Harakatuna.com – Ke mana propaganda khilafah hari-hari ini melabuhkan eksistensinya? Ini pertanyaan yang penting. Jika dulu aktivitas ke-HTI-an banyak bertumpu pada kajian rutin atau halakah eksklusif, kini mereka membangun keterikatan jemaah melalui rangkaian kegiatan yang dikemas layaknya sebuah brand. Setiap kegiatan menjadi narasi yang saling terhubung sepanjang tahun dengan tema, visual, dan segmentasi audiens yang relatif konsisten. Propaganda khilafah telah sepenuhnya berevolusi.
Pola tersebut terlihat pada agenda yang diselenggarakan komunitas YukNgaji dan Cinta Quran Foundation sepanjang 2025 hingga 2026. Rangkaian kegiatan diawali dengan Goes to Ramadhan Fun Walk pada Februari tahun lalu di kawasan Sentul sebagai penyambutan Ramadan, kemudian dilanjutkan program Reconnect With Qur’an selama bulan Ramadan melalui siaran digital. Memasuki Mei 2025, tema komunikasi mulai bergeser melalui Ittiba’ Roadshow Surabaya yang mengangkat tajuk Reconnect: Meneladani Jejak Rasulullah Saw.
Beberapa bulan berikutnya, komunitas yang sama menyelenggarakan Way To Faith (WTF) di Yogyakarta dengan pendekatan yang berbeda, yakni menggabungkan isu budaya populer (pop culture) dengan pencarian identitas keislaman melalui kelas intensif yang menghadirkan influencer Fuadh Naim dan ideolog Ustaz Felix Siauw. Menjelang akhir tahun 2025, Cinta Quran Foundation kembali menggelar Amazing Quran di Jakarta dengan kemasan seminar berskala nasional.
Memasuki 2026, intensitas kegiatan justru meningkat. Awal Januari lalu dibuka dengan National Review & Planning 2026 di Bogor sebagai forum evaluasi sekaligus penyusunan agenda dakwah selama satu tahun ke depan. Setelah itu, konsep WTF kembali diperluas melalui roadshow di Bandung pada Februari 2026 dengan tema Escape the Hallyu Wave to The Right Way, yang memadukan isu budaya populer Korea dengan narasi pencarian jalan hidup yang dianggap sesuai dengan ajaran Islam.
Pada Mei 2026, Cinta Quran Foundation juga menggelar Temu Donatur Akbar di kawasan Cinta Quran Center. Sementara itu, memasuki Juli, kegiatan Majelis Cinta Quran mengangkat tema Ikut Kecepatan Zaman, Perlukah? yang membahas relasi antara perkembangan zaman dan kehidupan beragama. Rangkaian tersebut kemudian berlanjut pada Agustus mendatang melalui penyelenggaraan Ittiba’ Disconnect di Sleman dengan tajuk Sejarah Kelam Runtuhnya Perisai Islam & Kondisi Baitul Maqdis.
Jika diperhatikan secara keseluruhan, setiap kegiatan memang mengangkat tema yang berbeda. Namun terdapat pola komunikasi yang terus berulang. Istilah seperti Reconnect, WTF, Ittiba’, Amazing, hingga Disconnect membentuk kesinambungan narasi dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya dan sangat kalcer alias ramah anak-anak muda. Pergantian tema memperlihatkan kesinambungan branding agar jemaah mengikuti perjalanan dakwah secara bertahap. Setiap kegiatan jadi pintu masuk menuju kegiatan berikutnya, sementara medsos mengawal diseminasi.
Pola serupa juga terlihat pada aspek penyelenggaraan. Berbagai kegiatan tidak lagi dikemas sebagai halakah model dulu, melainkan menyerupai konferensi atau seminar. Promosi dilakukan melalui video sinematik, desain visual keren, dan mekanisme war ticket yang lazim digunakan dalam industri ekonomi kreatif. Bahkan, sejumlah kegiatan diselenggarakan di ballroom hotel atau ruang pertemuan premium, menunjukkan adanya upaya membangun pengalaman eksklusif bagi peserta sekaligus memperkuat citra komunitas di ruang digital.
Dari sisi segmentasi audiens, sasaran kegiatan juga menunjukkan karakter yang relatif konsisten. Tema-tema seperti Escape the Hallyu Wave, Way to Faith, maupun diskusi mengenai tantangan hidup di era modern memperlihatkan orientasi kepada generasi muda Muslim perkotaan yang akrab dengan medsos dan budaya pop. Berbeda dengan pola dakwah yang berorientasi pada ceramah normatif, tema-tema tersebut memadukan isu gaya hidup, pencarian makna hidup, hingga kebutuhan membangun jejaring sosial yang kalcer namun tetap islami.
Evolusi propaganda khilafah meweujud sebagai ekosistem komunikasi yang terus bergerak dari satu kota ke kota lain, dari satu momentum ke momentum berikutnya, dengan pola branding, segmentasi, dan pengemasan yang relatif seragam. Pertanyaannya, pesan besar apa yang hendak dibangun melalui narasi yang terus direproduksi sepanjang waktu? Ini merupakan pintu masuk untuk memahami pemanfaatan momentum semacam Muharram untuk propaganda khilafah.
Jika dicermati, kegiatan-kegiatan tadi berkesinambungan dari sisi penyelenggaraan dan konsisten dalam memilih momentum. Sebagian besar agenda mengerucut pada momen Muharram, yang dalam tradisi Islam merefleksikan momentum hijrah dan pembaruan kehidupan. Muharram merupakan ruang psikologis untuk membangun narasi perubahan, sehingga istilah seperti reset, reconnect, ittiba’, hingga one ummah mudah diterima khalayak, khususnya anak-anak muda.
Sebelum HTI dibubarkan, propaganda dilakukan melalui slogan-slogan eksplisit, dari penegakan khilafah hingga kritik terbuka terhadap sistem negara-bangsa. Identitas gerakan ditampilkan secara terbuka melalui konferensi khilafah, demo khilafah, bahkan film sejarah palsu khilafah yang seolah mengusung konsep negara Islam. Pendekatan tersebut menjadikan pesan mudah dikenali, tetapi pada saat yang sama juga mudah dipetakan oleh publik maupun aparat.
Pasca-bubarnya HTI, lanskap komunikasi mengalami perubahan signifikan. Ruang digital menjadi arena utama propaganda khilafah, sementara bahasa yang digunakan berevolusi. Istilah ‘khilafah’ digantikan oleh narasi yang emosional dan dekat dengan pengalaman keseharian masyarakat. Reconnect, disconnect, ittiba’, maupun one ummah pun menemukan relevansinya, karena kemunculannya dipadukan dengan tema-tema yang mengarahkan audiens pada gagasan tentang perlunya kembali kepada sistem Islam yang ideal ala Nabi Saw.
Narasi ‘reconnect’ misalnya, dibangun di atas asumsi bahwa relasi umat dengan ajaran Rasulullah telah terputus dan harus disambungkan kembali. Sebaliknya, ‘disconnect’ mengonstruksi persepsi bahwa sistem pemerintahan saat ini merupakan penyebab keterputusan tersebut. Sementara ‘one ummah’ mengangkat gagasan persatuan umat Islam lintas batas sebagai identitas kolektif. Jika setiap istilah dibaca secara terpisah, maknanya memang bersifat umum. Artinya, maknanya peyoratif dan ujung-ujungnya mempropagandakan penegakan khilafah ala HTI.
Propaganda khilafah telah berevolusi, tidak lagi hadir melalui demonstrasi atau tablig akbar yang konfrontatif, melainkan melalui seminar premium, podcast, kelas pengembangan diri, hingga komunitas digital yang ramah anak muda dan kalcer. Akibatnya, audiens tidak merasa sedang memasuki ruang kontestasi ideologi, tidak juga merasa sedang dicekoki propaganda ideologis. Daya jangkaunya bahkan lebih luas dibandingkan model propaganda konvensional.
Karena itu, menghalau evolusi propaganda khilafah juga meniscayakan evolusi strategi. Pendekatan yang bertumpu pada pemantauan slogan-slogan lama atau simbol-simbol konvensional tak lagi relevan. Tantangan kontra-khilafah saat ini adalah membaca perubahan strategi komunikasi yang memanfaatkan momentum keagamaan, membangun loyalitas melalui komunitas, memanfaatkan kredibilitas influencer, serta mengemas pesan secara inklusif dan mudah diterima publik, kemudian menyusun strategi untuk menghalaunya.
Pembubaran HTI memang menghentikan struktur, tetapi propaganda khilafah terus berevolusi. Satu pintu ditutup, narasi akan mencari pintu lain untuk masuk. Hari ini, pintunya bukan lagi demonstrasi, melainkan algoritma; bukan lagi spanduk, melainkan influencer; bukan lagi konferensi khilafah, melainkan seminar pengembangan diri. Sekali lagi, jika propaganda mampu berevolusi mengikuti zaman, maka kemampuan negara dan masyarakat dalam membaca propaganda juga harus berevolusi. Jika tidak, kontra-khilafah hanya akan menjadi proyek yang tidak bertaji. []

















Leave a Comment