29.9 C
Jakarta

Definisi Hari Tenang di Tengah Maraknya Kampanye di Media Sosial

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanDefinisi Hari Tenang di Tengah Maraknya Kampanye di Media Sosial
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Kemarin masing-masing Calon Presiden dan Wakil Presiden mengakhiri kampanyenya. Anies-Muhaimin kampanye akbar di Jakarta International Stadium (JIS) yang dibangun pada era Gubernur Anies Baswedan. Prabowo-Gibran kampanye terakhir di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Sedang, Ganjar-Mahfud kampanye di Semarang.

Selepas kampanye akbar seluruh warga Indonesia dihadapkan dengan hari tenang, hari dilarang kampanye. Namun, di era teknologi saat ini sangat susah mengendalikan kampanye yang digelar di media sosial, semisal Facebook, Instagram, terlebih TikTok.

Kampanye digital terus bergulir tak terkendali. Sebab, sangat susah mengendalikan massa untuk menghentikan kampanye di media sosial. Apalagi media sosial sifatnya kontinu. Semisal, kampanye yang dilakukan sebelum hari tenang tetap terpampang jelas dan tidak dihapus, sehingga postingan itu terus berjalan.

Lalu, bagaimana untuk mengatasi kampanye digital ini? Sebenarnya solusi yang saya tawarkan ini hanyalah bersifat imajinatif. Bisa jadi ini berhasil. Bisa sebaliknya, hanyalah menjadi imajinasi saja. Pertama, beri tindakan bagi siapa saja yang melakukan kampanye pada hari tenang, meski di media sosial.

Kedua, postingan kampanye yang berlangsung jauh sebelum hari tenang hendaknya di-take down agar hari tenang ini benar-benar berjalan mulus. Men-take down postingan itu gampang. Pemerintah cukup perintahkan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo). Lewat Kominfo semua bisa diatur terkait larangan kampanye lewat media sosial. Dan, sertakan denda-dendanya.

BACA JUGA  Dua Hal Penting Biar Kita Layak Jadi Warga Indonesia

Ketiga, bangun kesadaran personal. Ini yang paling penting. Kesadaran personal tentu dibangun dari masing-masing pribadi. Tidak perlu memaksakan ego sebab pengen menang. Lakukan secara teratur. Waktunya kampanye ya kampanye. Waktunya hari tenang ya istirahat dari kampanye. Sesimpel itu!

Beberapa solusi ini mungkin dapat dijadikan renungan bagi pemerintah dan rakyat biasa. Agar Pemilu tahun ini berjalan dengan damai. Tidak sampai ada percekcokan sana-sini. Tidak terlihat ada pertengkaran. Dan seterusnya. Jangan sampai terjadi seperti tahun 2019 lalu di mana Pemilu menyebabkan warga negara terpecah menjadi dua kubu: Cebong dan Kampret.

Sudahlah, Pemilu ini hanya sekali dalam lima tahun. Ada sesuatu yang jauh lebih penting dari perselisihan karena Pemilu, yaitu bangun keadilan, persatuan, dan kesejahteraan. Hindari perpecahan antar sesama. Karena, semua sama meski berbeda. Pilihan boleh berbeda, tapi tujuan tetap satu arah dalam membangun perubahan ke arah yang lebih baik.

Sebagai penutup, gesekan karena Pemilu hendaknya segera diakhiri. Apalagi umat Islam sebulan lagi akan menghadapi Ramadhan. Jangan sampai di bulan suci ini antar umat Islam saling bermusuhan. Ini bukan sesuatu yang diperbolehkan dalam agama. Justru itu dibenci oleh Tuhan.[] Shallallahu ala Muhammad.

Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Dr. (c) Khalilullah, S.Ag., M.Ag.
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru