa jadi dengan mengikuti organisasi kampus keislaman, seperti Gema Pembebasan.

Di tatanan kampus yang menjadi tempat ciamik untuk berproses, membentuk pemikiran seseorang, Gema Pembebasan menduduki posisi strategis, seperti PMII, HMI, GMNI. Barangkali representasi gerakan yang dilakukan oleh para aktivis Gema Pembebasan adalah menuntut keadilan sama seperti yang dilakukan organisasi lainnya, tapi visi yang dibawa adalah, menggulingkan pemerintah resmi untuk digantikan dengan pemerintahan Islam. Hampir sama bukan dengan organisasi lainnya?

Namun, visi terselubung tersebut tidak bisa dilihat kasat mata. Mereka bisa menumpang pada gerakan para organisasi ekstra kampus di atas untuk menunjukkan eksistensinya.  Lalu, upaya apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk menutup rapat-rapat gerakan Gema Pembebasan? Kalau HTI sudah dibubarkan, mengapa organisasi sayap kampus HTI dibiarkan begitu saja? Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru