28.3 C
Jakarta

Berpikir Filsafat, Berpikir Sebagai Sunnah Nabi

Artikel Trending

Judul Buku: Mengenal Filsafat Islam: Pengantar Filsafat yang Ringkas, Menyeluruh, Praktis, dan Transformatif, Judul Resensi: Berpikir Filsafat, Sunnah Berpikir ala Nabi, Penulis: Haidar Bagir, Penerbit: Mizan, Tahun: Cetakan I, Edisi 3, November 2020, Tebal: 194 Halaman. Peresensi: Ali Yazid Hamdani.

Filsafat yang dikenal sebagai induk pengetahuan (mother of knowledge) memberikan kesan sulit menurut sebagian orang, entah sejak kapan stigma sulit ini membiak di tengah-tengah kita. Yang jelas ketika mendengar kata filsafat yang tergambar di pikiran kita sejelimet pemikiran yang begitu susahnya, sederet term yang demikian sulit dicerna. Sederet pernyataan sikap terhadap filsafat mungkin akan ditemukan seperti ini “filsafat  itu perbuatan yang sia-sia, hanya orang yang memiliki selera aneh ingin belajar filsafat.

Terlebih dalam Islam, beberapa orang bahkan mengutuknya, hingga menyatakan filsafat itu haram, tidak terdapat dalam Alquran dan sunnah, produk pemikiran orang kafir, maupun timbul aneka kewaspadaan yang menggiring persepsi bahwa berfilsafat dapat menjadikan seseorang menjadi kafir, atheis, zindiq, dan pandangan lain yang sama sinisnya.

Haidar Bagir dengan bukunya bertajuk Mengenal Filsafat Islam ini hadir berupaya mengenalkan filsafat Islam dengan bahasa poluler, luwes, dan tidak kaku, harapan mampu dicerna dan diterima semua lapisan, tidak hanya bagi pegiat filsafat saja. Namun khususnya bagi mereka yang ingin bergiat sebelum menyelam begitu dalam sebagai pengantar.

Sebenarnya filsafat sama halnya dengan bidang ilmu lain, yang terkadang menuai kesulitan dan terkadang juga mudah dipahami, andai saja filsafat juga dikenalkan sejak dini, minimal pernah dipelajari laiknya ilmu lain mungkin juga ada yang mengatakan susah, dan beberapa yang lain mengatakan mudah.

Namun sayang, yang menjadi problem adalah belum juga menyelidiki dan membaca teks-teks filsafat telah menyatakan kesulitannya. Atau tiba-tiba membaca pemikiran-pemikiran tokoh secara langsung tanpa memahami peta histori gagasan sebelumnya. Misalnya bertemu dengan pernyataan filsuf soliter si Nietzsche “Tuhan Telah Mati” atau “Agama Adalah Candu” sebagaimana dilayangkan Karl Marx, tentu saja secara spontan akan mengalami shock.

Coba saja ditata sebelumnya dengan pondasi yang kuat tatanan dasar-dasar filsafatnya tentu tidak akan terjadi kekagetan yang menimpanya, mengikuti secara gradual alur kecamuk pemikiran dari sejak awal hingga saat ini. Masa iya untuk menaiki anak tangga harus langsung menapak ke tangga yang paling tinggi, tentu akan susah bukan? Tidak hanya filsafat, hal ini pun berlaku untuk semua cabang ilmu pengetahuan.

Buku ini layaknya peta yang menggambarkan khazanah pemikiran filsafat Islam, meskipun membatasi diri dengan tidak membahas semua tokoh dalam buku ini, paling tidak ini cukup menyampaikan sari-sari utama kajian-kajian filsafat dalam tradisi keilmuan Islam. Dengan beberapa aliran-aliran filsafat Islam sebagaimana tertuang dalam bab 6 yang meliputi; filsafat Islam peripatetik (masysyaiyyah), ilumunisme (isyraqiyyah), transendentalisme  (teosofi transenden atau al-hikmah al-muta’aliyah). [hlm. 87-93]

Haidar Bagir lihai dalam membawakan buah pikiran para filosof Muslim dengan bahasa yang cukup mudah.  Dengan memberikan garis-garis besar untuk memberikan kata kunci dari pokok pemikiran masing-masing filosof dengan sangat singkat, padat, dan jelas, serta menyuguhkan beberapa peniliti yang konsen dengan filsafat Islam secara umum hingga yang fokus pada buah pikiran perorangan.

BACA JUGA  Radikalisme Mengancam Kedaulatan NKRI?

Bagi Haidar Bagir, filsafat dapat digunakan sebagai cara mendekati ajaran Islam dari luar teks-teks Islam melalui akal budi manusia yang merupakan karunia-Nya juga, sekaligus dapat memberikan pembenaran (justifikasi) logis atas ajaran-ajaran Islam. [hlm. 33-34]

Betapapun anggapan orang-orang mengharamkan terhadap filsafat karena berasal dari Yunani, buku ini menampik itu dengan menghadirkan argumen; cukup dikatakan bersesuaian dengan ajaran Islam. Sekalipun kesimpulan (natijah) yang diambil tidak sama dengan cabang ilmu keislaman lainnya.

BACA JUGA  Terorisme dan Strategi Diplomasi Intermestik

Meski para filosof Muslim awal banyak dipengaruhi peripatetisme Aristotelian dalam wajah filsafat Islam, tak pernah benar-benar memunggungi ajaran fundamental ajaran Islam (penjelasan lebih lanjut Bab 5) dan harus diakui peristilahan dan cara pengungkapannya tidak sama dengan yang dipakai dalam ilmu keislaman tekstual.

Memang banyak akan kita temukan para filosof yang atheis dengan pemikirannya yang sangat mengkritik tajam atas agama dan komponen-komponennya. Meski demikian, di sisi yang berbeda juga banyak ditemukan sosok filosof yang begitu agamis dan religius, meminjam istilah Prof. Musa Asy’ari berfilsafat justru merupakan sunnah Nabi dalam berpikir.

Diakui atau tidak, filsafat menjadi sumber paradigma yang selalu mendasari dan menemani perkembangan laju perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Jika anda bertanya bagaimana bisa? Dalam filsafat merumuskan dan membahas juga konsep-konsep tentang Tuhan, kebebasan, keadilan, kebahagiaan, dan hal sentral lain yang kerap kali dekat dengan kehidupan manusia.

Kita tahu kritik tajam atas (beberapa ajaran/pemikiran) filsafat islam datang dari Ghazali, namun seharusnya kita juga tidak lupa bahwa Ghazali juga seorang filosof. Bahkan dari sekian banyak bukunya cukup mengandung nuansa filosofis yang begitu kental. Jangan salah, bahkan buku yang diitulis Tahafut al-Falasifah yang dijadikan kritik atas pemikiran filosof awal (Al-Farabi, Ibnu Sina, dkk) sesungguhnya menggunakan berpikir filsafat.

Yang perlu kita tahu dan sadari betul, bahwa sebelum Ghazali mengkritik, ia  telah mengkaji dan belajar filsafat bertahun-tahun lamanya, nah kamu? Sudah berapa lama dan banyak buku filsafat yang anda baca hingga menjatuhi haram bahkan menyesatkan mereka yang belajar filsafat. Betapapun akhirnya Ghazali menjatuhi kafir terhadap Ibnu Sina dan ini juga masih menjadi perdebatan, yang nantinya muncul karya Tahafut at-Tahafut karya Ibnu Rusyd.

Bayangkan saja jika Islam pada masa itu begitu tertutup tidak mau menerima khazanah keilmuan yang berkembang dari peradaban lain dengan dalih perbedaan agama misalnya sebagaimana yang dialami filsafat. Apa mungkin Islam akan menjadi kiblat pengetahuan? Apa mungkin kemajuan dan kepesatan berpikir kaumnya akan secanggih saat itu?

Buku ini berusaha menghilangkan kesan sulit dan berupaya menjelaskan seringkas dan sejelas mungkin hingga terkesan tidak terlalu nampak tebal dan berat untuk dibaca. Selain itu, buku ini juga cocok bagi anda yang ingin mengenal garis-garis besar pemikiran filsafat Islam dari para filosof awal Al-Kindi hingga puncaknya pada Mulla Sadra.

Shallallahu ‘ala Muhammad

Ali Yazid Hamdani
Ali Yazid Hamdani
Mukim di Yogyakarta, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru