27.7 C
Jakarta

Refleksi Isra’ Mi’raj: Jadikan Masjid Sebagai Corong Perdamaian

Artikel Trending

KhazanahOpiniRefleksi Isra' Mi'raj: Jadikan Masjid Sebagai Corong Perdamaian
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Di tengah momentum perayaan Isra’ Mi’raj, sebagai umat Muslim maka penting bagi kita merefleksikan diri akan peristiwa tersebut. Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad Saw. berangkat dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) lalu menembus langit ketujuh dan berakhir di Sidratul Muntaha serta memperoleh perintah untuk mengerjakan shalat lima kali dalam sehari.

Kendati Nabi Muhammad sukses melaksanakan perintah Allah tersebut, namun sejatinya saat itu Nabi sedang mengalami keterpurukan. Di satu sisi, dakwah Islamnya di Mekkah tidak mengalami kemajuan bahkan dapat terbilang bilang mengalami kemunduran. Di sisi lain, ia tengah berduka lantaran meninggalnya Khadijah.

Meskipun sedang banyak mengalami duka, namun Nabi mampu menyelesaikan tugasnya sebagai Rasul (utusan). Tentu, sebagai umat Muslim, menjadi tuntutan bagi kita untuk mampu meneladani Rasulullah Saw.

Kembali pada peristiwa Isra’ Mi’raj, ada pesan tersirat yang dapat kita ambil yakni, masjid menjadi sebuah pijakan pertama dalam keberhasilan Nabi Muhammad Saw. menebarkan ajaran Islam, yakni shalat.

Jika peristiwa tersebut kita kontekstualisasikan pada era sekarang, kita sedang memperingatinya di suasana yang juga tidak baik-baik saja. Umat Islam, khususnya di Indonesia saat ini tengah menghadapi persoalan terkait maraknya hoaks dan radikalisme.

Di lain sisi, tak jarang masjid menjadi sarana ujaran kebencian, memprovokasi dan menumbuh-kembangkan sikap tidak percaya terhadap antarsesama anak bangsa. Dengan kata lain, masjid sudah keluar dari fungsinya, yakni sebagai corong perdamaian.

Atas dasar inilah maka timbul sebuah pertanyaan, bagaimana cara kita menjadikan masjid sebagai corong perdamaian?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, penting bagi kita memahami dari pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada saat acara pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo yang merupakan hadiah dari pangeran UEA Mohammaed bin Zayed Al Nahyan untuk masyarakat Indonesia, dilansir dari Tribun Jateng (6/3/2021). Berangkat dari peristiwa itu, paling tidak ada dua pesan yang dapat kita tangkap dan perlu kita aktualisasikan.

Dari Isra’ Mi’raj ke Perdamaian

Pertama, masjid bukan hanya sarana untuk shalat berjemaah, melainkan juga untuk dakwah hingga wisata. Ini artinya, masjid tak hanya perlu menjadi bangunan ritus keagamaan untuk melaksanakan perintah Allah. Melainkan, dapat menjadi tempat atau sarana untuk memancarkan nilai, makna dan pencerahan kepada masyarakat luas.

BACA JUGA  Transformasi Khilafahers: Dari NII Ke Khilafatul Muslimin

Kedua, masjid merupakan sarana terpenting dalam upaya merawat moral dan mentalitas masyarakat yang bertakwa. Sejalan dengan misi kerisalahan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi alam semesta.

Ini artinya, mengembalikan masjid kepada fungsinya sebagai pusat peradaban, pusat pendidikan dan pusat kegiatan masyarakat untuk menegakkan ajaran Allah adalah mutlak. Karenanya, keberadaaan masjid menjadi corong umat Islam untuk menunjukkan eksistensinya sebagai masyarakat yang damai. Melalui masjid ini suara dan pesan Islam sebagai agama perdamaian terkumandangkan.

Bersandar pada pandangan tersebut, maka dalam konteks menjadikan masjid sebagai corong perdamaian, kita perlu sadari bahwa, masjid itu adalah milik umat, bersama, dan tidak boleh dimonopoli oleh kelompok tertentu namun.

Jika ada kelompok yang memanfaatkannya untuk memecah belah maka kita perlu mengambil tindakan pencegahan. Kita senantiasa mewaspadai pemanfaatan sarana ibadah untuk tempat penyebaran provokasi terhadap umat untuk saling membenci. Apalagi, melakukan tindakan kekerasan terhadap yang berbeda.

Selain itu, kita perlu memahami esensi dari beragama. Yakni, menerapkan ajaran agama di masyarakat dan mengapresiasi nilai ketuhanan yang diajarkan dari agama. Jika hanya pergi ke tempat ibadah dan menjalani ritual keagamaan saja, tapi masih bisa benci agama lain, maka sebenarnya ia tidak memahami esensi dari ilmu teologi itu sendiri. Apalagi sebenarnya negara kita merujuk pada ideologi Pancasila yang menyatakan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dengan demikian, bentuk kewaspadaan kita terhadap pihak yang kerap memanfaatkan masjid sebagai media provokasi adalah tindakan awal dalam hal menjaga dan menjadikan masjid sebagai corong perdamaian.

Akhirnya, di tengah momentum perayaan Isra’ Mi’raj kali ini maka, adalah sebuah keniscayaan bagi umat Muslim dapat mengambil peran menjadikan masjid sebagai corong perdamaian.

Saiful Bari
Saiful Bari
Alumnus Program Studi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Juga, pernah nyantri di Ponpes Al-falah Silo, Jember. Kini menjadi Redaktur Majalah Silapedia.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru