29.9 C
Jakarta

Pertaruhan Pemilu 2024 dari Terorisme

Artikel Trending

EditorialPertaruhan Pemilu 2024 dari Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Tak bisa dipungkiri bahwa Pemilu sudah lagi panas-panasnya. Di pelosok-pelosok desa, kontestasi dan ketegangan politik sangat terasa. Akibatnya, masyarakat saling intip antara pemilih dari berbagai paslon.

Di tengah situasi tegang ini, harapan terbesarnya adalah masyarakat bisa mempertahankan kedamaian dan persatuan bangsa. Agar tidak bisa direkayasa oleh siapa pun dan dari pihak mana pun.

Sebab, menurut Sri Puji Mulyono, eks-napiter di Kota Semarang berdasar pengalamannya, jika situasi memanas dan terjadi chaos, maka potensi dimanfaatkan teroris aktif sangat besar.

Perlu diketahui Puji sudah dua kali terlibat kasus terorisme tahun 2005 dan 2010. Kasus pertama, Puji terlibat terorisme karena menyembunyikan teroris Noordin M. Top dan Dr. Azahari. Kemudian kasus kedua, dia menyembunyikan Abu Tholut. Puji pernah ditahan di Nusakambangan, Mako Brimob, dan Lapas Kedungpane.

Sebagai eks-napiter, Puji menjelaskan kondisi negara atau masyarakat yang kacau saat Pemilu berpotensi menjadi peluang para teroris melakukan aksinya. Maka ia dan rekan-rekannya yang sudah bersumpah setia NKRI ikut berusaha menjaga perdamaian di masa Pemilu 2024.

“Kalau melihat pengalaman kami masa lalu itu memang kadang momen seperti ini momen yang ditunggu, sehingga apabila terjadi chaos, ada peluang untuk dari sebagian kami yang masuk. Itu yang kita khawatirkan dan antisipasi, jangan sampai hal ini terjadi,” ujar Puji di Jatingaleh, Semarang, Rabu (7/2/2024).

Memang di mana-mana, chaos menjadi harapan terbesar dari teroris. Sebab, dengan terjadinya chaos, mereka tidak perlu terlalu bersusah payah untuk membelah masyarakat pada tataran ekstrem. Tinggal mereka hanya bekerja dengan propaganda dan doktrin sedikit saja masyarakat bisa ikut dengan mereka: teroris.

BACA JUGA  Tugas Media Keislaman atas Maraknya Buku Bermuatan Radikalisme

Peluang-peluang untuk membuat Pemilu panas tidak bisa dihindarkan. Apalagi dengan narasi-narasi yang sengaja disebarkan oleh tiga kandidat yang saling berseberangan. Ditambah dengan narasi yang dijual oleh buzzer untuk mengentalkan sentimen masyarakat.

Jika sebelumnya para teroris ini sudah merencanakan kejahatan untuk membuat Pemilu gagal dan berantakan tidak bisa dilakukan, maka terakhir mereka hanya menunggu kesalahan dan kaos dari masyarakat.

Meski kita sama-sama tahu, teroris kali ini lumayan lemah, namun keberadaannya dalam kontestasi Pemilu ini harus tetap diwaspadai. Banyak sudah teroris yang ditangkap menjelang Pemilu. Artinya, teroris ini berjalan tidak sesuai dengan perintah amirnya. Mereka berjalan sendiri-sendiri sesuai hati nurani masing-masing.

Karena ini, para eks-napiter memang harus memberikan edukasi kepada banyak pihak dan kalau bisa dilibatkan dalam urusan Pemilu. Mereka harus komitmen bagaimana sebisa mungkin dengan bergandengan tangan dengan tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemuda ini supaya bisa menjaga suasana.

Misalnya, teroris memberikan contoh dengan mencoblos pada 14 Februari 2024. Sebab pasti selama menjadi teroris, sekali pun tidak pernah ikut serta mencoblos pada Pemilu. Artinya, kalau ada eks-teroris mencoblos, Pemilu bukan hal yang bertentangan dengan kaidah hidup mereka. Dengan cara begitu, maka diakuilah bahwa Pancasila dan demokrasi seturut dengan ajaran Islam bahkan dengan ajaran mereka.

Dengan cara begitu, maka kekerasan, intoleransi, ujaran kebencian, dan sikap terorisme bisa diredam semaksimal mungkin. Dan Pemilu 2024 berjalan dengan damai.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru