25.1 C
Jakarta

Fatih Karim: Pusat Indoktrinasi HTI

Artikel Trending

KhazanahTelaahFatih Karim: Pusat Indoktrinasi HTI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Pada tulisan sebelumnya, saya membahas tentang Fatih Karim sebagai guru dari para artis hijrah ke HTI. Eksistensinya sebagai guru, ustaz yang mengajak orang-orang agar tertarik kepada Islam, tidak lepas dari ideologi HTI yang dibawanya. Perlu kita ketahui bahwa, Fatih Karim merupakan sosok yang jatuh cinta kepada Islam melalui HTI. Sejak tahun 1997, ia bergabung dengan HTI dan menjadi titik balik dari perjalanannya belajar tentang Islam.

Semenjak dirinya memiliki kecintaan yang besar kepada Islam, mulailah tumbuh semangat belajar ajaran-ajaran Islam, seperti akidah, akhlak, dakwah, dan Syariah. Ia juga mengkaji Ululum Quran, Hadis, Ushul Fiqh, Tafsir, Sirah Nabi dan Dustur Negara Khilafah. Eksistensi Fatih Karim yang memiliki market dakwah pada muslim urban menengah atas, khususnya para artis, menjadikan dirinya memiliki privilege untuk mendapatkan pengakuan yang cukup besar dan pasar yang semakin luas dalam menyebarkan ajaran Islam yang dianutnya.

Kecintaan Fatih Karim kepada HTI tetap terpatri, bahkan abadi dalam dirinya meskipun secara legal formal, HTI sudah dibubarkan oleh pemerintah. Meskipun HTI sudah tidak berwujud organisasi yang nyata, akan tetapi secara ideologi, HTI tetap dibawa oleh Fatih Karim dalam dakwah yang dilakukan. Atas dasar ini, Fatih Karim bisa disebut sebagai pusat indoktrinasi HTI. Mengapa demikian?

Fatih karim dan narasi khilafah yang didengungkan

Dalam sebuah video akun youtube @cintaquranfoundation, milik Fatih Karim, ada satu video yang perlu kita sorot berkenaan dengan komentar Fatih ketika ada nama dirinya muncul sebagai ustaz radikal yang tersebar di media sosial. menanggapi hal tersebut, respon yang disampaikan oleh Fatih Karim bukanlah reaktif. Akan tetapi, selayaknya pendakwah, ia justru mematahkan argumen tersebut dengan alasan bahwa, isu radikal dikampanyekan hanya untuk menutupi kebobrokan pemerintah. Isu yang jelas-jelas disarankan untuk dibahas oleh Fatih Karim, seperti: kemiskinan yang melanda Indonesia, bencana alam, hingga ketidakbecusan pemerintah menjadi pemimpin dalam negara.

Sikap yang ditampilkan oleh Fatih Karim sama dengan yang dikampanyekan oleh website muslimahnews.net. Akun tersebut merupakan salah satu media dakwah para HTI untuk menyebarkan dan melakukan penggorengan isu dalam setiap permasalahan yang terjadi di Indonesia, serta menjadikan khilafah sebagai solusi dari segala persoalan. Tidak hanya itu, pada kanal youtube khilafah channel, eks HTI juga melakukan framing kepada khlayak dengan mengkampanyekan narasi melalui dalih untuk menegakkan syariat Islam yakni khilafah Islamiyah. Semua narasi yang didengungkan oleh mereka sama, yakni menjadikan khilafah sebagai solusi dari segala persoalan negeri ini.

BACA JUGA  GEMA Pembebasan UIN Jakarta: Bukti bahwa HTI masih Mewabah di Kampus

Sebenarnya, kalau kita jeli mendengarkan pemaparan dakwah dari para aktifis HTI, kita akan mendapatkan pemahaman bahwa, ajaran Islam yang mereka sebarkan bertolak belakang dengan ajaran Islam yang penuh cinta dan damai. Narasi yang mereka sampaikan bukanlah murni untuk menegakkan ajaran Islam tetapi leboh kepada upaya mereka dalam mewujudkan ambisi politik dengan berupaya keras untuk menegakkan pemerintahan sesuai keinginan mereka dan memanfaatkan khilafah agar menarik perhatian masyarakat.

Keberadaan Fatih Karim sebagai pendakwah, memiliki pasar dalam dakwahnya. Semakin ditentang dan banyak penolakan, semakin banyak pula masyarakat yang penasaran dan ingin berguru kepadanya. Sebab narasi yang keluar dari Fatih Karim adalah sikap denial dan mengembalikan kepada Allah SWT. Padahal, apa yang disampaikan dalam dakwahnya, khususnya berkaitan dengan khilafah, bertentangan dengan ajaran Islam sebenarnya. Dakwah yang disampaikan oleh Fatim Karim, bisa dimasukkan dalam kategori dakwah yang salah dan dakwah yang bodoh.

Menurut Andi Faisal bakti (2011), dakwah dibagi menjadi tiga, di antaranya: dakwah yang benar (da’wah al-haq), dakwah yang salah (da’wah al-bathil), dan dakwah kepada kebodohan (da’wah al-jahiliyah). Dari sinilah, kita bisa memahami bahwa, dakwah yang menyerukan tentang penegakan negara Islam, termasuk pada dakwah yang salah dan bodoh. Dakwah yang dilakukan oleh Fatim Harim termasuk di dalamnya.

Meskipun demikian, Fatih Karim tetap menjadi pusat kebenaran bagi para pengikutnya. Ia memiliki power yang cukup besar bagi orang-orang yang bisa meng-influence masyarakat, seperti artis, tokoh, dan para selebriti. Keberadaan Fatih Karim juga bisa kita sebut sebagai pusat indoktrinasi HTI. Sebab seperti apapun pola dakwah yang diberikan dan disebarkan kepada pengikutnya, iming-iming khilafah sebagai sistem pemerintahan yang murni Islam pasti didengungkan kepada forum dakwah yang ia berikan. Maka dari itu, HTI tidak akan pernah mati. Di tangan Fatih Karim, ideologi HTI selalu bersinar di setiap ruang diskusi kajian, dan dakwah. Wallahu a’lam

 

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru