27.3 C
Jakarta

Golput Bukan Solusi untuk Demokrasi NKRI, Hindari!

Artikel Trending

KhazanahPerspektifGolput Bukan Solusi untuk Demokrasi NKRI, Hindari!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Beranda media sosial saya dipenuhi dengan caption politik. Yang sedang ramai diperbincangkan adalah Pemilu yang digelar hari ini. Ada yang pro dan ada juga yang kontra kepada setiap kontestan Pemilu, menurut saya itu masih hal yang lumrah. Namun yang menarik perhatian, ketika muncul di beranda media sosial saya: “ada uang ada suara” dan “tidak ada uang maka tidak memilih” atau sering disebut golput.

Pemilu adalah salah satu bagian penting dalam pilar demokrasi. Dengan adanya Pemilu, masyarakat berkesempatan untuk memilih pemimpin yang dapat mewakili kepentingan masyarakat dalam mengambil keputusan yang akan memengaruhi kehidupannya selama lima tahun. Namun, masih banyak orang yang memilih untuk tidak menggunakan hak pilih atau golput saat Pemilu.

Berdasarkan data yang ada, tingkat golput pada Pemilu 2019 ada sekitar 18% lebih jumlah golput. Walaupun mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Pemilu 2014 (CNN Indonesia). Penurunan angka tersebut, masih belum bisa menjamin stabilitas partisipasi masyarakat dalam politik dan perpolitikan pada Pemilu.

Lantas kenapa golput itu masih ada saat Pemilu? Penyebab terjadinya golput, memiliki alasan yang beragam di antaranya adalah tempat pemungutan suara (TPS) tidak dijangkau oleh sebagian masyarakat pedalaman atau pelosok, merantau sebelum Pemilu, tidak terfasilitasi, apatis terhadap politik, sebagian masyarakat memilih untuk tidak memberikan hak pilihnya kepada siapa pun dan pengaruh isu politik uang (money politic).

Menurut saya, penyebab masih banyak angka golput saat Pemilu karena minim atau kurangnya pendidikan politik di kalangan masyarakat. Masyarakat tidak begitu memahami betapa pentingnya hak pilih seseorang dalam menentukan pilihan atau figur politiknya. Dengan itu, kita sebagai masyarakat harus memahami dengan serius apa arti dan tujuan dari pada Pemilu itu sendiri, supaya tidak golput di Pemilu berikutnya.

Oleh karena itu, angka golput dapat dipastikan mengalami penurunan apabila diberikan pendidikan politik yang berkelanjutan pada masyarakat. Artinya, mendorong keterlibatan masyarakat dalam diskusi dan kegiatan politik, meningkatkan akses dan fasilitas pemilihan dengan cara meningkatkan atau menambah jumlah TPS dan sebagainya.

BACA JUGA  Metamorfoshow: Titik Tolak Kontra-Propaganda Khilafah

Tidak golput adalah cara bagi kita untuk berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi. Dengan menggunakan hak suara, kita memiliki kesempatan untuk memilih pemimpin yang mewakili nilai-nilai dan kepentingan masyarakat secara horizontal.

Dalam sistem demokrasi, suara setiap peserta pemilih memiliki nilai yang sama, sehingga akumulasi dari setiap suara dapat menentukan kemenangan kontestan Pemilu yang beruntung. Dengan tidak golput, kita dapat memastikan bahwa kita sudah merawat, menjaga, dan menjunjung tinggi nilai demokrasi.

Selain itu, tidak golput juga merupakan bentuk tanggung jawab kita sebagai warga negara. Dalam sebuah negara demokratis, kita memiliki hak dan kewajiban untuk berpartisipasi dalam proses politik.

Dengan menggunakan hak suara, kita telah berkontribusi dalam pembentukan kebijakan publik dan mempengaruhi arah kehidupan yang demokratis. Dengan tidak golput, kita menunjukkan bahwa kita peduli dengan masa depan negara dan ingin berperan aktif dalam pembangunan masyarakat yang lebih baik.

Selanjutnya, tidak golput juga penting untuk menjaga keseimbangan kekuasaan dalam sistem politik. Dalam Pemilu, suara setiap individu memiliki potensi untuk mengubah hasil pemilihan.

Dengan tidak golput, kita dapat memastikan bahwa kekuasaan tidak terkonsentrasi pada kelompok kecil atau elit politik. Dengan menggunakan hak suara, kita dapat memilih pemimpin yang mewakili kepentingan secara horizontal dan memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik untuk masyarakat secara keseluruhan.

Tidak golput juga merupakan cara untuk melindungi hak-hak kita sebagai warga negara. Dalam sistem demokrasi, hak suara adalah hak yang dijamin oleh konstitusi. Dengan tidak golput, kita memastikan bahwa hak suara kita tidak disalahgunakan atau diabaikan. Dengan menggunakan hak suara, kita dapat memilih pemimpin yang akan melindungi dan memperjuangkan hak-hak kita sebagai masyarakat.

Karenanya, pada Pemilu hari ini, mari datang ke TPS dan berikan hak pilih kepada kontestan Pemilu yang layak menjadi perwakilan atau pemimpin bagi kita: rakyat. Jangan salah pilih hanya karena politik uang. Golput dan politik uang bukan solusi dari demokrasi di NKRI, justru merupakan tindakan buruk terhadap sistem demokrasi dan Pemilu itu sendiri.

Afe Erma Telaumbanua S.IP
Afe Erma Telaumbanua S.IP
Mahasiswa Pascasarjana Fisip Universitas Darma Agung (UDA). Pernah menulis opini di Nalar Politik dan Medan Bisnis Daily. Mukim di Nias Selatan.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru