27.5 C
Jakarta

Intrik Licik HTI: Menyebarkan Ideologi Khilafah Berkedok Isra’ Mi’raj

Artikel Trending

KhazanahTelaahIntrik Licik HTI: Menyebarkan Ideologi Khilafah Berkedok Isra’ Mi’raj
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com Kegiatan bertajuk ‘Metamorfoshow: It’s Time to be One Ummah’ di TMII, Jakarta Timur pada 17 Februari lalu, sampai hari ini banyak menimbulkan komentar dari berbagai pihak lantaran berkaitan dengan pihak penyelenggara yang diduga adalah organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).  

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyoroti acara ‘Metamorfoshow’ di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang ramai dikaitkan dengan organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Yaqut mendukung polisi untuk mengusut acara ‘Metamorfoshow’.

“Kita serahkan ke polisi kita dukung polisi untuk melakukan pengusutan terhadap masalah itu,” ujar Yaqut di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (26/2/2024).

Kegiatan yang menyasar anak muda itu, benar-benar mendapatkan respon positif dari peserta yang hadir. Di media sosial, netizen yang sebagian besar dilihat dari profil akun Twitter-nya adalah generasi milenial, bahkan generasi Z, terus membela kegiatan tersebut lantaran ideologi khilafah lebih konkret dibandingkan sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia saat ini.

Ramai tentang kegiatan yang diselenggarakan oleh para aktivis HTI ini, sebenarnya bukan rahasia umum bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari indoktrinasi khilafah. Argumen ini mengacu kepada kehadiran para petinggi HTI seperti: Ismail Yusanto, Jubir Eks HTI, Aab El-Karimi (Konten Kreator HTI), M. Ihsan Akbar (Influencer Gen Z HTI), Akhmad Adiasta (Narrator, Producer Dokusinema Sejarah Islam “Jejak Khilafah di Nusantara”), Nicko Pandawa (Sutradara Dokusinema Sejarah Islam “Jejak Khilafah di Nusantara”), Subhan Nur Sobach (Standup Comedy), Doni Riwayanto (Musisi dan Pegiat Hijrah), Alif Ridho (Pendongeng Muslim, Founder Komunitas Cintai Gaza).

Kehadiran para tokoh di atas sebenarnya sudah sangat jelas bahwa, kegiatan itu tidak lebih dari sekedar indoktrinasi khilafah yang berkedok Isra’ Mi’raj. Tentu, anak muda yang hadir dalam kegiatan itu akan membela kegiatan tersebut lantaran merasa bahwa, sistem yang ditawarkan oleh para aktivis HTI lebih menjanjikan kemakmuran dibandingkan dengan kondisi politik Indonesia hari ini.

BACA JUGA  Memburuknya Demokrasi dalam Pemilu: Potensi Khilafahisasi Semakin Besar

Modus HTI Sudah Lama

Pada tahun 2016 silam, di Jember, kejadian serupa juga pernah dilakukan. Acara HTI yang berkedok Isra’ Mi’raj digelar pada (1/5) dengan tema “Muktamar Tokoh Umat 1437 H”. Kegiatan itu mendapatkan respon dari para anggota Banser Jember dan didalami oleh Polres Jember lantaran kegiatan dengan izin Isra’ Mir’aj ini tidak sesuai dengan izin yang diminta, di mana kegiatan tersebut merupakan indoktrinasi khilafah oleh HTI.

Selain itu, tahun 2016 silam masih bisa dikatakan jarang ada kegiatan yang bertajuk Isra’ Mi’raj yang diselenggarakan di convention hall, Hotel New Sari Utama, Jember, yang bisa dikatakan sebagai kegiatan mewah. Tidak hanya itu, tidak semua masyarakat bisa mengikuti kegiatan tersebut karena sangat tertutup dan hanya bisa dihadiri oleh masyarakat yang diundang atau beberapa kelompok saja.

Jika mengacu pada tahun 2016 silam, intrik HTI dalam melakukan indoktrinasi khilafah sudah dilakukan sejak lama dengan menggunakan metode yang hampir sama. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, saat ini kegiatan indoktrinasi khilafah yang berkedok Isra’ Mi’raj ini, dibungkus dengan sangat rapi dengan menerapkan pendaftaran digital.

Beberapa tokoh/aktivis HTI yang memiliki pengaruh besar di media sosial, akan berbanding lurus dengan ketertarikan anak muda yang memiliki minat sama terhadap kajian yang dibawa oleh sang idola. Maka dari itu, tidak heran jika kegiatan yang diselenggarakan oleh aktivis HTI ini mendapatkan banyak massa dari kalangan anak muda.

Meski demikian, dari sejarah kegiatan yang dilakukan oleh aktivis HTI yang berkedok Isra’ Mi’raj, sudah sangat jelas bahwa kegiatan tersebut adalah indoktrinasi khilafah. Aktivis HTI melakukannya untuk mendapatkan dukungan untuk menegakkan khilafah di Indonesia. Dengan begitu, ideologi khilafah yang dibawa oleh para aktivis HTI akan tetap hidup, dengan dukungan dari anak muda. Wallahu A’lam .

Muallifah
Muallifah
Aktivis perempuan. Bisa disapa melalui Instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru