32.1 C
Jakarta

Menghindari Sikap Ekstrem dalam Kontra Ekstremisme

Artikel Trending

KhazanahPerspektifMenghindari Sikap Ekstrem dalam Kontra Ekstremisme
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Menjadi seorang yang muslim moderat dalam beragama, merupakan hal yang cukup sulit, yakni ketika berbagai paham yang berbasis pada ekstremisme cukup gencar menyebarkan wacana, serta diskursus keagamaan yang mereka yakini. Ditambah lagi dengan tantangan sosial-politik yang turut andil dalam menciptakan gesekan dan pengelompokan di masyarakat.

Sehingga menjadi suatu tantangan tersendiri untuk tidak hanya menjadi pribadi atau individu yang moderat, namun juga mampu menebarkan moderatisme beragama yang rahmatan lil-‘alamin, disertai dengan jawaban atas wacana yang dilontarkan oleh kelompok-kelompok ekstrem.

Dalam melakukan upaya-upaya kontra-ektremisme sikap moderat tetap harus menjadi pegangan. Karena pada realita di lapangan, tidak jarang, upaya menanggulangi ekstremisme dan radikalisme keluar dari substansi, saking semangatnya, justru terjebak pada prilaku berlebihan, tidak obyektif, bahkan terkadang menyerang pribadi seseorang. Sehingga upaya kontra-ektremisme menjadi tidak efektif dan jauh dari membuahkan hasil.

Sikap moderat tidak hanya berhenti pada slogan dan kata-kata saja. Sikap moderat harus terwujudkan dalam seluruh prilaku seorang muslim dalam mendakwahkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Tidak hanya tercermin dalam sikap toleran (tasamuh), namun juga mampu bersikap obyektif, adil dan bijak (tawasuth, tawazun). Sehingga niatan untuk menyebarkan ajaran agama Islam dapat terhindar dari sikap ekstrem atau berlebihan.

Obyektivitas dalam Kontra-Ektremisme

Sikap obyektif dapat dikatakan sebagai salah satu kunci sukses segala hal. Sikap ini menggambarkan bagaimana seseorang melihat sesuatu sebagaimana adanya, bagaimana seseorang berlaku adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya, jujur, terhindar dari motif dan kepentingan-kepentingan yang tidak terkait dengan substansi itu sendiri.

Dalam upaya menangkal ektremisme dan radikalisme, obyektifitas juga merupakan salah satu kunci dalam suksesnya program ini. Obyektifitas menjadikan upaya kontra-ekstremisme dan deradikalisasi menjadi efektif, substantif, dan tepat pada pokok-pokok pemahaman ekstrem.

Penting untuk selalu meletakkan sikap obyektif sebagai dasar bagi upaya kontra-ektremisme, karena terkadang over-semangat dan emosi menjadikan upaya ini justru didominasi dengan nuansa kebencian. Bahkan bahasa yang digunakan terkadang beraroma ana khoirun minhu, kata-kata iblis menolak perintah Tuhan untuk memberi penghormatan pada Adam.

BACA JUGA  Metamorfosis Radikalisme Memanfaatkan Dualisme Relasi

Bahasa yang beraroma kesombongan. Ibarat jauh panggang dari api, hal semacam ini yang kemudian menjadikan usaha menangkal ekstremisme dan radikalisme tidak membuahkan hasil yang maksimal.

Islam mengajarkan bahwa perbedaan, atau dalam yang lebih tegas, bahwa rasa tidak suka atau benci pada orang lain, kelompok, atau bahkan pada pemahaman tertentu yang jelas-jelas menyimpang dari kebenaran hendaknya tidak membuat kita untuk berlaku sewenang-wenang, tidak adil, tidak obyektif, dan tidak jujur. Dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 8, Allah berfirman:

BACA JUGA  Tantangan Kontra Narasi Islamisme Pada Gerakan Hijrah Kaum Muda Muslim

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Allah mengingatkan kita agar selalu adil dalam menegakkan kebenaran, dan mampu mengendalikan rasa emosional agar rasa benci tidak menjadikan kita berlaku tidak adil. Jika rasa tidak suka dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka sebaliknya, rasa suka juga sangat mungkin membuat seseorang untuk berlaku tidak adil. Sehingga pengendalian emosi dan tetap mengedepankan rasionalitas juga menjadi penting untuk tetap bersikap adil dan obyektif.

Tujuan yang baik tidak lantas menjadikan kita bebas melakukan apapun tanpa memandang aturan-aturan etik. Dalam menegakkan kebenaran, mengajak pada pemahaman yang moderat dan menangkal paham-paham ekstrem-radikal, jalan keadilan, obyektif, tidak sewenang-wenang juga tetap harus jadi acuan. Tidak hanya agar upaya kontra-ekstremisme berhasil, tapi lebih dari itu, yakni agar kita tidak justru ikut terjebak pada sikap ekstrem dalam bentuk yang berbeda.

Darul Siswanto
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru