Mewaspadai Anak-anak Jadi Propagandis Terorisme

Harakatuna

07/05/2026

6
Min Read
Anak-anak Propagandis Terorisme

On This Post

Harakatuna.com – Fenomena anak-anak yang dijadikan wajah propaganda terorisme mencuat dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat beberapa waktu terakhir. Di Sudan, investigasi Bellingcat menemukan puluhan akun TikTok yang menampilkan anak-anak bersenjata di garis depan perang sipil, lengkap dengan slogan perang dan adegan kekerasan yang ditonton jutaan kali. Sebagian anak bahkan tampil layaknya influencer: merekam diri sendiri, membangun persona ‘jihadis’, lalu menjadi simbol propaganda digital kelompok teror Rapid Support Forces (RSF).

Yang membuat fenomena ini berbeda dari konflik-konflik lama ialah pergeseran fungsi anak: dari sekadar korban perang menjadi propagandis terorisme. Anak-anak dipersenjatai, lalu dipertontonkan ke media publik. Mereka dijadikan wajah emosional konflik karena dianggap efektif menarik simpati, membangun militansi, dan cepat viral. Peneliti terorisme Mia Bloom menyebut, kelompok teror semakin memahami bahwa kekerasan yang dikemas secara emosional akan mudah menyebar melebihi propaganda konvensional.

Fenomena serupa, sebelumnya, telah muncul di Suriah dan Irak ketika ISIS mengeksploitasi anak-anak dalam video propaganda mereka. Anak-anak diposisikan sebagai ‘Generasi Daulah’, ditampilkan memegang senjata, mengikuti latihan militer, bahkan dipakai dalam video eksekusi untuk membangun efek psikologis global. Di Nigeria, kelompok teror Boko Haram juga diketahui merekrut dan memanfaatkan anak-anak sebagai simbol perjuangan sekaligus alat propaganda.

Sementara di Uganda dan Sudan Selatan, penggunaan child soldiers telah berlangsung lintas generasi hingga membentuk siklus kekerasan yang terus diwariskan. Fenomena tersebut menunjukkan satu pola yang sama, yaitu kelompok radikal-teror memahami bahwa anak-anak memiliki nilai propaganda yang jauh lebih kuat daripada kombatan dewasa.

Lalu, apakah Asia Tenggara steril dari pola tersebut? Ternyata tidak sama sekali. Indonesia pernah menghadapi fase ketika jaringan pro-ISIS memanfaatkan anak-anak dalam baiat, video propaganda, hingga i’dad ‘askari mereka. Di beberapa penangkapan komplotan teror beberapa tahun lalu, aparat menemukan keluarga yang melibatkan anak-anak dalam doktrin ideologis sejak usia dini.

Memang skalanya tidak seperti Sudan, tetapi pola dasarnya serupa, yakni anak-anak dijadikan medium reproduksi ideologi radikal sebagai proyeksi terorisme di masa depan. Bedanya, di Indonesia proses tersebut lebih sering bergerak melalui ruang digital dan kelompok kajian eksklusif yang tertutup dari publik ketimbang perang terbuka.

Karena itu, ancaman yang perlu diatensi dan diantisipasi bukan saja soal anak-anak yang membawa senapan di jalanan. Ancaman yang lebih potensial dan mesti dimitigasi segera justru muncul ketika generasi muda terus-menerus dibanjiri estetika perjuangan, romantisasi militansi, dan propaganda identitas berbasis algoritma medsos.

Dan hal semacam itu sudah masif menghantui anak-anak muda Indonesia, bukan? Beberapa waktu lalu, game online bergenre perang sempat disusupi propaganda terorisme, dengan tujuan meracuni pikiran generasi muda terhadap kekerasan dan teror. Apa yang terjadi di Sudan secara reflektif sudah pernah terjadi di Indonesia, dan sejauh ini belum ada intervensi berarti yang menindaklanjuti bagaimana nasib generasi muda di tengah arus radikalisasi dan propaganda terorisme tersebut.

Ketika kekerasan, konflik, dan ideologi dipresentasikan sebagai simbol heroisme dan jalan memperoleh makna hidup, maka ruang digital perlahan menjelma sebagai arena rekrutmen psikologis atau radikalisasi. Dan di titik itulah, propaganda terorisme bekerja secara efektif, tidak dengan memaksa anak-anak masuk ke medan perang, melainkan membuat mereka ingin masuk dengan sukarela, dan tinggal menunggu momentum untuk menjadi teroris yang mematikan.

Dengan demikian, fenomena anak-anak menjadi propagandis terorisme bukanlah isapan jempol semata. Ada pergeseran besar dalam evolusi terorisme hari ini. Jika dulu kelompok teror bergantung pada pelatihan tertutup, pengkaderan bersifat langsung atau luring, maka hari ini proses radikalisasi bergerak secara personal dan algoritmik. Anak-anak dijadikan target indoktrinasi sekaligus ditempatkan sebagai medium propaganda itu sendiri. Ini adalah fase baru yang relatif sulit ditangani karena bekerja melalui aspek psikologis masyarakat.

Harakatuna mengistilahkan fenomena tersebut sebagai ‘networked radicalization’, evolusi dari ‘structural radicalization’. Hari ini tengah terjadi perubahan dari hierarchical extremism menuju engaged extremism. Semula, propaganda diproduksi secara terpusat oleh sebuah organisasi besar, misalnya Al-Qaeda di Afghanistan atau Jama’ah Islamiyah di Indonesia.

Saat ini, propaganda dapat diproduksi oleh anak-anak kecil yang saling terhubung melalui platform digital tertentu. Seorang anak di Sudan yang mengunggah video bersenjata di TikTok tidak harus menjadi anggota formal organisasi teror global untuk tetap menghasilkan efek propaganda internasional. Algoritma TikTok bekerja sebagai pengganda distribusi. Dengan kata lain, medsos telah mengambil alih sebagian fungsi yang dulu dimiliki mesin propaganda kelompok teror.

Untuk diketahui, glorifikasi anak bersenjata memiliki fungsi strategis yang sangat efektif. Pertama, menciptakan normalisasi teror sejak usia dini. Kedua, membangun romantisme heroik terhadap konflik dan perang. Ketiga, memunculkan efek regeneratif yakni keinginan kelompok teror untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki generasi penerus. ISIS memahami logika tersebut ketika memproduksi propaganda ‘Cubs of the Caliphate’ yang dalam bahasa Jawa istilahnya ‘Cah-cah Daulah’. Anak-anak propagandis terorisme adalah aset masa depan kelompok teror.

Adalah sangat berbahaya ketika terorisme dipropagandakan sebagai estetika budaya digital. Anak muda relatif mudah dipengaruhi simbol visual dibandingkan manifesto ideologis yang rigid. Mereka tertarik pada identitas, rasa heroik, solidaritas emosional, dan sensasi jihadisme. Karena itu, strategi radikalisasi terbaru tidak lagi dimulai dari pengajian rahasia atau kamp militer, melainkan dari konsumsi konten repetitif yang membentuk emosi dan militansi terorisme secara konstan.

Indonesia perlu membaca perubahan ini secara serius. Sebagai negara dengan populasi muda besar dan penetrasi medsos yang sangat tinggi, Indonesia secara struktural sangat rentan terhadap propaganda apa pun. Ancamannya bukan berarti Indonesia akan langsung mengalami fenomena tentara anak seperti yang terjadi di Sudan. Ancamannya lebih subtil, yaitu lahirnya generasi yang semakin mudah menerima glorifikasi konflik, intoleransi emosional, dan kekeliruan memahami jihad teror sebagai sumber makna hidup.

Sebenarnya, tanda-tandanya sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Polarisasi identitas keagamaan, romantisasi simbol perjuangan transnasional, konsumsi konten ideologis pendek di TikTok dan Instagram, hingga munculnya kelompok digital yang membangun mentalitas eksklusivisme adalah bagian dari gejala tersebut.

Sebagian propagandis terorisme mungkin tidak akan menjadi teroris. Namun, faktanya, massa simpatisan pasif jauh lebih penting dibanding pelaku aktif. Mereka menciptakan ekosistem psikologis tempat propaganda bisa terus hidup, berjejaring dan menebar keyakinan ideologis kepada sirkel terdekatnya, sehingga terbentuk koloni pro-kekerasan atau, secara halus, dimulai dengan prinsip ‘tidak membenci terorisme’.

Karena itu, sesuatu yang mendesak untuk dilakukan negara hari ini ialah membongkar jaringan teror, lalu memahami bagaimana algoritma, budaya visual, dan krisis identitas generasi muda saling bertemu hingga menghasilkan bentuk radikalisme baru yang sulit dideteksi.

Jika negara, masyarakat, dan institusi pendidikan gagal membaca transformasi propaganda terorisme ini, maka ancaman masa depan kita adalah generasi bangsa yang secara psikologis telah terbiasa memandang konflik dan kekerasan sebagai heroisme, bahkan layak dirayakan. Ketika suatu masyarakat kehilangan sensitivitas terhadap glorifikasi kekerasan di kalangan anak-anak, itu pertanda bahwa propaganda terorisme telah sukses meracuni sebuah bangsa. Mari jaga Indonesia dari ancaman tersebut. []

Leave a Comment

Related Post