32.1 C
Jakarta

Trik Pintar Berdebat Dengan Wahabi

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuTrik Pintar Berdebat Dengan Wahabi
image_pdfDownload PDF

Judul Buku: Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi, Penulis: KH. Muhammad Idrus Ramli, Penerbit: Bina Aswaja bekerja sama dengan LBM NU Jember, ISBN: 978-602-99206-0-4, Tebal: 173 halaman, Dimensi Buku: 12,5 x 17 cm, Peresensi: Kang Nasrudin.

Harakatuna.com – Penyajian materi melalui rangkaian cerita dialog dan perdebatan secara langsung antara orang-orang yang berbeda pendapat merupakan salah satu metode yang sangat efektif untuk menyampaikan bahasan seputar akidah Ahlussunnah Waljamaah. Perdebatan antara para ulama memang terjadi secara langsung dalam forum-forum dialog terbuka maupun melalui buku yang saling berbantah.

Para ulama masa dahulu sudah terbiasa menggunakan kedua metode ini. Begitulah Ustadz Muhammad Idrus Ramli mengawali pembukaannya dalam Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi.

Pada dasarnya memang metode debat bukanlah hal yang tabu. Para ulama telah menggunakannya sepanjang masa. Bahkan sebagian membukukannya dengan baik. Misalnya saja Imam Syafi’i dengan Jima’ al-Ilmi-nya, Imam ar-Razi dengan Al-Munazharat-nya, dan Imam Abu Ali al-Sakuni dengan ‘Uyun al-Muzharat.

Menurut Ustadz Idrus Ramli, lahirnya buku ini merupakan rangkuman dialog-dialog yang terjadi dalam berbagai kesempatan mengisi pelatihan dan internalisasi Aswaja di kalangan nahdliyin. Untuk melengkapi dialog-dialog yang dimuat, ditambahkan pula berbagai dialog yang terjadi antara para ulama dengan kalangan Wahabi.

Beragam Tema Perdebatan

Sesuai namanya, buku ini memuat berbagai tema yang menjadi “nasi-sayur” bagi kalangan Wahabi untuk dilontarkan ke kalangan nahdliyin. Mulai dari yang paling mendasar seperti tabaruk/ngalap berkah (hal.1), tawasul (hal. 105), yasinan dan tahlilan (hal. 137), keberadaan Allah bertempat ataukah tidak (hal. 16), dan tidak ketinggalan berbagai bahasan tentang bid’ah (hal. 36 dan 158).

Selain itu, buku ini secara rapi menghadirkan kritik keras terhadap aliran Salafi-Wahabi hingga bisa saja menggolongkannya sebagai aliran sesat dan neo-Khawarij. Pembahasan soal ini terbilang panjang karena termuat dalam dua bab; Bukan Ahlussunnah (hal. 69) dan Menurut Al-Syathibi (hal. 87). Sehingga pembahasan tentang perilaku dan ciri aliran sesat yang ditujukan pada aliran tersebut termuat dari halaman 69 sampai 104.

Pembelaan Mazhab

Sebagian kalangan Wahabi cenderung anti-mazhab, meskipun faktanya mereka sendiri mengikuti pemikiran dan pemahaman tertentu. Dalam buku ini pun diuraikan pembelaan dan debat soal cerdas bermazhab. Diungkapkan fakta pula bahwa kalangan Wahabi sering berlaku seolah paling paham mazhab Syafi’i yang notabene diikuti mayoritas kaum Muslim Indonesia, saat yang sama pula mereka mengkritisi perilaku mengikuti mazhab.

BACA JUGA  Gus Dur dan Perjuangan untuk Etnis Tionghoa di Indonesia

Dalam hal akidah, NU menegaskan mengikuti mazhab Abu Hasan al-Asy’ari. Salah satu kitab yang dinisbatkan kepada Imam Asy’ari ini adalah Al-Ibanah. Namun nyatanya, dalam kitab tersebut terdapat uraian pemahaman yang bisa dibilang aneh terkait sifat-sifat Allah yang lebih mirip dengan pemahaman aliran Salafi Wahabi.

Oleh karena itu pula mereka sering menuduh kalangan nahdliyin tidak mengikuti Imam al-Asy’ari secara konsisten. Tetapi dalam buku ini (hal. 126) masalah tersebut dibantah dengan tegas dengan menyajikan fakta menarik tentang kitab al-Ibanah yang beredar saat ini.

Kutipan Menarik

Tidak jarang, Wahabi menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk membenarkan keyakinan mereka bahwa Allah bertempat di langit. Akan tetapi, dalil-dalil mereka dapat dengan mudah dipatahkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sama (hal. 18).

Tentu saja banyak sekali hal-hal lucu kaum Wahabi, dalam mengambil dalil akidah mereka. Sebagian ada yang berdalil dengan pernyataan Fir’aun kepada Haman. Ada pula yang berdalil dengan cara ayam berkokok yang mengangkat kepalanya ke atas (hal. 35).

Alasan utama mengapa aliran Wahabi dikatakan Khawarij dan bukan Ahlussunnah Waljamaah adalah paradigma pemikirannya yang mengusung konsep takfir wa istihlal dima’ wa amwal al-mukhalifin, pengafiran dan penghalalan darah dan harta benda kaum Muslim di luar alirannya (hal. 71).

Kita kadang bingung menyikapi mereka. Terkadang mereka menggugat kita karena bermazhab, yang mereka anggap telah menginggalkan Al-Qur’an dan sunah. Dan terkadang mereka menggugat kita dengan pendapat imam mazhab dan para ulama mazhab. Padahal mereka sering menyuarakan anti-mazhab (hal. 131).

Menilik dari isi buku yang menarik, dialog yang mengalir, serta pemaparan hujah yang kuat, maka bisa disimpulkan bahwa buku ini sangat direkomendasikan untuk Anda yang ingin memahami lebih dalam dalil-dalil akidah dan amaliah Aswaja. Lebih-lebih bagi para aktivis agama yang sering bersinggungan dengan kalangan Wahabi.

Meskipun secara ukuran, Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi terbilang seukuran buku saku, namun ilmu yang dimuatnya sangatlah berbobot. Nyaris beragam permasalahan yang sering diributkan oleh kelompok Wahabi serta runtutan dialognya dibahas dalam buku ini.

Dengan kata lain, buku ini menguraikan trik pintar berdebat dengan mereka yang selalu mengafirkan sesama Muslim. Wajib dibaca!

Kang Nasrudin
Kang Nasrudin
Alumni PP. Miftahul Falah, Sumber Sari. Lanjut ke PP Darussalam Blokagung, Banyuwangi. Pernah mengikuti program Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Alquran, Tangerang, Pusat Studi Alquran, angkatan ke-8.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru