Membasmi Tumor ‘Wahabi’ di Sekitar Kita

Harakatuna

25/06/2026

7
Min Read
Tumor wahabi

Harakatuna.com – Di dunia Islam, gerakan puritanisme ekstrem bernama Wahabi atau ‘Salafi palsu’ bukanlah wacana teologis belaka. Ada rekam jejak historis super destruktif dalam diri Wahabisme. Ajaran Wahabi ibarat penyakit autoimun bagi peradaban; atas nama memberantas bid’ah dan menegakkan tauhid, mereka menyerang sel-sel sehat dalam tubuh umat Islam sendiri, menghancurkan warisan sejarah, hingga menumpahkan darah sesama Muslim yang tidak sejalan.

Bukti kebarbaran Wahabi terpahat jelas sejak awal kemunculannya pada awal abad ke-19. Misalnya, tragedi pembantaian di Karbala pada April 1801. Merujuk pada catatan kronik resmi sejarawan mereka sendiri, Ibn Bishr, dalam Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, aliansi militer Wahabi melakukan invasi brutal ke kota Karbala, Irak. Tanpa belas kasihan, mereka membantai 2.000-5.000 penduduk sipil Muslim dalam sehari.

Tidak berhenti pada pertumpahan darah, mereka menjarah harta benda kota dan meruntuhkan kubah di atas makam cucu Nabi Muhammad SAW, Sayidina Husain bin Ali. Peristiwa memilukan tersebut menjadi blueprint pertama bagaimana ideologi takfiri secara legal membolehkan darah dan harta sesama Muslim hanya karena tidak sealiran. Wahabi merupakan personifikasi utuh dari Khawarij, kelompok barbar yang ada di masa-masa awal Islam.

Kekejaman berbasis kebencian terhadap situs sejarah juga berlanjut secara masif ketika Dinasti Saudi, yang disokong sepenuhnya oleh ulama Wahabi, berhasil menguasai wilayah Hijaz pada paruh pertama abad ke-20, setelah memberontak (bughat) kepada Turki Utsmani. Guna memuluskan agenda purifikasi ekstrem, Wahabi melakukan ‘vandalisme peradaban’ dengan meratakan lebih dari sembilan puluh persen situs arkeologi Islam yang berusia ribuan tahun di Makkah dan Madinah.

Kompleks pemakaman bersejarah seperti Jannatul Baqi di Madinah, tempat bersemayamnya keluarga, istri, dan para sahabat Nabi, serta Jannatul Mu’alla di Makkah, makam Ummul Mukminin Sayidah Khadijah, dihancurkan total menggunakan alat berat. Kekejaman kultural tersebut bahkan hampir menyasar pembongkaran Makam Nabi Muhammad Saw., sebelum akhirnya digagalkan oleh gelombang protes dunia internasional, termasuk diplomasi gigih Komite Hijaz yang diinisiasi para ulama Nusantara pada tahun 1926.

Melompat ke pengujung abad ke-20, dunia menyaksikan bagaimana internalisasi doktrin Wahabi mampu melumpuhkan stabilitas sebuah negara hingga ke titik nadir melalui Perang Saudara Aljazair (1991-2002), yang dikenal sebagai Dekade Hitam (Black Decade). Gerakan bersenjata Armed Islamic Group (GIA) yang menganut Wahabisme secara ekstrem mengkafirkan pemerintah sekuler Aljazair sekaligus seluruh lapisan masyarakat sipil yang tidak mendukung angkat senjata bersama mereka.

Akibat doktrin hitam-putih tersebut, gelombang pembantaian massal terjadi di desa-desa, bom bunuh diri meledak di pusat kota, hingga mengakibatkan lebih dari 200.000 nyawa warga Muslim melayang sia-sia. Peristiwa itu menjadi bukti empiris yang diabadikan dalam kajian sosiologi konflik bahwa ketika ekstremisme agama diberi ruang, ia akan melahirkan perang saudara yang menghancurkan masa depan bangsa, ibarat tumor yang merusak tubuh penderitanya.

Memasuki abad ke-21, watak destruktif Wahabi juga menjelma dalam wujud faksi ekstremis global seperti ISIS dan Al-Qaeda, yang secara konsisten melakukan penghancuran sistematis terhadap artefak peradaban dunia. Di Palmyra, Suriah, pada 2015, dunia internasional diguncang oleh peledakan Kuil Bel yang berusia 2.000 tahun serta eksekusi keji pemenggalan arkeolog senior Khaled al-Asaad oleh milisi ISIS.

Pola serupa terjadi di Timbuktu, Mali, tiga tahun sebelumnya, yakni pada 2012, di mana kelompok Ansar al-Din menghancurkan belasan makam wali (mausoleum) kuno dan membakar ribuan manuskrip Islam abad pertengahan. Tindakan-tindakan kejahatan Wahabi yang secara resmi dikutuk oleh UNESCO dan International Criminal Court (ICC) itu membuktikan bahwa penganut Wahabisme tidak memiliki ruang bagi penghargaan sejarah, seni, dan memori kolektif umat manusia.

Rentetan fakta riil dan lembaran hitam sejarah Wahabi mengirimkan pesan yang teramat benderang bagi kita semua. Wahabi bukanlah sekadar varian mazhab keagamaan, melainkan ideologi yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup bermasyarakat dan bernegara. Pola pikir untuk meremehkan tradisi lokal, membid’ahkan amalan orang lain, dan merasa paling benar sendiri, adalah benih awal dari terorisme. Di Indonesia, Wahabi menjadi tumor bagi bangsa, yang harus dibasmi karena membahayakan masa depan negara.

Sebagai negara dengan corak Islam yang ramah, moderat, dan inklusif, Indonesia sedang menghadapi infiltrasi senyap Wahabisme. Mereka tidak lagi bergerak secara sembunyi, tetapi telah merangsek masuk ke jantung-jantung masyarakat, lembaga pendidikan, hingga medsos. Dan untuk membasmi ‘tumor Wahabi’, kita wajib menjauhi wahabisme dan menutup rapat-rapat segala ruang (space) bagi berkembangnya paham tersebut di bumi Indonesia.

BACA JUGA  Mewaspadai Anak-anak Jadi Propagandis Terorisme

Untuk diketahui, masifnya ekspansi Wahabi di berbagai negara, terutama Indonesia, berakar dari aliran dana raksasa Arab Saudi. Petrodolar telah digunakan untuk mengekspor ideologi Wahabi ke seluruh penjuru dunia melalui skema pendanaan pembangunan masjid, penerbitan buku gratis, hingga pemberian beasiswa pendidikan ke Saudi. Di tanah air, penetrasi dana tersebut berhasil menetaskan dai-dai Wahabi lokal yang militant selalu siap menjilat pantat rezim Bin Saud.

Para dai Wahabi di Indonesia, dengan retorika yang dikemas modern namun berwatak kaku, bertindak dengan pola yang persis sama seperti para pendahulu mereka di awal berdirinya Dinasti Saudi, yakni merasa memegang kunci surga sendirian dan memandang pihak di luar kelompok mereka sebagai ahli neraka. Dan sebagaimana Wahabi di Saudi menghancurkan ribuan situs sejarah, Wahabi di tanah air mengkafirkan semua Muslim lokal non-Wahabi beserta tradisi-tradisinya.

Dampak dari merebaknya tumor Wahabisme di Indonesia sangatlah buruk dan merusak. Ego teologis yang mereka bawa mengikis antibodi sosial bangsa, yaitu saling menghargai dan bergotong-royong. Panggung-panggung dakwah dan mimbar digital mereka dipenuhi dengan narasi saling menyalahkan sesama Muslim.

Kalimat-kalimat tajam seperti “Ini tidak ada dalilnya,”“Itu bid’ah,” atau Amalan itu sesat,” diproduksi setiap hari. Akibatnya, terjadi polarisasi akut di akar rumput. Persatuan umat pecah berkeping-keping; saf-saf salat menjadi renggang secara maknawi, dan ukhuwah islamiah yang telah dirawat berabad-abad oleh para ulama Nusantara kini terancam roboh akibat ego merasa paling benar sendiri. Kebencian dan perpecahan disebarkan oleh kaum Wahabi setiap waktu.

Tumor Wahabisme di Indonesia mengancam kearifan lokal (local wisdom) Islam. Sebagaimana mereka tega meratakan situs-situs suci di Makkah dan Madinah, di Indonesia mereka berusaha menghancurkan tradisi-tradisi keislaman kultural yang telah berhasil menyatukan agama dan budaya, seperti tahlilan, ziarah kubur, maulidan, sekaten, hingga penghormatan terhadap para wali songo.

Bagi kaum Wahabi, akulturasi budaya adalah dosa besar yang harus dimusnahkan. Jika mereka diberi ruang untuk menguasai narasi keagamaan, maka Indonesia di masa depan akan kehilangan jati dirinya; berubah jadi bangsa yang gersang, kehilangan keramahan kulturalnya, dan tercabut dari akar sejarahnya sendiri. Hal itu karena sebagaimana kaum Yahudi yang merasa unggul sendiri dan menganggap bangsa lain musuh, kaum Wahabi juga menganggap pihak lain sebagai musuh.

Namun, bahaya paling mengerikan dari tumor Wahabisme adalah perannya sebagai inkubator dan bahan bakar maraknya aksi teror. Meskipun ada faksi tertentu yang mengklaim diri mereka apolitik dan taat pada pemerintah, sejarah dan logika teologis tidak bisa berbohong. Doktrin al-wala’ wal bara’ yang dikombinasikan dengan ajaran takfiri jadi fondasi ideologis yang sempurna bagi kelompok teroris seperti JI, JAD, dan lainnya. Maka tidak heran, para teroris pasti menganut Wahabisme.

Dengan demikian, membasmi tumor ‘Wahabi’ di sekitar kita merupakan upaya mulia dan strategis yang tidak boleh dilewatkan. Indonesia perlu disterilisasi dari Wahabisme. Memberikan panggung, ruang, atau pembiaran bagi berkembangnya Wahabi di tanah air sama saja dengan menyemai benih kehancuran bangsa di masa depan.

Sudah saatnya seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, aparat, ormas Islam, hingga masyarakat sipil bersatu untuk memutus rantai penyebaran Wahabi. Jauhi kajian-kajian mereka, bentengi keluarga dari dai-dai mereka, dan jaga masjid-masjid agar tetap menyuarakan Islam yang rahmatan lil alamin. Menjaga Indonesia dari bahaya Wahabi adalah harga mati demi keselamatan peradaban negara-bangsa.

Tidak ada alasan untuk Indonesia membiarkan tumor Wahabi menyebar semakin luas, merusak tatanan sosial-masyarakat. Arab Saudi sendiri juga tengah gencar memangkas, membatasi, dan meninggalkan ruang gerak Wahabisme demi menyelamatkan masa depan bangsa mereka. Maka, jangan beri ruang sedikit pun bagi Wahabisme untuk merusak antibodi persatuan dan kesatuan. Di Indonesia yang majemuk, lebih baik bersaudara dan bertetangga dengan kaum Kristiani yang toleran daripada dengan kaum Wahabi yang menghalalkan darah sesama. []

Leave a Comment

Related Post