29.4 C
Jakarta

Selebrasi Ustaz Salafi: Dakwah Khalid Basalamah yang Tidak Cocok dengan NU

Artikel Trending

KhazanahTelaahSelebrasi Ustaz Salafi: Dakwah Khalid Basalamah yang Tidak Cocok dengan NU
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Memberikan kesempatan untuk berdakwah soal Islam kepada orang-orang yang memiliki perbedaan dalam aliran keagamaan, sah-sah saja. Kalimat ini tidak berlaku pada kelompok yang kerap mengumbar kemesraan khilafah masa silam. Kelompok semacam itu jangan diberi ruang. Termasuk, juga, ustaz Khalid Basalamah.

Islam mempersilahkan terang-terangan fakta-faktanya dan keterangan-keterangannya dibawa ke arena pembahasan dan menuntu akal yang adil untuk mengambilnya lantaran kesadaran pendapatnya, kepuasannya, hasil pemikiran dan pengetahuannya. Maka selayaknya hal itu terjadi, menjadi sebuah kewajaran terjadi perbedaan interpretasi dalam memaknai ajaran Islam, selama tidak keluar dari esensi Islam tersebut (Bakar Musa:1988, 131).

Kerap kali kita bersinggungan pemahaman dengan kelompok-kelompok Islam lainnya yang tidak sama. Ini wajar. Garis tebal bentuk kewajaran itu asal tidak menentang pemerintah dengan merubahnya kepada sistem khilafah. Sebab ini adalah dua hal yang berbeda, dan kelompok itu tidak bisa ditolerir.

Khalid Basalamah dan Dakwahnya

Masih segar dalam ingatan tentang komentar Ustaz Khalid basalamah soal menyanyikan lagu Indonesia raya. Dalam sebuah berita yang dilansir Okezone, terlihat bahwa Khalid Basalamah sedang berceramah di Mako Paspamres pada 25 Juni 2021 kemarin. Berita tersebut menimbulkan banyak respons netizen, termasuk soal alasan mengapa Ustaz semacam Khalid Basalamah dkk, masih saya diberi ruang untuk berdakwah, padahal tidak sejalan dengan NKRI.

Kiai Taufiq Damas, Wakil Katib Syuriyah Nahdlatul Ulama (NU) DKI Jakarta ikut berkoemntar soal fenomena ini dengan menulis utas melalui twitter. Menurutnya, ruang berdakwah bagi Khalid itu wajar, sebab aliran keagamaan Khalid Basalamah tidak menentang NKRI, apalagi untuk merubahnya pada sistem khilafah.

“Khalid ini termasuk ustadz Salafi-Hijazi: prinsipnya adalah melakukan purifikasi Islam, tapi mereka tidak anti terhadap pemerintah. Jangankan menentang, nyinyir terhadap pemerintah saja haram menurut pandangan Salafi-Hijazi ini,” tulis Taufiq Damas dalam cuitannya melalui twitter.

Jika melihat konteks salafi-hijazi, para pendakwah semacam ini sangat menghindari bicara politik. Mereka juga tidak berdakwah dengan menggunakan kekerasan. Sederhananya, mereka juga menolak terorisme. Apakah salafi hijazi radikal? Tergantung pemaknaannya! Jika radikal dimaknai sebagai ideologi yang bertentangan dengan negara. maka salafi-hijazi tidaklah termasuk radikal. Sebab mereka sangat menolak membahas politik, berbicara soal negara. mereka hanya konsen terhadap pemurnian ibadah dan aqidah. Dalam konteks keindonesiaa, mereka buta toleransi, tidak melihat kondisi Indonesia yang begitu majemuk.

BACA JUGA  Islamisme Generasi Milenial di Media Sosial dan Mengikisnya Wawasan Kebangsaan

Dakwah NU

Dua organisasi besar yang terus mempromosikan ajaran-ajaran Islam dengan ramah dan watak yang adem ayem, menjadi representasi Islam Nusantara yang berkembang di Indonesia. Dakwah yang dimaksud pula, bagaimana melihat konteks keindonesiaan yang begitu beragam.

Dakwah yang diusung oleh organisasi NU khususnya selalu memberi ruang terbuka untuk melihat berbagai persoalan, dalam tatanan sosial, kebangsaan dan kenegaraan untuk bisa didiskusikan, dicari konteks dalam ajaran Islam, sehingga Islam yang tampil tidaklah kaku.

Mendakwahi soal Tuhan perlu secara lembut. Ini berarti bahwa dalam berdakwah, sangat penting kiranya untuk tidak mencaci maki, membida’ahkan, dll. Meluruskan keburukan harus dengan cara yang lembut agar bisa diterima. Sebab ada ungkapan bahwa jika substansi yang bagus disampaikan dengan cara buruk, akan mubazir, bahkan menjadi buruk. (Nur. H. Maarif:2017, 29).

Dakwah dengann sikap diatas, sangatlah dijunjung tinggi oleh ulama NU. Melihat berbagai konteks keislaman, mulai dari kesejarahan, budaya dan adat yang dimiliki Indonesia, serta bagaimana para alim ulama masa silam berdakwah, menjadi cerminan dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat.

Berbeda halnya dengan Khalid Basalamah, Taufiq Damas lanjut menulis.

“Kalau soal membid’ahkan amalan tahlilan, Maulid Nabi, dll, itu memang bagian dari prinsip purifikasi Islam yang mereka anut (red;Khais Basalamah),” melalui cuitannya ditwitter.

Apa yang didakwahkan oleh Khalid Basalamah sangatlah tidak cocok dengan NU. Corak dan esensi keislaman yang tampil keduanya berbeda. Meski demikian, yang patut kita maknai bahwa orang seperti Khalid menurut Taufiq Damas, tidaklah menentang NKRI. Akan tetapi, bagaimanapun, corak dakwah yang dibawa oleh Khalid Basalamah menimbulkan pandangan dualitas saja, kalau tidak dosa ya pahala, halal atau haram, dan seterusnya. Wallahu a’lam.

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru