24.6 C
Jakarta

Argumen Khilafah tentang Negara Islam: Menyangkal Sejarah Pemerintahan Islam

Artikel Trending

KhazanahTelaahArgumen Khilafah tentang Negara Islam: Menyangkal Sejarah Pemerintahan Islam
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Narasi tentang negara dan agama, khususnya agama Islam, tidak pernah selesai dalam ruang perdebatan. Dari sekian aktifitas dan upaya yang dilakukan oleh para aktifis khilafah untuk tetap keukeuh memperjuangkan negara Islam agar tegak di Indonesia adalah, glorifikasi sejarah pemerintah Islam yang sudah melampaui ruang dan waktu.

Sisi gelap pemerintahan Islam atau sistem negara khilafah dari dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga Utsmani perlu kita akui. Jangan sampai, kita mengglorifikasi kesalahan umat Islam sendiri dengan menyudutkan Barat sebagai penjahat. Kita perlu bersikap adil sejak dalam pikiran untuk menentukan kebijaksanaan moral dan bersikap sebenar-benarnya memahami sejarah para pemerintahan Islam di masa silam. Ini adalah upaya yang sangat penting dilakukan sebagai masyarakat Islam yang mencoba untuk mengambil semangat dalam konteks kebangsaan di Indonesia. Artinya, corak hubungan yang harmoni antara Barat dan Islam perlu diakui secara seksama sebagai spirit kebhinekaan bangsa Indonesia.

Di masa silam, peran non-muslim terhadap pemeritahan Islam sangat banyak. Salah satu contohnya, pada pendirian Bayt al-Hikmah, sebuah tempat yang dikenal sebagai pusat peradaban dunia pada masa dinasti Abbasiyah. Pada masa Abbasiyah, tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan, akan tetapi menjadi tempat pertemuan para pemerintah, hingga tempat berjumpa para intelektual. Kontribusi ilmu pengetahuan sangat pesat. Penghargaan atas keilmuan benar-benar diakui oleh pemerintah untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu. upaya besar yang dilakukan salah satunya yakni menghadirkan naskah-naskah kuno dari berbagai kalangan. Peran penerjemah sangat besar sebab menjadi salah satu faktor menyebarkan pengetahuan melalui naskah-naskah Yunani. Nyatanya, peran besar itu dilakukan oleh tokoh-tokoh Kristen seperti: Ibn Maskawayh, Hunayn bin Ishaq, dll. Mereka adalah tokoh yang berpengaruh besar terhadap peradaban Islam.

Apakah hanya ini saja? Kalau kita baca literatur sejarah Islam, banyak sekali contoh-contoh serupa untuk kita ambil sebaga spirit persatuan Indonesia. Akan tetapi, mengapa kontekstualisasi sejarah itu diambil oleh para aktifis khilafah untuk terus menyerukan mendirikan negara Islam di Indonesia?

Kritis dalam melihat fenomena

Melihat fenomena yang demikian, tidak salah kiranya jika kita melihat perjuangan Cak Nur (red: Nurcholish Madjid) sebagai salah satu tokoh pembaharu bangsa. Ide yang paling tepat untuk menggambarkan fenomena ini adalah, mendorong kemodern-an Islam untuk diaplikasikan pada zaman modern. Salah satu ciri modern tersebut adalah realitas.

BACA JUGA  Fenomena Pemaksaan Jilbab Di Lembaga Pendidikan: Waspada Pergerakan Radikalisme

Pada konteks ini, ciri moden adalah rasionalitas, yang berarti berarti sikap umat muslim agar tidak terbelenggu oleh berpikir serba fikih atau fikisme yang akhirnya membuat umat Islam sendiri terbelenggu pada kejumudan ajaran, tradisionalitas dan menolak hal-hal baru yang seharusnya diterima. Kecenderungan formalisme seperti ini menciptakan kesyirikan, karena mengobjekkan atau menuhankan hal yang diluar Tuhan, seperti simbol, ideologi, partai, dll. Artinya, umat muslim sendiri memiliki tantangan untuk belajar memahami ideologi barat seperti kapitalisme dan sosialisme.

Kalau kita lihat para aktifis khilafah, ideologi kapitalisme ditolak habis-habisan secara terang-terangan, menjadi perjuangan yang sangat asik bagi umat muslim sebagai medan perjuangan. Betapapun perjuangan pemerintah untuk melarang kelompok khilafah, berbanding lurus dengan aktifitas khilafah yang tetap berkoar-koar bebas di media sosial. Melihat fenomena ini, umat muslim perlu menyediakan ruang untuk berpikir secara luas dan terus terbuka dalam melihat segala perkembangan yang ada. Bagaimanapun, penolakan para aktifis khilafah tentang kapitalisme, sebenarnya mereka terjun bebas dalam kapitalisme itu sendiri.

Argumen itu didasarkan pada, bagaimana Islam diperjualbelikan oleh para akfitis khilafah untuk merebut hati para umat Islam. Berapa banyak produk yang dibutuhkan oleh umat Islam dengan label Islam? Bukankah upaya itu adalah bagian dari kapitalisme yang naif untuk diakui oleh para kelompok Islam itu sendiri? dengan demikian, tidak ada yang benar-benar suci dalam kepentingan apapun. Kelompok khilafah justru mengkhianati  kesakralan Islam tersebut dengan membawa label Islam pada kepentingan kelompoknya untuk berkuasa dan menentang pemerintahan resmi.

Padahal seharusnya, upaya yang perlu dilakukan adalah menjadikan Islam sebagai pondasi dari kehidupan pribadi, dan tampil sebagai makhluk sosial dengan nilai-nilai Islam yang adil dan ramah. Sehingga Islam tampil tidak sebagai alat yang digunakan oleh umat Islam sendiri untuk mengambil keuntungan. Dengan demikian, berpikir kritis dalam beragama, sangat perlu untuk diterapkan oleh setiap umat Islam agar tidak jatuh pada kejumudan berpikir yang membuat masyarakat Islam semakin mundur, jauh dari peradaban Islam itu sendiri. Wallahu a’lam

 

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru