33.9 C
Jakarta

Peran Penting Masyarakat Halau Radikalisme Berkedok Revolusi

Artikel Trending

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Daftar Daerah yang Tegas Menolak Kehadiran Rizieq Shihab dan FPI

Gelombang penolakan atas keberadaan organisasi Front Pembela Islam menjalar kemana-mana, utamanya pasca kedatangan Rizieq Shihab ke Indonesia dari pelariannya atas kasus hukum yang menimpa....

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...

Hai, Pembaca Harakatuna. Bagaimana kabarnya? Apakah sudah dengan rumor bahwa Habib Rizieq, Imam Besar Front Pembela Islam akan segera pulang ke Indonesia? Jadi, Selasa (13/10) kemarin, ketika demo tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja, Ketua Umum FPI Ahmad Shabri Lubis menyatakan Habib Rizieq akan segera pulang ke Tanah Air. “Imam besar Habib Rizieq Syihab akan segera pulang ke Indonesia untuk memimpin revolusi,” kata Shabri, seperti dilansir Detik.

Wacana hendak pulangnya Sang Imam Besar, sejujurnya, sudah bergaung sejak lama. Kasus yang menjeratnya, atau isu pencekalan yang menimpanya, juga kembang kempis antara kubu yang percaya dan yang tidak. PA 212 dan GNPF bermain-main politik selama ini, dan instruksi dari Arab Saudi, yang mereka bahasakan sebagai “pesan dari tanah suci”, adalah penyokong semangat umat. Singkatnya, FPI sekadar menjadi tameng dari sepak terjang politik PA 212 dan GNPF, terutama sebagai oposisi.

Kita, Tim Redaksi, dalam rubrik-rubrik terbaru, telah mengulas bagaimana PA 212 dan GNPF mendominasi FPI. Yusuf Martak, Slamet Maarif, dkk, adalah aktor yang sama di kedua organisasi tersebut. Narasi yang dipakai ialah seputar pemerintah komunis, antek China, pemerintah sekuler, Jokowi komunis, dan sejenisnya. Tujuannya satu, yaitu membuat masyarakat tidak lagi mempercayai pemerintah. Dengan begitu, dukungan atas mereka, dengan sendirinya, akan menguat.

Dalam konteks permainan isu yang dibangun FPI, PA 212, GNPF, dkk, satu-satunya cara menanggulangi ialah membentengi diri dari paham radikal. Namun, tentu itu bukanlah tugas pemerintah belaka. Peran masyarakat juga merupakan kunci keberhasilan. Kita belum tahu pasti, apa yang Shabri maksud revolusi ala Habib Rizieq. Apakah itu perang melawan pemerintah yang dianggap zalim, apakah itu revolusi akhlak, sistem, atau yang lainnya. Kita hanya bisa mempersiapkan satu hal, yaitu berhati-hati.

Boleh jadi Shabri hanya bermaksud memancing semangat demonstran, bahwa Sang Imam Besar akan kembali mengomando jihad mereka. Tetapi jika memang benar ingin revolusi dalam artian “perjuangan berdarah”, selain polisi harus turun tangan, kita sebagai masyarakat wajib bahu-membahu menghalaunya. Sebab, itu radikalisme, bukan revolusi. Bukankah sudah lama kita dengar bahwa Habib Rizieq akan pulang dan bertindak seperti Ayatullah Khomeini yang memimpin Revolusi Iran tahun 1978?

Revolusi; Khomeinisasi Habib Rizieq

Shah Muhammad Reza Pahlavi, pemimpin monarki Iran, sebelum terjadinya revolusi, menjalankan pemerintahan yang brutal, korup, dan boros. Inflasi tinggi, kelangkaan, dan instabilitas ekonomi meresahkan masyarakat Iran ketika itu. Kejatuhan Dinasti Pahlavi terjadi setelah demonstrasi jutaan rakyat Iran berhasil melumpuhkan negara. Dilansir Wikipedia, Reza Pahlavi menjalani pengasingan, meninggalkan Iran. Ayatullah Khomeini kemudian kembali ke Teheran, disambut jutaan Bangsa Iran.

Realitas yang kita saksikan hari ini juga demikian. Habib Rizieq ingin menjadi pemimpin revolusi di Indonesia, pulang dari Arab Saudi dan berhasil menumbangkan rezim Jokowi. Selama Jokowi dan partainya menguasai negeri, maka FPI, PA 212, dan GNPF itu akan selamanya menjadi oposisi, mengobarkan emosi umat dengan mengagendakan revolusi Islam, dari Republik Indonesia menjadi NKRI Bersyariah. Namun, orang lupa satu hal: Habib Rizieq bukan, dan tidak akan pernah menjadi, Khomeini.

Semangat tersebut, tidak berlebihan kita sebut sebagai Khomeinisasi Habib Rizieq. Seolah hari ini ia tengah dalam pengasingan, sebagaimana Khomeini dulu melakukannya. Boleh jadi, itu terjadi karena dirinya merasa sudah cukup massa di Indonesia, untuk melakukan revolusi politik—penumbangan rezim. Jika itu yang Shabri anggap agenda revolusi Habib Rizieq, dipastikan itu tidak akan berjalan lancar. Berapa juta jumlah massa FPI, PA 212, GNPF, dkk? Dikiranya semua rakyat setuju rencana mereka?

Jawabannya jelas tidak. Negara ini tidak dipimpin koruptor, sebagaimana Iran di tangan Reza Pahlavi. Juga tidak mengalami inflasi, serta tidak menjadi antek-antek Barat. Umat Islam juga bebas mengamalkan agama tanpa kekangan apa pun. Bagaimana mungkin kemudian mereka ngebet ingin jihad revolusi? Yang terjadi nanti adalah maraknya aksi radikal, perusakan fasilitas umum, pemogokan sistem perekonomian gara-gara kericuhan. Itu yang diinginkan terjadi?

Di sini masyarakat menemukan momentumnya. Bukan untuk ikut-ikutan berseru revolusi, melainkan menghalaunya. Tidak ada hal yang lebih urgen daripada menjaga negeri dari rongrongan gerakan apa pun. Radikalisme berkedok revolusi tidak lebih dari sekadar pengecohan politik kekuasaan, melalui stigmatisasi rezim yang tengah memerintah hari ini—menganggap mereka musuh Islam. Pergolakan politik yang polemik dijadikan dituduhkan sebagai bukti bangkitnya komunisme.

Ganyang Radikalisme

Kalau mereka, para aktor penyeru revolusi, yang Habib Rizieq include di dalamnya, menyeru “ganyang China komunis,” maka sebenarnya narasi yang pas bukan begitu. Sebagaimana diuraikan Prof Salim Said, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia, komunis itu sudah bangkrut. Kita pun tahu, isu kebangkitan mereka hanya framing politik untuk mencitra-burukkan pemerintahan Jokowi. Ini tidak bermaksud membela Jokowi. Tidak ada kepentingan dengannya. Ini bermaksud menepis narasi bahwa ancaman serius kita adalah komunisme. Padahal sama sekali bukan. Ancaman kita adalah radikalisme.

Radikalisme bisa berkedok jihad Islam, bisa pula berkedok revolusi. Semua hanya kamuflase. Karenanya, paling tidak, jika masyarakat tidak bisa memberi sumbangsih banyak untuk memberantas mereka, masyarakat harus memiliki kesadaran diri untuk tidak terprovokasi dengan narasi yang dibangun para politikus bertopeng agama itu. Itu dalam rangka satu tujuan, yaitu mengganyang komunisme. Tidak ada ruang bagi para kaum radikal yang ingin menyabotase negeri.

Cara-caranya bagaimana? Kita sudah banyak mengulas mengenainya. Selanjutnya, adalah tugas masyarakat untuk memberikan imun tinggi untuk wawasan kebangsaan kita, bahwa betapa berharganya Indonesia saat ini tanpa harus berutopia menjadikannya serba agamis ekstrem. Indonesia sudah begini adanya, majemuk, dan tidak ada yang mampu merombak ketentuan tersebut. Apakah pengasong revolusi, yang sebenarnya radikalisme, itu mengira Indonesia ini adalah Iran? Tidak. Indonesia bukan Iran. Habib Rizieq bukan Khomeini. Dan revolusi yang digaungkan itu adalah radikalisme bertopeng.

Pertanyaannya, apakah kita akan terprovokasi dengan narasi jihad revolusi tersebut? Jawabannya ada pada kita masing-masing.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muhammad Rizieq Shihab, Quraish Shihab, dan Habib Lutfi

Muhammad Rizieq Shihab semakin viral. Sejak kembalinya dari Arab Saudi, sampai penjemputan, perayaan Maulid Nabi, hingga perayaan nikah anaknya menjadi tilikan banyak orang. Bahkan...

Organisasi Mahasiswa Riau Gelar Aksi Tolak Radikalisme

harakatuna.com. Pekanbaru - Sebanyak 41 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dan organisasi mahasiswa Riau menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Riau, Senin (23/11/2020). Dalam aksi...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ulama Austria Minta Aparat Tak Kaitkan Terorisme dengan Agama

Harakatuna.com. WINA -- Saat rasialisme dan diskriminasi terhadap Muslim di Austria melonjak, ulama di negara Eropa memperingatkan pihak berwenang tidak mengaitkan terorisme dengan agama apa pun. Setelah...

Jangan Mudah Menuduh Orang Lain Dengan Sebutan Lonte

Kata lonte dalam tradisi masyarakat Indonesia adalah bermakna kasar. Yaitu bermakna sebagai pezina ataupun pelacur. Kata lonte ini kembali viral di media sosial karena...

Lumpuhkan Radikalisme, Munas MUI Usung Tema Islam Wasathiyah

Harakatuna.com. Jakarta - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin menyampaikan pidato dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-19 di Hotel Sultan,...

Munas MUI ke-X; Saatnya MUI Kembali ke Khittah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah melaksanakan pemilihan Ketua Umum MUI baru periode 2020-2025. Pemilihan dilaksanakan pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-10 di Hotel Sultan,...