26.7 C
Jakarta

Umar Patek: Genangan Darah Bali dan Bom Waktu yang Bisa Meledak Kapan Saja

Artikel Trending

Milenial IslamUmar Patek: Genangan Darah Bali dan Bom Waktu yang Bisa Meledak Kapan...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Dor! Bom tiba-tiba meledak. Sekumpulan orang yang bercerita tentang makna hidup sambil nyeruput kopi, seketika musnah. Satu keluarga yang membawa putra-putri bertamasya di Bali, menjadi mayat tidak berharga. Tariakan ketakutan spontan keluar dari mulut manusia baik yang tidak tahu apa-apa. Tangisan-tangisan pecah melihat sanak keluarga tak diketahui bentuknya. Yang terlihat hanyalah sobekan baju dan celana bersimbah darah pekat. Yang terasakan hanyalah ketiadaan, ketiadaan, ketiadaan, dan kehancuran.

Dor! Bunyi bom meledak. Banjir darah tergenang di Bali 2002. Daging-daging segar manusia menempel di gedung-gedung cat putih tak bertuan. Tulang rusuk banyak manusia, tercabik-cabik oleh ganasnya bom dan kebencian Umar Patek, Imam Samudra, Amrozi, dan Mukhlas alias Ali Gufron, serta teman-temannya.

Ganasnya Kebencian Teroris

Indonesia seperti gelap terisi kebencian. Di antara yang tidak mati oleh ganasnya kebencian dan bom Umar Patek, mereka mengalami luka-luka yang dibawa seumur hidup. Banyak dari mereka, matanya dimasuki oleh pecahan-pecahan kaca. Hingga kini, mereka masih buta. Sebagiannya bisa melihat, tapi tidak seperti asalnya buatan Tuhan yang Maha Esa.

Keluarga mereka masih merasakan hilang, orang-orang Bali dan Australia tewas kehilangan keluarga tersayangnya. Dan beberapa manusia kini masih trauma dan menglami sakit, luka-luka, bahkan buta mata, yang akan dirasakan seumur hidup. Sementara satu manusia yang membuatnya seperti itu kini bebas.

Umar Patek yang menjadi otak dan perakit bom Bali 2002, hanya dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Dan dia mendapatkan serangkaian pengurangan hukuman dengan total sekitar 33 bulan. Apa yang adil dari peristiwa ini?

Thiolina Marpaung adalah penyintas tragedi bom Bali pada 12 Oktober 2002 lalu. Sejak 20 tahun berlalu, dia masih terus menanggung trauma hingga luka fisik di bola matanya akibat serangan bom Umar Patek yang menewaskan 202 orang. Di tengah beban luka itu, Thiolina meraskan sedih, perih dan kecewa ketika salah satu pelakunya Umar Patek mendapatkan pembebasan bersyarat.

“Yang membuat sedih adalah dia sebagai pelaku sudah bebas, sementara saya sampai saat ini masih harus menanggung luka seumur hidup. Luka saya tak akan sembuh. Dua bola mata saya cedera. Lensa di bola mata kiri diganti, mata kanan juga diganti karena kemasukan kaca di otot mata yang putih. Lensa mata yang Tuhan kasih, diganti lensa dari transplantasi,” (BBC News Indonesia, (08/12).

Pengakuan yang Harus Diapresiasi

Kejujuran Thiolina adalah perwakilan kejujuran hati Nurani bangsa Indonesia. Dia adalah perwakilan suara-suara manusia yang mati pada bom kejadian saat itu. Siapa yang tidak marah melihat orang yang membunuh banyak orang cerngengas-cerngenges, ngomong di media: “tolak terorisme!

Lalu dengan kepura-puraan, ia mencoba merayu publik dengan cara meminta maaf. Ingat, nyawa tak bisa digantikan dengan hanya meminta maaf. Doa bola mata Thiolina yang rusak kemasukan beling dari ulah Umar Patek, tidak bisa digantikan dengan kepura-puraan minta maaf dan santunan.

Saya menyaksikan bagaimana tergirisnya hati mereka (Thiolina), melihat Umar Patek yang membunuh keluarganya, berkeliaran dengan janggut pirang dan kepala plontos yang disurbani rambut pirang hasil semiran dua puluh ribuan.

Hingga kini, mereka tidak percaya, bahwa Umar Patek benar-benar sembuh, atau kadar radikalnya menurun, seperti yang diucapkan guru saya Muhammad Syauqillah, dan ketua BNPT. Mata yang melotot merah, seperti kepulan-kepulan api neraka, membawa kita kepada kesimpulan: Umar Patek adalah bom waktu yang akan meladak kapan saja.

Sikap Ambivalensi

Apakah kesimpulan ini terlalu tergesa-gesa? Tidak. Perlakuan kegilaan dan keganasan seorang teroris, yang berani membunuh banyak orang adalah puncak radikalnya, dan karena itu tidak perlu diperhalus oleh bahasa-bahasa negoisasi absurd. Bahkan jika alasan Umar dibebaskan karena dia sudah mengikuti program pembinaan deradikalisasi, bertugas menjadi pengibar bendera Merah Putih, mengajukan pembebasan bersyarat, dan telah berikrar setia NKRI, ini terlalu dangkal, terburu-buru dan mencedarai hati Nurani semua bangsa. Serta tidak berkasih hati pada korban.

Mengapa? Pertama, ideologi tak bisa diubah oleh apa pun. Karena ideologi tak bernafas, tak bisa diukur, bahkan tak bisa ditawar, dan tak bisa dilihat kadar turunnya. Gestur tubuh Umar Patek masih sama dengan gestur tubuh yang ia peragakan belasan tahun lalu, saat ia baru ngebom Bali. Apalagi, jika acuannya program deradikalisasi yang sampai saat ini masih lumpuh, tumpul, dan belum kita ketahui rimba kesuksesan dan keefektivannya memberantas—jangankan teroris, radikalisme saja ampun-ampunan.

Kedua, Umar Patek bukan orang yang tepat untuk dibawa negara sebagai peluru dan bahan melakukan kontra narasi terhadap informasi-informasi radikalisme dan terorisme di masyarakat maupun media sosial.

Umar Patek adalah orang yang cerdas dan bisa memanipulasi siapa saja. Bahkan dengan bebasnya hari ini, sepertinya ia telah sukses menipu negara. Ia pinter bersikap, ia juga cakap dalam menginternalisasi kondisi lingkungannya dalam bentuk manipulasi dan kepura-puraan.

Kini, yang diterjemahkan dalam perilaku Umar, dan kemudian dijadikan tolok ukur negara melihat kadar radikalisme Umar, adalah ia berlaku baik dan sebagainya. Padahal, kalau kita berpikir secara rasional, Umar (seperti para napi lainnya, termasuk pelaku bom bunuh diri di Bandung kemarin, yang dulunya dibebaskan negara karena perilaku baik), mengembangkan sikap seakan-akan menerima, patuh, tidak radikal, dan seakan-akan telah berhasil dideradikalisasi. Ia tahu dengan cara bertaqiyyah seperti itu, menjadi pintu masuk bebasnya mereka. Jika sudah bebas dia bisa memerankan dua peran sekaligus: sok-sokan cinta kenegaraan dan keterorisan.

Yang terakhir ini yang akan ia tetap perjuangkan. Ia adalah agen dan pemain ulung dalam memerankan banyak hal. Ia adalah orang yang bebas dalam menentukan sikap dan respon terhadap siapa saja. Lalu, siapa akan bertanggung jawab, bila Umar Patek melakukan bom teror kembali lewat tangan bersihnya, yakni memanfaatkan anak buahnya? Program deradikalisasi?

Sejauh ini, saya adalah orang yang tidak percaya terhadap akal-akalan para teroris. Diberitakan berikrar NKRI kek, mau hormat bendera kek, mau mengibarkan bendera merah putih kek. Bagi saya, ini adalah cara mereka untuk memulai dari awal. Dan ingat, segala ritus, taktik, dan strategi teroris di seluruh dunia, memang sudah menerapkan sikap lentur, seperti yang dilakukan Umar Patek saat ini. Dan saya kira, ia mengikuti strategi kaka angkatannya di Al-Qaeda, serta gurunya guru, seperti Abu Bakar Ba’asyir.

Saat ini, Umar Patek bebas.Umar Patek mendapatkan hidupnya kembali. Di tengah banyak orang sakit hati dan kehilangan keluarganya yang tidak akan pernah mendapatkan hidup kembali.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru