28.3 C
Jakarta

Menjadi Umat Islam Inklusif yang Anti-Intoleransi dan Anti-Terorisme

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuMenjadi Umat Islam Inklusif yang Anti-Intoleransi dan Anti-Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Judul Buku: Bukan Perawan Maria, Penulis: Feby Indirani, Penerbit: Bentang, Cetakan: I, Mei 2021, Tebal: xvi + 204, ISBN: 978-602-291-817-2, Peresensi: Irna Maifatur Rohmah.

Harakatuna.com – Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin, yang seharusnya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di manapun tempatnya. Tidak hanya di masjid, pesantren, majlis ta’lim, namun di seluruh tempat yang tidak diharamkan oleh Tuhan untuk mengenal Islam. Tidak hanya kaum berpeci, berjubah, bergamis, dan bersarung, namun di seluruh elemen masyarakat serta lapisan starta sosial.

Hal tersebut menjadi salah satu pemicu ketidakmerataan Islam di seluruh lapisan masyarakat. Di sisi lain, sebagian masyarakat enggan mengikuti kegiatan keagamaan karena merasa tidak pernah mengikuti dan canggung untuk memulai. Hal ini tak bisa dipungkiri pula melihat realitas di lapangan.

Namun, tak perlu khawatir akan hal itu. Kini Islam tidak memiliki akses yang tidak mudah. Melalui berbagai latar belakang, Islam menjelma dalam berbagai bentuk. Salah satunya cerita pendek.

Cerita pendek merupakan sebuah cerita yang dapat dihabiskan atau dibaca dalam sekali duduk. Durasi yang tidak lama membuat siapa saja bisa menikmati cerpen tanpa harus memiliki keinginan membaca yang begitu besar. Alhasil semua kalangan dapat menikmatinya. Alurnya yang tidak memiliki banyak konflik menjadikan cerpen mudah dipahami dan ditangkap maksud serta nilai yang ada di dalamnya.

Dalam hal ini Feby Indirani dalam kumpulan cerpennya yang berjudul “Bukan Perawan Maria” menyajikan isu-isu atau ajaran-ajaran yang disalahartikan di masyarakat dengan gaya tersendiri. Dalam buku ini, pembaca tidak terasa sedang diajak berbincang terkait Islam yang ada di masyarakat dengan gaya yang asik tanpa meninggalkan humor di dalamnya, mengingat humor lebih mudah mengena di hati masyarakat saat ini.

Melalui 19 cerpen, Febi Indirani menggiring imajinasi pembaca untuk tenggelam dalam suatu isu yang ada dalam masyarakat dengan mulus. Dengan ide yang menggelitik, Febi Indirani membawa pembaca tenggelam dalam suatu isu serta menduga-duga apa yang sebenarnya akan terjadi setelahnya. Ending yang tidak mengecewakan mendorong respon pembaca untuk membuka satu demi satu halaman dalam buku ini.

Gagasan yang jarang diangkat dapat ditelusuri dalam kumpulan cerpen ini. Di antaranya yaitu:

Pertama, perihal toa atau pengeras suara masjid yang menjadi perdebatan tanpa ujung diangkat di sini. Seseorang yang merasa terganggu dengan toa masjid mencari cara dan celah untuk membunuh sang muazin namun tak kunjung berhasil. Sampai akhirnya toa itu tak berbunyi lagi dan terdengarlah dari sana, sang muazin dikabarkan telah meninggal.

Saking gembiranya ia segera bergegas ke kamar mandi dan terpeleset lantai yang licin. Ia menyadari bahwa terlambat membersihkan kamar mandinya itu. Dari sini, terdapat nilai yang sering kita lupakan yaitu jangan terlalu memikirkan hal yang bukan kuasa kita sampai-sampai apa yang menjadi kewajiban atau tugas kita terabaikan sehingga mencelakakan diri sendiri.

Kedua, kita digiring untuk menyadari bahwa apa yang menjadi bekal kita di alam kubur bukan sekedar bahasa Arab, atau kisi-kisi pertanyaan kubur dalam judul “Pertanyaan Malaikat”. Namun ada yang lebih urgen dari sekadar menghapalkan jawaban pertanyaan malaikat yang sering dibocorkan melalui pengajian umum. Salah satunya yaitu selalu memperbaiki perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, dalam judul “Cemburu Pada Bidadari”, Feby menggiring imajinasi pembaca dalam isu yang mana tak jarang kita diiming-imingi keindahan dan ketidakterbatasan di surga sampai-sampai apa yang kita miliki di dunia terabaikan dengan terbawa pada analogi nikmat yang tiada tara di surga.

Padahal hal tersebut belum pernah dirasakan oleh masyarakat umum. Dan yang mereka ceritakan merupakan gambaran atau analogi yang disajikan dalam al-Quran dan hadits. Bukan untuk ditelan mentah-mentah namun perlu perenungan lebih lanjut dan kenikmatan serta keindahan surga tidak bisa digambarkan atau dibayangkan oleh manusia.

Keempat, teror bom yang mana pelaku dicuci otaknya dengan menjadi pengantin setelah meledakkan bom merupakan dogma yang keliru digambarkan dalam judul “Ruang Tunggu”. Bagaimana mendapat ganjaran ketika apa yang dilakukan dalam mengakhiri hidupnya malah menyakiti banyak orang. Di sini pembaca diajak untuk membuka pikiran secara logis terkait pelaku bom bunuh diri.

Kelima, menjamurnya media sosial di seluruh lapisan masyarakat menimbulkan fenomena di mana setiap kegiatan di posting di sana. Entah itu kebaikan atau bahkan sebaliknya. Selain itu perbuatan-perbuatan yang menyimpang semakin terang-terangan dan tanpa merasa bersalah karena dilakukan bersama-sama.

Hal ini menyebabkan malaikat ingin cuti karena merasa tugasnya dalam mencatat amal sudah terwakilkan oleh sosial media. Namun bagaimanapun juga malaikat tidak bisa cuti, tugas mereka hanya mencatat. Itu saja.

Itulah beberapa hal diulik dalam kumpulan cerpen “Bukan Perawan Maria”. Pastinya masih banyak cerita menarik dan menggelitik di dalamnya. Lebih puasnya silakan kalian baca sendiri buku terbitan Bentang Pustaka ini.

Irna Maifatur Rohmah
Irna Maifatur Rohmah
Mahasiswa UIN Prof KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Domisi di Pondok Pesantren Nurul Iman Pasir Wetan Banyumas Jawa Tengah.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru