27.8 C
Jakarta

Kesetaraan Gender dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Artikel Trending

KhazanahPerempuanKesetaraan Gender dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Kesetaraan gender merupakan prinsip yang mendasari perjuangan untuk memastikan bahwa setiap individu, tanpa memandang jenis kelaminnya, memiliki hak yang sama untuk mengakses kesempatan dan sumber daya dalam kehidupan. Di dalam masyarakat Jawa, terdapat warisan budaya yang kaya dengan nilai-nilai yang menunjang kesetaraan gender

Warisan Budaya vis-à-vis Kesetaraan

Masyarakat Jawa telah memiliki tradisi dan budaya yang mendasari nilai-nilai kesetaraan gender. Salah satu prinsip penting dalam budaya Jawa adalah gotong royong, yang mengajarkan tentang kerjasama dan saling membantu tanpa memandang jenis kelamin. Dalam gotong royong, peran dan kontribusi setiap individu dihargai, dan peran perempuan dianggap sama pentingnya dengan peran laki-laki dalam menjaga keseimbangan sosial.

Lebih dari itu, dalam masyarakat Jawa terdapat kearifan lokal yang menghargai peran perempuan sebagai ibu dan pengasuh keluarga, serta sebagai pilar fondasi dalam membangun harmoni dalam keluarga dan masyarakat. Peran ini dianggap sebagai peran yang mulia dan penting, sehingga perempuan dalam masyarakat Jawa seringkali memperoleh penghormatan yang tinggi.

Namun, perlu diketahui, sering ditemui argumen-argumen yang menganggap peran mulia tersebut sebagai proses marginalisasi perempuan. Jika demikian adanya, lantas apakah menjadi barang wajib kalau perempuan harus menolak peran tersebut.

Memang, peran tersebut dapat dikerjakan secara bersama dengan pasangan. Akan tetapi, yang sering ditemui, doktrinasi yang dilabeli dengan pencerahan itu sangatlah bernada ‘menolak’ perempuan untuk memainkan peran tersebut.

Bukan Jawa jika tidak ada suatu tradisi atau pun ritual. Tradisi dan ritual dalam masyarakat Jawa seringkali mencerminkan kesetaraan gender. Dalam acara-acara adat, sepeti perkawinan, kegiatan keagamaan atau kepercayaan, maupun upacara kematian, peran perempuan dan laki-laki seringkali diakui secara setara.

Setara disini diartikan bukan diperoleh dengan paksaan namun keduanya terlibat secara seimbang sesuai dengan porsinya masing-masing. Perempuan dan laki-laki diberi kesempatan untuk berpartisipasi aktif dan memiliki peran penting dalam menjalankan rangkaian upacara.

Tantangan Kesetaraan

Meskipun kesetaraan gender telah menjadi bagian dari tradisi dan budaya Jawa, masih ditemui tantangan dalam mencapai kesetaraan yang lebih baik. Perubahan sosial dan modernisasi dapat membawa dampak yang begitu kompleks pada peran dan kedudukan perempuan di masyarakat.

BACA JUGA  Gadis Kretek: Kisah Perempuan dan Jejak Tradisi Masa Lalu

Urbanisasi dan perkembangan ekonomi, misalnya, dapat menghadirkan kesenjangan dan diskriminasi gender yang baru. Sehingga persoalan ‘Kejawaan’ yang dianggap tidak ramah gender dapat disebut dengan asumsi kosong belaka, tanpa meneropong faktor lain yang ikut terlibat.

Tidak berhenti disitu, terdapat pula sistem patriarki dan norma-norma sosial atau hukum lisan yang membatasi peran perempuan dalam kehidupan publik dan politik masih beredar di beberapa lapisan masyarakat. Perempuan seringkali menghadapi hambatan dan diskriminasi dalam mencapai pendidikan yang setara dengan laki-laki, serta terbatasnya kesempatan untuk berkarier dan bernaung pada posisi kepemimpinan.

Meningkatkan Kesetaraan

Menjadi panggilan jiwa untuk terus mendorong kesetaraan gender di masyarakat Jawa dengan berbagai upaya yang lebih komprehensif. Pendidikan merupakan kunci untuk melakukan transformasi kesadaran dan pola pikir tentang kesetaraan gender.

Pendidikan yang inklusif dan berbasis kesetaraan gender harus menjadi arus utama guna memastikan bahwa anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi mereka.

Selain itu, perlu juga untuk memaksimalkan keterlibatan perempuan dalam kehidupan politik dan ekonomi. Mendukung perempuan untuk berperan aktif dalam pengambilan keputusan dan memegang posisi kepemimpinan dapat membangun perubahan positif dan manusiawi dalam masyarakat.

Selain itu, penguatan ekonomi perempuan juga penting untuk memperkuat posisi dan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Sederhananya, lebih dari lingkup keluarga, dapat dimulai dengan lingkup RT atau RW.

Kesetaraan gender merupakan nilai yang kuat dalam budaya dan tradisi masyarakat Jawa. Antara perempuan dan laki-laki telah memiliki perannya masing-masing secara seimbang. Gotong royong, kearifan lokal, dan nilai-nilai adat yang menghargai peran perempuan telah memberikan landasan untuk kesetaraan gender di masyarakat.

Meskipun tantangan masih ada, upaya meningkatkan kesetaraan gender harus terus digenjot dengan pendidikan, partisipasi perempuan dalam kehidupan politik dan ekonomi, serta penguatan ekonomi perempuan.

Dengan kerja sama dan kesadaran yang lebih baik, masyarakat Jawa dapat terus menjadi contoh bagi kesetaraan gender di Indonesia dan seluruh dunia. Sehingga dengan konsepsi ala modern Barat tidak mengaminkan ujar-ujar “wong jowo ilang jawane”.

Satrio Dwi Haryono
Satrio Dwi Haryono
Pegiat Komunitas Dianoia. Minat pada kajian kefilsafatan, keislaman, dan kebudayaan.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru