29.4 C
Jakarta

Moderasi Beragama, Pusaka untuk Mengatasi Intoleransi

Artikel Trending

KhazanahPerspektifModerasi Beragama, Pusaka untuk Mengatasi Intoleransi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Bagi masyarakat, intoleransi masih menjadi momok yang paling menakutkan saat ini. Pasalnya, ia tidak sekadar berkutat pada tataran ujaran kebencian, tidak menghargai perbedaan dan klaim otoritas kebenaran, melainkan bertransformasi menjadi aksi kekerasan, memaksakan kehendak, gerakan radikal hingga aksi terorisme yang seluruhnya sangat jauh dari iklim moderasi beragama.

Bahkan lebih dari itu, intoleransi dapat mengancam terhadap keutuhan NKRI. Itu artinya, perilaku ini seakan menjadi ‘bom waktu’ bagi bangsa Indonesia yang setiap saat bisa meledak kapan dia mau. Apalagi, di tengah keragaman dan multikulturalisme yang dimiliki bangsa Indonesia, perilaku intoleran seakan telah menemukan momentumnya kembali.

Tak jarang, pemicu utama lahirnya sikap intoleransi di tengah masyarakat adalah agama. Tentu, pertanyaan yang muncul dalam benak, mengapa harus agama? Bukankah agama mengajarkan cinta-kasih, kedamaian dan saling menghargai antar-sesama. Bahkan, agama mengecam segala bentuk tindak kekerasan.

Tentu kebanyakan orang menjawab iya, agama memang mengajarkan demikian. Namun, fakta di lapangan bertolak belakang dengan apa yang diajarkan agama. Bahkan, setiap tindak kekerasan kerap kali mengatasnamakan agama sebagaimana kasus yang terjadi akhir-akhir ini. Hal tersebut tidak lain disebabkan oleh; proses belajar agama secara doktrin-er dan instan.

Sehingga, yang tampak ke permukaan dari corak pemahamannya adalah; pemikirannya bersifat normatif, skripturalis (penafsiran yang hendak mencerabut nas, baik Al-Qur’an maupun hadis dari konteksnya), dan fundamentalis yang terkadang secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern.

Oleh karena itu, maraknya sikap intoleransi di negara tercinta ini menjadi ancaman serius yang dapat meluluhlantakkan bangsa Indonesia kapanpun. Maka, pelbagai upaya perlu kita lakukan untuk mencegah semakin merebaknya kasus intoleran di tengah masyarakat. Di antaranya adalah melalui penguatan wawasan kebangsaan dan moderasi beragama.

Penguatan Wawasan Kebangsaan

Dalam hal ini, wawasan kebangsaan menjadi sesuatu yang sangat urgen untuk selalu digalakkan oleh seluruh elemen bangsa, baik masyarakat, pihak berwajib maupun pemerintah. Menurut Muladi, wawasan kebangsaan adalah suatu cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya, mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Selain itu, wawasan kebangsaan mengamanatkan kepada seluruh elemen bangsa agar menempatkan kesatuan, persatuan serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas segala-galanya, baik kepentingan pribadi maupun kelompok yang dapat merugikan terhadap bangsa Indonesia.

BACA JUGA  Indonesia Darurat Haramisasi, Arabisasi dan Radikalisasi: MUI Tolong Jangan Abai!

Karenanya, ia dapat menjadi fondasi utama untuk merekatkan bangsa di tengah keberagaman dan multikulturalisme Indonesia. Dengan tujuan sebagai “power” dari para pelaku intoleran yang sedari awal berusaha memecah-belah dan menghancurkan kesatuan dan persatuan yang telah diraih sekian lama dan penuh perjuangan oleh bangsa Indonesia.

Penguatan Sikap Moderasi Beragama

Pun, yang tak kala urgennya untuk membendung perilaku intoleran adalah dengan menguatkan sikap moderasi beragama di tengah masyarakat, baik oleh tokoh agama, pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Tentu saja, sikap ini perlu digalakkan sedini mungkin khususnya bagi generasi penerus bangsa.

Sebab, menurut Fahrudin, upaya untuk mewujudkan keharmonisan hidup berbangsa dan beragama tidak akan pernah lepas dari pentingnya sikap moderasi beragama, di mana moderasi beragama merupakan suatu sikap atau model praktik beragama secara tidak berlebihan. Artinya, tidak mengklaim diri atau kelompoknya paling benar, tidak menggunakan “teks kitab suci” sebagai legitimasi atas tindakan anarkisnya, tidak memaksakan kehendak apalagi kekerasan.

Karenanya, sikap ini urgen untuk disosialisasikan, diajarkan dan ditumbuhkembangkan melalui suri teladan para tokoh agama, khususnya para dai, dalam menyampaikan ajaran kitab suci. Sebab, dalam ajaran Islam sendiri misalnya, sikap moderat memiliki kedudukan strategis mengingat, ajaran Islam tidak sekadar mementingkan hubungan baik seorang hamba kepada Allah, melainkan juga bagaimana hubungan antarsesama manusia baik pula. Bahkan, bukan hanya persaudaraan antara sesama muslim tetapi kepada umat yang berbeda agama (non-Muslim).

Itu artinya, moderasi beragama lebih mengedepankan sikap keterbukaan terhadap perbedaan yang diyakini sebagai sunatullah dan rahmat bagi umat manusia. Selain itu, sikap ini juga termanifestasi dalam bentuk yang tidak mudah menyalahkan orang lain apalagi sampai mengafirkan terhadap seseorang atau kelompok yang berbeda pemahaman atau pandangan.

Oleh karenanya, sudah menjadi tugas dan kewajiban bagi kita sebagai warga negara Indonesia untuk selalu mengampanyekan wawasan kebangsaan dengan didasarkan pada nasionalisme dan cinta Tanah Air yang kuat serta moderasi beragama. Mengingat, Indonesia sebagai negara yang notabene masyarakatnya adalah pluralis dan multikultural.

Dengan demikian, maka negara kita ini mampu membendung gerakan-gerakan kelompok anti-Pancasila dan keberagaman yang telah lama mengakar di tengah masyarakat, baik dari sisi internal maupun eksternal. Guna untuk mewujudkan kehidupan beragama dan berbangsa secara harmonis, damai serta menjunjung tinggi keragaman yang ada di negara Indonesia. Wallahu A’lam.

Saidun Fiddaraini
Penulis Lepas

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru