27.2 C
Jakarta

Sekolah Mengonter Radikalisme, Bagaimana Caranya?

Artikel Trending

KhazanahOpiniSekolah Mengonter Radikalisme, Bagaimana Caranya?
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Radikalisme selalu memainkan peran krusial di tengah-tengah generasi muda. Gerakan ini semakin hari secara fluktuatif semakin mengancam dan meresahkan saja. Perekrutan anggotanya sudah pada tahap terang-terangan dan marak diketahui publik. Bahkan seorang dengan pengetahun intelektual yang tinggi tidak menjadi jaminan untuk tidak terjerat gerakan ini. 

Salah satu aspek bidang negara yang harus diwaspadai salah satunya adalah aspek pendidikan. Pendidikan adalah sosialisasi sekaligus tempat pembelajaran untuk menanamkan ideologi, keyakinan hingga etika dan sikap. Nah hal ini tidak luput menjadi sasaran empuk para agen radikalisme untuk menyusup ke ranah pendidikan, terlebih pendidikan dini. 

Pendidikan dini yang dimaksud adalah sekolah dasar. Ya, tempat semua orang bisa merasakan bangku sekolah dan bagaimana tumbuh kembang pola pikir anak dibentuk. SD memegang peran penting dalam melawan narasi radikalisme. Mengingat usia siswa SD yang masih sangat muda dan mudah dipengaruhi, sekolah menjadi garis depan dalam membentuk pemikiran dan sikap yang toleran serta inklusif. Para siswa harus dibekali sedari kecil untuk melawan hal-hal yang berbau kekerasan.

Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim berpendapat pentingnya reformasi pendidikan untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mencegah segregasi. Beliau menekankan pada perlunya pendidikan yang membuka pikiran siswa terhadap keberagaman dan menghindarkan mereka dari pemikiran radikal.

Sejalan dengan pak menteri, mantan Ketum PBNU KH. Said Aqil Siraj juga mengatakan untuk menekankan pendidikan agama yang moderat di sekolah. Beliau berpendapat bahwa pendidikan agama yang benar adalah tidak ekstrem dan menjunjung tinggi multikulturalisme dan tidak pada logika biner seperti halnya “agamaku benar, maka agamamu salah”.

Maka dari itu, upaya yang dapat dilaksanakan di lingkungan sekolah adalah dengan peningkatan efektivitas ekstrakurikuler. Melalui kegiatan ini, SD dapat menanamkan nilai-nilai Pancasila dan rasa cinta tanah air. Lalu, kegiatan ekstra juga menjadi sarana untuk tempat bermain anak supaya lebih aktif dan kritis terhadap sesuatu. Jika cinta tanah air dan nilai Pancasila sudah ditanamkan sejak kecil secara mendalam, maka tidak ada celah bagi radikalisme untuk memasuki alam bawah sadar anak. 

Garda terdepan ekstrakurikuler pramuka dapat digunakan sebagai benteng pertahanan radikalisme. Mengapa demikian, pertama pramuka adalah ekstra wajib yang diikuti oleh semua murid. Selain itu event dan materi yang terkandung selalu berorientasi pada nasionalisme dan bela negara. Lalu, rasa kebersamaan dan toleransi yang diajarkan dalam pramuka menjadi kunci bagi anak sekolah dasar dapat menerima segala bentuk perbedaan.

Langkah selanjutnya yang dapat diterapkan adalah dengan penguatan pendidikan karakter. Ya, sebagai lembaga pendidikan karakter adalah elemen penting dalam sekolah. Sekolah harus mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kurikulumnya. Pendidikan karakter ini meliputi nilai-nilai seperti toleransi, empati, dan menghargai keberagaman. Guru dapat memanfaatkan pelajaran sejarah, kewarganegaraan, dan agama untuk menanamkan nilai-nilai tersebut.

BACA JUGA  Salafi: Kamuflase Wahabi Untuk Mengelabui Umat Islam

Misalnya dalam sebuah mata pelajaran sekolah PPKN anak diajarkan untuk bercerita tentang siapa dirinya dan bagaimana latar belakangnya. Bisa dimulai dengan, “Anak-anak, mari kita dengarkan cerita teman kita dengan penuh perhatian. Setiap orang memiliki cerita yang unik dan kita bisa belajar dari mereka.” Hal ini bisa membangkitkan rasa empati dan penghargaan sehingga nilai-nilai kekerasan dan doktrin penyesatan karakter tidak terbentuk pada karakter anak.

Strategi selanjutnya di lingkungan sekolah perlu dibiasakan untuk mengidentifikasi dan kritis terhadap perilaku ekstrem. Sekolah perlu sensitif dan aktif untuk menindaklanjuti perilaku ekstrem di kalangan siswa. Misalnya dengan adanya pemberian jam khusus BK, adanya kotak aduan layanan dan pemberian poster-poster stop kekerasan. Hal tersebut akan mendorong siswa untuk ingat supaya saling menyayangi antarteman dan tidak adanya bullying yang menjadi celah ekstremisme untuk mengincar murid-murid yang terbiasa dengan tindakan ekstrem. 

Maka dari itu perlu adanya contoh positif dari para guru dan staf sekolah. Sikap dan tindakan yang positif akan berdampak besar bagi tumbuh kembang anak. Misalkan saat masuk kelas guru selalu menyapa murid, berdoa, membantu kesulitan belajar siswa, dan selalu tepat waktu. Perilaku-perilaku tersebut tanpa disadari akan menjadi contoh positif sehingga nantinya ketika sudah dewasa akan menjadi kebiasaan positif dan tidak mudah diterpa arus radikalisme.

Selanjutnya, sekolah harus memberikan pelatihan aksi bela negara seperti dengan melakukan sosialisasi. Saat sosialisasi bela negara inilah bisa mendatangkan badan-badan anti radikalisme seperti BNPT atau tokoh narasumber dari instansi TNI atau polisi. Hal ini akan memacu antusias siswa dan dengan mudah untuk bersikap menentang segala bentuk dan tindakan radikalisme.

Terakhir yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pelajaran untuk selalu bersikap kritis. Kemampuan ini akan membantu mereka dalam mengevaluasi informasi yang mereka terima dan membuat keputusan yang baik berdasarkan penilaian yang matang. 

Dengan demikian dengan menerapkan langkah-langkah strategis di atas, setidaknya dapat membentengi generasi penerus muda untuk selalu waspada dan kritis terhadap radikalisme. Pasalnya gerakan ini secara eksplisit menyerang terus dan mengambil momentum untuk mencari pengikut. Mari dengan memperkuat aspek pendidikan kita lawan radikalisme sampai ke akar-akarnya. Lawan!

Yusup Nurohman
Yusup Nurohman
Santri di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru