24.2 C
Jakarta

Surat yang Dirindukan

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Siang itu tepat jam satu Diva baru pulang sekolah. Rasa lelah mulai dirasakannya karena dari pagi sampai siang belajar di sekolah. Inginnya segera tidur, tapi sebentar lagi ada shalat jama’ah Zuhur.

“Diva dipanggil pengurus keamanan,” seorang santri berdesis.

“Tidak bercanda, Mbak?!” Diva antara percaya dan tidak percaya. Baru pertama kali dipanggil keamanan.

“Aku baru saja dari kantor pesantren.”

“Panggilan apa, Mbak?” Diva mulai penasaran berselimut rasa takut yang menjadi-jadi.

“Aku belum tau juga. Aku baru mau balik, si pengurus itu, aduh lupa namanya, minta aku ngabarin Dek Diva ke kantor pesantren.”

Diva terpaku seorang diri. Mematung. Pikirannya mulai kusut. Pengurus keamanan satu-satunya pengurus yang ditakuti, karena sikapnya cuek, wajahnya yang sulit senyum, dan bicaranya yang sangar.

“Bismillah, Dek! Insya Allah selamat. Tidak ada masalah.”

“Terima kasih, Mbak.”

Tak terdengar respons berikutnya, si mbak sudah tak kelihatan batang hidunya. Dia kembali ke biliknya atau entah ke mana.

Diva bergegas menuju ke kantor pesantren. Melangkah penuh kekhawatiran. Jantung berdegub kencang. Kantor pesantren kelihatan di depan mata.

“Assalamualaikum, Ustadzah.” Diva mengucap salam.

“Waalaikum salam, Ukhti. Silahkan duduk!”

Diva membatin: Disuruh duduk?! Aku mau diapain ya Tuhan?

“Diva Rizka Maulia?” tanya pengurus keamanan singkat.

“Na’am, ustadzah.” Diva menjawab singkat pula.

“Diva familinya Fairuz Zakyal Ibad?”

Mendengar sebutan Fairuz, pikiran Diva berkecamuk. Pasti gara-gara surat kemarin ini. Rab, bantu Diva untuk keluar dari keadaan yang menakutkan ini.

“Diva,” ucap si pengurus dengan nada menaik.

“Fairuz bukan famili saya.” Diva berkata sebenarnya.

“Fairuz itu penulis hebat. Karya-karyanya bertebaran di media-media nasional. Aku sering baca tulisan-tulisannya. Bagus. Membaca tulisan Fairuz seolah pembaca dibawa ke alam impian, ke alam masa depan yang penuh harapan.” Tak dinyana si pengurus bercerita panjang lebar tentang Fairuz.

Diva tidak mengerti. Aneh. Tapi, perasaan kalut yang menyelimuti pikirannya sedikit demi sedikit semakin pudar.

“Beruntung Diva kenal dengan Fairuz. Siapa yang tidak mau kenal dengan santri keren seperti dia? Pasti mau, tapi aku belum punya kemampuan menulis sehebat Fairuz. Rasanya malu mau kenal. Tak punya modal apa-apa.” Si pengurus tetap bercerita seolah Diva teman curhatnya.

Bibir Diva tersenyum. “Ana masih santri baru, Mbak. Belum punya kemampuan menulis seperti Fairuz.”

“Ooya… Tetaplah belajar dengan giat! Aku bertahun-tahun di pesantren belum bisa apa-apa. Baca kitab aja masih kaku, apalagi menulis yang membutuhkan bacaan yang kuat.”

Diva tersenyum. Terdiam.

“Maaf dari tadi kelamaan Diva duduk di sini. Ini surat dari Fairuz.” Sepucuk surat yang diharapkan baru Diva rengkuh siang itu. Rasanya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya. Bahagia banget, padahal belum membacanya.

“Ana balik, Ustadzah.” Diva pamit dan segera keluar dari kantor pesantren.

Siang itu bukan lagi menyeramkan, menakutkan, dan menyebalkan. Diva mau berkata kepada dunia, hari itu adalah hari yang penuh dengan kebahagiaan.

Begitu lipatan surat itu dibuka, mata ini rasanya tidak ingin melepasnya, seakan penulisnya bertutur langsung di depan mata, padahal itu hanya sebatas perasaan saja. Penulis surat itu berada di balik tembok tebal dan tinggi yang memagari santri putri.

Benar apa yang dikatakan si pengurus tadi. Tulisan Fairuz mampu membawa pembacanya menjadi bagian dari cerita penulisnya. Kata-katanya yang sederhana. Diksinya yang bagus. Ceritanya yang dramatis.

“Fairuz, siapa akhi sebenarnya?” Diva mulai tertarik mengenalnya, termasuk mengenal kepribadiannya lebih dalam.

“Ehem, ehem, ehem surat dari Fairuz.” Adel tiba-tiba berdiri mematung di depan mata.

Diva tersipu malu. Surat yang dibacanya seketika dilipatnya.

“Baca dong!”

“Sttt, dilarang berisik!”

“Siap laksanakan!”

“Hati-hati ketahuan Kak Nadia dan Hanum.”

“Terus.”

“Diva malu ketahuan mereka.”

“Kan sepertemanan.”

“Memang.”

“Makanya, mereka harus tahu kalo Diva sekarang….”

“Sttt, pokoknya dirahasiakan.” Diva memotong.

“Siap komandan!”

Pada akhirnya, surat itu terdiam dipangkuan pembacanya.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...