27.3 C
Jakarta

Cyber Terrorism: Ketika Media Sosial Menjadi Alat Penyebaran Terorisme

Artikel Trending

KhazanahTelaahCyber Terrorism: Ketika Media Sosial Menjadi Alat Penyebaran Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Bahrun Naim adalah salah satu teroris jebolan ISIS yang berperan dalam perekrutan teroris melalui media. Tidak hanya memanfaatkan media sebagai alat untuk mencari massa, ia juga instruktur pembuatan bom. Sepak terjangnya dalam dunia terorisme, bisa dilihat ketika ia menjadi penyumbang dana serangan teror besar di Indonesia, termasuk pada ledakan bom bunuh diri pada tahun 2016 dan penembakan di Starbuck Cafe Jakarta yang menewaskan 4 orang masyarakat sipil dan melukai lebih dari 20 orang.

Nama Bahrun Naim juga dimasukkan oleh PBB sebagai orang yang terlibat dalam pendanaan, perencanaan, menyiapkan aksi demi kepentingan ISIS, serta memberikan fasilitas terhadap peristiwa pengeboman. Bisa dikatakan pula bahwa, Bahrun Naim adalah pimpinan ISIS asal Indonesia.  namun, yang bisa di highlight tebal tentang Bahrun Naim adalah perannya yang sudah memanfaatkan media sebagai alat untuk merekrut para jihadis baru.

Berdasarkan penjelasan United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC), tujuan penggunaan internet bagi kelompok teroris, salah satunya sebagai propaganda. Propaganda yang dimaksud dapat berbentuk kampanye tindakan kekerasan, retorika, perekrutan, radikalisasi dan penghasutan agar melakukan terror. Hal ini dapat dilihat dalam bentuk komunikasi multi media yang menyebarkan ideologi, penjelasan-penjelasan dasar pembenaran atau mempromosikan kegiatan teroris dan perintah melaksanakan perang.

Pesan-pesan di internet tersedia dalam format presentasi, e-magazine, risalah-risalah, file-file audio dan video, seperti ceramah dan lagu-lagu bernuansa keagamaan atau nasyid, dan video games yang di buat oleh organisasi teroris atau simpatisannya.

Bahrun Naim, memanfaatkan media dengan menawarkan dorongan dan nasihat kepada orang-orang yang sudah menyatakan kesetiaan kepada kelompok militan. Melalui internet, ia menjelaskan betapa mudahnya melakukan jihad atau perang suci di hutan Indonesia ke sebuah kota. Diketahui pula bahwa, ia adalah pemimpin kelompok militan Katibah Nusantara yang kini tengah berada di Raqqa, Suriah, ibu kota de facto dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Selama berada di Suriah, ia sering menggunakan internet dengan menulis di blog dan tata cara untuk membuat bahan peledak. Di blog itu pula, Bahrun Naim juga memberikan informasi tentang peristiwa bom yang terjadi di beberapa negara agar bisa dijadikan contoh bagi para pembaca dalam merencanakan pengeboman. Meski begitu, blog yang digunakan oleh Bahrun Naim, sudah diblokir oleh pemerintah Indonesia. Pasca diblokir, blog tersebut pernah muncul lagi dan memposting catatan serupa tentang aksi terorisme di Indonesia.

BACA JUGA  Melihat Gerakan Perempuan Akar Rumput dalam Upaya Pencegahan Radikalisme

Beberapa blog yang digunakan oleh Bahrun Naim, di antaranya: www.bahrinnaim.space, www.bahrunnaim.site dan www,bahrunnaim.space. Selain menggunakan blog, ia juga media sosial Facebook dengan mengajarkan cara membuat bom kepada kelompok Kitabah Gigih Rahmat (KGR) di Batam dan media sosial Telegram yang digunakan untuk memberikan petunjuk kepada Dian Yulia novi untuk merencanakan aksi pengeboman di istana negara.

Pesan yang disampaikan oleh Bahrun Naim di media sosial juga penyebaran propaganda yang berisikan cara untuk meyakinkan orang agar menganut suatu aliran tertentu. Propaganda itu juga berisi tentang hasutan kebencian kepada pemerintah untuk mendukung aliran yang sudah dianut.

Dampak Cyber Terorism

Upaya yang dilakukan oleh Bahrun Naim sangat jelas membawa dampak buruk terhadap masyarakat. Hal ini karena, internet yang dimanfaatkan untuk menyebarkan propaganda terorisme, tidak hanya dikonsumsi oleh pengikut/kelompoknya saja, melainkan masyarakat luas. Artinya, masyarakat yang mengonsumsi narasi tersebut, akan terpengaruh oleh informasi yang disebarkan oleh Bahrum Naim.

Oleh karena itu, cyber terrorism menjadi strategi paling ciamik bagi kelompok teroris dalam menyebarkan ideologi ataupun merekrut anggota. Generasi millenial ataupun gen Z yang merupakan pengguna internet terbanyak, dipastikan terpengaruh oleh adanya cyber terrorism. Mereka adalah kelompok target sasaran.

Dengan demikian, edukasi tentang terorisme, sangat penting disebarkan melalui media agar pengguna media sosial bisa memiliki pengetahuan yang cukup mumpuni untuk tidak terpengaruh oleh ajakan jihad, membunuh ataupun semacamnya. Isu terorisme memang bukanlah isu yang familiar bagi masyarakat karena dianggap kurang penting atau kurang dekat dengan diri kita. Namun, setiap orang memiliki potensi untuk terpengaruh oleh ajakan jihad. Baik melalui media sosial ataupun lingkungan masyarakat. Sehingga edukasi tentang terorisme itu sendiri harus dilakukan secara keberlanjutan. Wallahu A’lam.

Muallifah
Muallifah
Aktivis perempuan. Bisa disapa melalui Instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru