24.5 C
Jakarta

Mengukir Bintang Peradaban dari Tulisan

Artikel Trending

Aku pernah bermimpi menghasilkan suatu karya yang hebat, dan ingin mengukir bintang peradaban dari tulisan. Sebuah karya yang mengubah sudut pandang berpikir setiap orang. Akan tetapi, di malam itu jari-jariku terasa kaku. Hanya satu kata saja yang mampu aku ketik. Di malam itu aku berdoa, semoga ada ilham datang sebagai penerang otakku yang diselimuti kegelapan pemikiran. Ah, setelah dua jam berlalu akhirnya aku menyerah dalam pergulatan pemikiran. Lantas tanganku memegang gawai, memainkannya, lalu menonton televisi hingga larut dalam mimpi.

Inilah permasalahan yang terjadi hampir pada setiap penulis. Pergulatan pemikiran selalu memakan banyak energi yang berlanjut pada proses kebosanan. Menulis dianggap sebagai kegiatan monoton yang sangat membosankan. Hanya duduk di depan layar monitor, menggerakkan jari mengikuti irama pikiran, sambil menatap nanar ke arah jalan pikiran. Hal itu selalu terjadi dan dilakukan berulang-ulang.

Menulis rasanya membutuhkan semangat yang luar biasa. Bukan hanya wawasan yang luas, namun diperlukan niat yang kuat untuk tidak berhenti berkarya. Kegiatan menulis akan berakhir secara sukses jika kita mempunyai paradigma bahwa menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan. Niat di awal merupakan energi besar yang bisa membakar seluruh hasrat untuk berkarya.

Penulis yang karya-karyanya tersebar sekian luasnya mempunyai niat menulis yang kuat. Sebut saja B.J. Habibie yang menuliskan sebuah karya untuk memuaskan hasratnya. Novel beliau yang hampir dikenal semua orang ditulis untuk mengobati rasa kehilangan pada seorang kekasih yang sangat dicintainya. Selain Habibie, ada pula penulis yang jatuh cinta pada kegiatan menulis itu sendiri. Hidupnya didedikasikan untuk menulis karangan agar suatu saat bisa bermanfaat untuk umat. Sebut saja Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban, dan ulama muslim lainnya yang mengabdikan hidupnya untuk menulis.

Salah satu penulis hebat Eric Arthur Blair atau yang lebih dikenal dengan nama penanya George Orwell menuliskan empat alasan mengapa seseorang menulis. Pertama egoisme. Setiap penulis ingin terlihat cerdas, terkenal, dan dibicarakan banyak orang atau lebih jauh lagi karyanya dikenang meski dirinya telah tiada. Tidak diragukan lagi, manusia akan merasa senang bila bisa lebih unggul dibandingkan manusia yang lainnya. Pendapatnya di dengar dan dipertimbangkan banyak orang. Apalagi dirinya dikenal semua orang. Itu semua merupakan kesan yang tidak bisa dilupakan oleh seorang penulis.

BACA JUGA  Membagikan Pengetahuan Melalui Menulis

Kedua, Antusiasme estetik. Penulis menginginkan karyanya memberikan dampak yang luar biasa bagi umat manusia. Sebut saja kitab-kitab klasik di setiap pesantren yang selalu dijadikan rujukan dalam setiap acara musyawarah. Bahkan kitab yang ditulis oleh Al-Bukhari memberikan dampak yang luar biasa bagi tatanan hukum umat Islam. Dalam setiap pengambilan biasanya digunakan beberapa sumber hukum, dan hadits merupakan sumber hukum tertinggi nomer dua.

Contoh lain, misalnya pada karya novel yang diterbitkan oleh penulis terkenal. Ketika penulis membaca novel tersebut, terkadang pembaca merasakan sensasi yang dibuat oleh penulis. Pembaca masuk dalam dunia imaji yang sedari awal dibentuk oleh penulis. Oleh karenanya, ada pembaca yang kadang kala terlihat menangis saat membaca novel, ada pula pembaca yang tiba-tiba bersemangat setelah membaca beberapa cerita, dan ada pula pembaca yang bertobat dan berbuat baik setelah membaca beberapa kisah yang mulia.

BACA JUGA  Memburu Ide Sebelum Menulis Tulisan

Ketiga, dorongan historis, yaitu penulis menginginkan terciptanya pengetahuan yang luas hingga dirinya bisa memandang segala sesuatu secara netral. Dalam hal ini, kita diperlihatkan oleh penulis sekaligus ulama yang luar biasa yaitu Dr. M. Quraish Shihab. Beberapa tulisannya yang mengarah pada tatanan tertentu, selalu merujuk pada dua ulama yang berpendapat berbeda. Dengan luasnya ilmu, beliau mampu menjelaskan buah pemikiran ulama-ulama tersebut mengemukakan hukum seperti itu.

Keempat, tujuan politik. Penulis berkeinginan untuk menggiring seseorang mengikuti sudut pandang yang ada pada dirinya. Setiap penulis membuat suatu karya berdasarkan pemahaman yang ada pada dirinya. Sejauh mana materi yang ia pahami, maka sejauh itulah muatan tulisannya akan kita temui. Paling mudah kita temui pada tujuan penulisan ke empat ini adalah pada berita hoaks. Pada dasarnya berita hoaks ditujukan untuk menggiring opini publik untuk kepentingan si penulis itu sendiri. Publik yang tidak tahu menahu kebenaran berita tersebut, akan segera percaya pada opini yang diberikan penulis.

Empat alasan inilah yang pada umumnya ada pada diri seorang penulis. Empat alasan ini merupakan alasan yang umum pada setiap penulis. Setiap karya yang kita baca, mungkin ada satu ataupun lebih dari empat alasan yang sudah dikemukakan. Mungkin inilah alasan yang bisa diciptakan untuk memperbaiki niat agar tidak merasa bosan saat menuliskan karya. Nantinya semangat menulis dapat terbangun dan terus berlanjut hingga menghasilkan banyak karya.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru