30 C
Jakarta

Sastra Terjemahan: Dari Diplomasi Kultural Hingga Soal Garapan

Artikel Trending

KhazanahLiterasiSastra Terjemahan: Dari Diplomasi Kultural Hingga Soal Garapan
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Dalam sebuah kesempatan, sastrawan cum budayawan Iman Budhi Santosa pernah menyinggung soal keterkaitan antara industri pariwisata dan sastra kita. Persinggungan ini ia tulis dalam esainya yang cukup panjang, “Prospek Pemasaran Sastra di Sektor Pariwisata”. Esai membeber seputar harapan agar produksi karya sastra kita dapat dibaca khalayak wisatawan mancanegara saat berkunjung ke berbagai objek wisata di Indonesia. Baginya, ini menjadi semacam momentum memberikan gambaran tentang realitas kebudayaan kita kepada mereka.

Sastra punya peran penting menjembatani persilangan antar kebudayaan. Tak sedikit sastrawan kita mentransformasi kesadaran kreatif itu dalam sebagian besar karya-karyanya. Garapan berlatar kebudayaan lokal, momen-momen kemanusiaan di daerahnya, telah banyak disentuh sastrawan besar macam Seno Gumira Ajidarma, Kuntowijoyo, Hamsad Rangkuti, hingga Danarto. Generasi penulis mutakhir pun sudah selayakanya turut ambil bagian menggarap unsur serupa.

Apa yang diharapkan Iman Budhi Santosa itu dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya menyangkut soal kaitannya dengan industrialiasi sastra. Melebihi itu, ada harapan agar sastra kita kelak terus menjadi perhatian khalayak sastra internasional untuk mencapai suatu diplomasi kultural. Tentu tidak mudah untuk mencapai tahap ini. Ada berbagai persoalan yang cukup krusial. Seperti persoalan kompetensi penerjemah sastra Indonesia ke bahasa asing hingga soal penggarapan.

Munculnya karya sastra berlatar sosial-kebudayaan tanah air di satu sisi menjadi angin segar yang patut diapresiasi. Akan tetapi, jangan lupa, kenyataan seperti itu mesti berbanding lurus dengan upaya meningkatkan kualitas terjemahan kita. Jika tidak begitu, muskil karya sastra kita dapat diterima dengan baik di relung bangsa lain.

Agar Mencapai Diplomasi Kebudayaan

Menekuni dunia penerjemahan sastra bukanlah hal yang mudah. Butuh keseriusan dan ketekunan tingkat tinggi. Tak cukup hanya menguasai gramatika bahasa asing, lebih dari itu seorang penerjemah sastra mesti mempelajari suatu kebudayaan di mana karya sastra tersebut lahir. Jika tidak begitu, cita rasa kualitas terjemahan yang dihasilkan cenderung arbitrer, kaku, apa adanya.  

Seperti yang dilakukan Ronny Agustinus, pendiri Marjin Kiri, yang mengabdikan diri sebagai seorang penerjemah sastra Amerika Latin. Anton Kurnia, sastrawan cum penerjemah, yang menaruh perhatian besar terhadap karya-karya besar sastrawan dunia yang merentang dari Asia hingga Eropa, Afrika hingga Amerika Latin. Bertahun-tahun keduanya menetap di tanah kelahiran penulis macam Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, Milan Kundera, serta banyak penulis besar lain hanya untuk mempelajari kebudayaan setempat, di samping menerjemahkan karya-karyanya.

Lalu, bagaimana jika karya sastra kita diterjemahkan ke bahasa asing? Jawabannya tentu sama. Harus ada penerjemah yang kompeten menerjemahkan karya-karya sastrawan terbaik kita. Bisa dimulai dari kalangan penerjemah kita sendiri, seorang Indonesianis, pun, jika perlu dan bersedia, sastrawan kita juga mesti turut ambil bagian dari laku kreatif macam itu.

Kita mesti meniru beberapa negara yang getol mempromosikan karya sastra mereka ke khalayak internasional. Seperti negara-negara di Eropa Tengah dan Timur: Polandia, Turki, Hongaria, dan Slovenia. Pun, di beberapa negara Asia seperti Korea Selatan dan Malaysia.

BACA JUGA  Spirit Literasi: Aku Menulis Maka Aku Ada

Salah satu kesuksesan negara-negara tersebut dalam mempromosikan karya sastra mereka ke khalayak internasional karena didukung dengan adanya lembaga penerjemahan. Seperti Korea Selatan yang punya Literature Translation of Korea (LIT Korea); Turki punya lembaga penerjemahan yang didukung sepenuhnya oleh kementerian kebudayaan mereka; serta Malaysia yang sejak 1970-an memiliki ITBM (Institut Terjemahan dan Buku Malaysia).

Meskipun Indonesia juga didukung dengan merebaknya berbagai penerbit buku-buku sastra serta memiliki lembaga penerjemahan macam Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), kenyataan ini masih perlu disorot kembali tatkala dari tahun ke tahun karya penulis kita yang diterjemahkan ke bahasa asing tidak seberapa. Padahal Anton Kurnia, dalam satu tulisannya, “Upaya Menembus Pentas Dunia”, pernah menyinggung soal ini, bahwa untuk mencapai suatu diplomasi kultural, produktif menerjemahkan karya-karya terbaik kita ke dalam bahasa-bahasa penting dunia, menjadi satu hal yang harus dilakukan.

Pemerintah sebenarnya melalui Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan (Kemendikbud) punya peran besar merealisasikan hal tersebut. Dengan program peningkatan mutu penerjemah sastra serta menggandeng berbagai lembaga penerbit, akan menjadi strategi yang efisien menunjang produktivitas reproduksi penerjemahan karya sastra kita ke dalam berbagai bahasa penting dunia.

Namun, perlu diingat, produktivitas mesti berbanding lurus dengan kualitas. Alih-alih di samping dukungan untuk menunjang produktivitas berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pemangku literasi, hingga penerbit, untuk mencapai tingkat kualitas terjemahan yang diharapkan, salah satunya dengan tidak mengabaikan peran kritikus sastra. Pada dasarnya, sehebat apa pun kompetensi penerjemah sastra kita, tanpa melibatkan peran seorang kritikus, muskil akan menghasilkan karya terjemahan yang bermutu, yang layak dibaca.

Selain itu, kedua persoalan di atas, hal yang juga tak kalah penting dipertimbangkan ialah soal garapan. Dalam konteks diplomasi kultural, tentu tidak semua karya sastra kita layak untuk diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Sebab, yang hendak kita suguhkan ke perjamuan sastra dunia untuk mencapai suatu diplomasi kultural, ialah sastra dengan garapan tema-tema khas ke-Indonesia-an.

Betapa banyak momentum yang bertebaran di sekitar kita. Eksplorasi kekayaan kultural; sederet memori kolektif tragedi masa lalu; unsur lokalitas; hingga potret kehidupan wong cilik; merupakan ladang subur inspirasi yang sudah selayaknya digarap untuk menghasilkan karya besar.

Untuk itulah, seorang sastrawan yang hendak memasuki arena tersebut, tidak cukup hanya sekadar terampil mengolah kata sebagai salah satu unsur penting dari sebuah karya. Mereka juga dituntut untuk melakukan semacam observasi maupun penelitian secara intens. Sebab, dalam proses penelitian yang intens tersebut, akan banyak dijumpai momen-momen puitis, peristiwa langka, misteri kehidupan, serta pusparagam kasus menarik lainnya yang potensial untuk diangkat dalam karya sastra.

Sudah saatnya karya sastra kita dengan sederet penggarapan khas ke-Indonesia-an itu menjadi pusat perhatian dunia. Bukan tak mungkin beberapa tahun ke depan, tentu dengan upaya serius menerjemahkan, ekosistem sastra kita akan jadi medium efektif dalam membangun silang gagasan kultural antarbangsa. Dengan begitu, karya sastra kita akan dibaca, diseriusi, dan dikaji bangsa lain sebagai salah satu bentuk diplomasi kultural. Semoga.

Muhammad Ghufron
Muhammad Ghufron
Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bergiat di Jurnal Moderasi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Komunitas Lensa Sosio-Agama. Tinggal di Bantul, DI Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru