31.5 C
Jakarta

Tragedi Kanjuruhan: Bisik-Bisik Radikal dan Ancaman Bagi Kesaksian

Artikel Trending

Milenial IslamTragedi Kanjuruhan: Bisik-Bisik Radikal dan Ancaman Bagi Kesaksian
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Kanjuruhan memakan korban massal. Korban-korban itu kini ditangisi. Di ribuan kabupaten di seluruh Indonesia, korban-korban itu dikenang dan didoakan. Korban-korban itu disayangi orang tersayangnya: keluarga, saudara, teman, dan kekasihnya. Mereka menjadi korban hanya dengan menonton bola.

Sebab Tragedi Kanjuruhan

Kanjuruhan memakan korban hanya karena kesalahan penanganan yang abai. Dari aparat keamanan yang melakukan kekerasan dan menembakkan gas air mata ke tribun, panitia pelaksanaan pertandingan yang menjual tiket lebih dari kapasitas stadion, PSSI yang alpa mengomunikasikan peraturan FIFA, operator kompetisi dan pemilik hak siar yang ngotot menyelenggarakan pertandingan pada malam hari, sampai oknum suporter yang melakukan invasi ke lapangan.

Semua ini adalah sebab-sebab tragedi Kanjuruhan. Semua bisa salah, menyalahkan dan disalahkan. Namun, kesalahan-kesalahan itu tidak boleh terjadi kembali. Aparat yang represif, panpel yang gegabah, federasi yang tak becus, operator kompetisi dan pemilik hak siar yang kurang tahu diri, hingga suporter yang tak dewasa, harus segera diperbaiki.

Wajah buruk sepak bola Indonesia tak boleh dilanjutkan. Dan tragedi Kanjuruhan biarlah menjadi masa suram dan tercatat menjadi sejarah paling kelam dalam federasi pertandingan sepak bola di Indonesia dan dunia.

Menunggu Tanggung Jawab Negara

Sekarang, yang diperlukan adalah tanggung jawab. Negara harus menunjukkan tanggung jawab terhadap korban dan peristiwa tragedi Kanjuruhan Malang. Kini langkah-langkah bagus, adil, dan strategi jitu ditunggu oleh masyarakat dunia. Jika ada anggota aparat kepolisian dan tentara melanggar harus dihukum seadil-adilnya. Tak perlu dibela hanya sekadar memperbaiki citra diri. Siapa yang salah dan tindakannya bar-bar, harus diberi sanksi tegas.

Saya melihat, pemerintah Indonesia sudah bergerak membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Beberapa ahli sesuai kapasitasnya bergabung dalam Tim Gabungan Pencari Fakta Kanjuruhan. Termasuk juga menunjuk ahli pengendalian massa Nugroho Setiawan sebagai salah satu anggota tim. Kini Nugroho sendiri bekerja di AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia).

Kawal Sampai Tuntas

Namun ada yang lucu, PSSI juga membentuk tim investigasi yang dikepalai sendiri oleh Iriawan alias Iwan Bule. Padahal PSSI sendiri terlibat dalam Tragedi Kanjuruhan. Dan seharusnya, PSSI ini harus bertanggungjawab, bukan sok akan melakukan investigasi. Yang berhak melakukan investigasi adalah pihak independen dan ferederasi seperti AFC dan FIFA. Bukan PSSI sendiri.

Apa pun itu, kita harus kawal sejauh mana keseriusan negara bertanggung jawab atas Tragedi Kanjuruhan Malang ini. Masyarakat harus memastikan dan tidak boleh lengah apa yang dilakukan negara sesuai dengan semestinya dan korban diberi hak yang adil dan layak, serta para pembuat masalah diberi hukuman yang setimpal dan sebarat-beratnya, karena telah menyebabkan Tragedi Kanjuruhan tiba.

BACA JUGA  Televangelisme Islam sebagai Ancaman Baru Lahirnya Radikalisme di Indonesia

Di sini, siapa pun yang memiliki data dan bukti, negara harus memberikan dan menjamin keamanannya. Tak boleh ada ancaman bagi mereka yang ingin memberikan kesaksian.

Komentar-komentar Radikal

Namun juga, negara harus hati-hati pada narasi-narasi yang dimainkan oleh beberapa pihak yang tidak suka pada negara. Mereka biasanya mengomentari hal-hal yang tidak penting dan bahkan menyukai tragedi-tragedi yang potensial membuat Indonesia chaos.

Misalnya dalam beberapa hari ini, banyak komentar-komentar seperti di bawah ini:

Siapa saja yang menghilangkan nyawa tanpa hak, itu bagaikan ia membunuh semua manusia di muka bumi yang ada. Oleh karena itu nyawa manusia harus dijaga begitu rupa agar terjaga dan tidak boleh suatu tindakan yang dilakukan oleh siapapun termasuk aparat yang bisa menimbulkan kematian. Begitu murahnya harga nyawa di sistem demokrasi.

Solusinya para supporter kembali ke jalan yang benar, dengan segera mau mengaji Islam Kaffah.

Penjagaan jiwa hanya bisa dijamin oleh sistem Islam.

Tanpa naungan sistem Islam semua tatanan kehidupan berantakan. La izzati illa bil islam….

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun qodralullah semoga Allah SWT mengampuni atas segala dosanya dan semoga segara ganti sistem Islam secara kaffah diterapkan dalam segala aspek kehidupan aturan Allah SWT. Insyaallah solusi untuk menghargai nyawa ummat hamba Allah telah diciptakan dan akan kembali kepadanya kelak.

Bisik-bisik dan komentar seperti di atas, sudah terlalu banyak sejak Tragedi Kanjuruhan berlangsung. Mereka menarik tragedi tersebut untuk kepentingan dirinya, yakni Khilafah. Bagi mereka, Tragedi Kanjuruhan tidak akan terjadi jika masyarakat Indonesia berada di bawah naungan sistem islami, yakni khilafah. Dan bagi mereka pula, jika tidak ingin Tragedi Kanjuruhan terulang kembali maka Indonesia harus mengganti ke sistem khilafah.

Di dalam situasi genting ini, kelompok-kelompok radikal masih saja, memberikan komentar dan narasi yang miris dan sama sekali tidak mempertimbangan beban psikologis pihak korban dan bangsa Indonesia. Mereka selalu membingkai peristiwa dengan solusi-solusi absurt seperti: Solusinya para supporter kembali ke jalan yang benar, dengan segera mau mengaji Islam Kaffah.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru