29.2 C
Jakarta

Menulislah! Sebab Ia Menandakan 3 Hal Penting Ini

Artikel Trending

KhazanahLiterasiMenulislah! Sebab Ia Menandakan 3 Hal Penting Ini
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Disadari atau tidak, para orang tua sebenarnya memandang penting aktivitas menulis. Ini bisa dilihat dari pengajaran yang didapat anak-anak sebelum menginjak Sekolah Dasar. Alasan sederhana mengapa para orang tua mendorong anak-anak untuk belajar menulis adalah supaya anak-anak nantinya mampu mencatat pelajaran. Maka, menulislah!

Zaman mengalami perkembangan, banyak teknologi baru dilahirkan. Meski begitu, anak-anak masih didorong untuk belajar menulis. Hal ini―dalam pengamatan sederhana saya―merupakan indikasi bahwa persepsi soal urgensi menulis tidak berubah.

Namun tetap harus diakui, semangat menulis kian memudar kala anak-anak tumbuh dewasa. Semua itu juga tak lepas dari adanya “beberapa” teknologi (yang tampaknya semakin mendukung kita untuk tidak menulis). Sebagai misal, mahasiswa umumnya lebih memilih memfoto materi dari dosen, alih-alih menulisnya di buku catatan.

Selain menyingkat waktu, hal tersebut juga tak menyulitkan para mahasiswa. Sebenarnya, ada hal yang tidak kita dapat dari memfoto materi dan hanya kita dapat apabila kita menuliskannya. Salah satu dari hal tersebut adalah kita bisa merangkai kalimat sendiri yang mudah dipahami oleh kita. Sehingga saat kita membacanya ulang, kita akan cepat teringat dan paham dengan esensi materi dari dosen kita.

Baik memfoto materi maupun menuliskannya, memiliki manfaat masing-masing. Kita bebas memilih mau menggunakan yang mana. Bagi yang lebih condong dengan menulis, saya harap bisa konsisten. Bahkan, menjadi lebih bagus lagi bila aktivitas menulis (mencatat) tersebut bertransformasi menjadi aktivitas menuliskan pengetahuan yang dimiliki teman-teman. Mengapa demikian? Berikut 3 alasan pentingnya.

Indikasi Telah Cukup Membaca

Tidak ada penulis yang lahir tanpa mengenal bacaan terlebih dahulu. Aktivitas membaca tak hanya menyuapi pikiran dengan ilmu, ia juga merupakan gerbang awal bagi orang-orang yang ingin menjadi penulis. Saya pernah mendengar analogi sederhana terkait hal ini dari seorang ustaz. Menurut beliau, membaca itu ibarat makan.

Semakin banyak kita makan (membaca), ia akan semakin kuat mendorong kita untuk buang air besar. nah, buang air besar di sini adalah representasi dari aktivitas menulis. Jadi, saat kita melihat ada individu yang sangat produktif menulis, di balik itu ia adalah sosok yang rajin membaca.

Dalam hemat saya, perkara ini memberi kesan bahwa apa yang disampaikan melalui tulisan itu lebih otoritatif daripada apa yang disampaikan lewat jalur lisan. Sebab, hampir semua orang dapat berbicara (untuk berpendapat), tapi hanya pembaca ulung yang dapat merangkai pendapatnya dalam bentuk tulisan.

Semangat Berbagai Pengetahuan

Media sosial tak sekadar memudahkan kita untuk mendistribusi konten secara masif, melainkan juga membuat setiap orang dapat memproduksi konten. Dahulu, konten dalam bentuk video hanya dibuat oleh segelintir pihak. Sisanya mengambil peran sebagai penonton. Perkara semacam itu kini telah luntur.

Lihat saja! Sekarang anak-anak bahkan sudah bisa menjadi sutradara untuk video yang dibuatnya sendiri. Hal yang sama juga berlaku dalam aktivitas menulis. Malahan bagi saya tak ada orang yang tak menulis sejak media sosial lahir. Setiap dari kita pasti pernah menulis―setidaknya―kegelisahan hati masing-masing.

Kegiatan tersebut ada baiknya dilanjutkan (dan dikembangkan). Apabila sebelumnya kita berbagi kegelisahan, pada tahap berikutnya yang kita bagikan adalah pengetahuan. Tak perlu khawatir bila tulisan kita terasa normatif. Saya sangat yakin bahwa tiap tulisan―seperti apa pun isi dan bentuknya―akan bertemu dengan pembacanya.

Lantaran menulis, dengan niat berbagi pengetahuan, kita telah berkontribusi dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa (meskipun kontribusi itu terbilang kecil). Yah…..tak ada yang tahu perubahan besar di masa depan berakar dari mana. Bisa jadi ia berawal dari sesuatu yang tampak sangat sederhana, yakni tulisan.

Meneladani Para Ulama

Faktanya, salah satu tradisi yang dimiliki oleh para intelek Islam adalah menulis. Tidak ada satu pun ulama besar yang tidak memiliki karya tulis. Malahan, karya tulislah yang mengantarkan seseorang diakui memiliki kapabilitas dalam cabang keilmuan tertentu.

Imam al-Syafi’i dikenal sebagai ahli fiqh karena kitab al-Umm dan al-Risalah, Imam al-Ghazali dipandang sebagai ahli tasawuf sebab kitab Ihya’ Ulum al-Din, Ibn Sina diakui sebagai ahli ilmu kedokteran lantaran kitab al-Qanun fi al-Thib. Jika tidak ada karya-karya tersebut, barangkali para cendekiawan Islam kala itu kurang dikenal oleh masyarakat luas.

Rutinitas menulis, saya rasa, dapat dikelompokkan sebagai usaha dalam meneladani para ulama―yang notabene merupakan pewaris para nabi. Tak mengapa bila memiliki keinginan untuk menjadi sepopuler para intelek Islam zaman lampau. Namun harus diingat, hal itu wajib dibarengi dengan niat yang besar untuk menebar manfaat. Dengan demikian, popularitas kita tidak menjadi terlampau egois.

Hingga saat ini kita masih memiliki cukup banyak orang dengan semangat menulis yang tinggi. Namun, kalau kita melihat laju perkembangan teknologi, generasi penerus terasa kian jauh (atau mungkin lebih tepatnya “dijauhkan”) dari kegiatan membaca. Semangat membaca sendiri berbanding lurus dengan gairah menulis.

Seandainya generasi penerus kehilangan minat baca, lalu apa yang akan mereka tulis!?. Oleh sebab itu, kita mesti memberi suguhan berupa bacaan―terutama dalam wujud buku―kepada anak-anak. Harapannya adalah di masa depan nanti kita masih mempunyai penulis-penulis yang terus mengalirkan gagasan dan idealisme.

Kita telah diberitahu oleh sejarah bahwa kemunduran suatu peradaban  diawali dari hilangnya karya-karya tulis. Di masa dahulu karya tulis hilang sebab dibakar dan ditenggelamkan, sementara di masa sekarang karya tulis hilang sebab tidak ada yang membacanya.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru